aldilah.bagas.d on December 19th, 2012

  1. Zatwarna supravital (Ex: Janus green, neutral red)
  2. Heterocyst; tidak memiliki aparantus fotosintetik, berdinding tebal dan besar
  3. KHCO3; Terang
  4. Alkohol; JKJ
  5. O2; CO2
  6. Putik; Hibiscus Schizopetalus
  7. Batu;     Semut, Rumput, Nyamuk
  8. Eutropis multifasciata,  Fejervarya sp    (ingat penulisan ilmiah yang benar)
  9. Filloid; Cauloid (Rhizoid itu menyerupai akar, Kelp alat pelekat)
  10. Bufo (bentuk elips berinti)

Homo (Bulat bikonkaf tidak berinti)

  1.  
  2. (a)Mukosa manusia (b) supravital
  3. (a) Plumula (calon daun )  (b) radikula (calon akar)
  4. Heterocyst (menambat nitrogen)
  5. (a) JKJ (b) Biru gelep
  6. (a) IOIA (b) IOIB / IAIB
  7. Sel gabus dan sel silica
  8. 1:2:1:2:4:2:1:2:1 (b) Chi square
  9. (a) Jumlah kloroplas, Umur daun dll (factor internal) (b) Amilum, H2O, O2
  10. Hydrilla Verticillata (b) Sirkulasi
  11. Plasma banyak, vakuola kecil, dinding sel belum kokoh
  12. Umbi lapis (rhizome = jahe, tunas daun = cocor bebek, umbi batang = kentang)
  13. Auriculae = daun telinga (b) glutea = pantat.. hafalkan juga bagian-bagian yang lain
  14. 9:3:3:1
  15. Chisquare
  16. Genetika
  17. Galur murni
  18. Alel
  19. Tubuler (tegak lurus epidermis, kalo di sacharum lameler = sejajar epidermis)
  20. Nikotiana tabbacum (Cuma ada yang glandule raja)
  21. Jaringan Tua
  22. Sklerenkim (paling tepi= epidermis, yg kaya muka itu pengangkut, sisanya= parenkim)
  23. Sel pendek ( sel gabus yg bulat, sel silica yang runcing)
  24. Jaringan penyokong, Pengangkut
  25. Tiroid mencit; selapis (ingat hanya selapis)
  26. Kapsula (lacuna hanya celahnya, sel tulang rawan = kondrosit)
  27. Ingat perbedaan sel darah bufo dan manusia
  28. Otot polos = diluar sadar, polos, tipis ][ Otot lurik = kesadaran, berserat, intisel diltepi, lurik2
  29. Unipolar =kaki 1; bipolar=kaki 2, multipolar= kaki>2, Piramida sel= g punya badan sel
  30. Sel epitel tersusun selapis bentuknya kubus
  31. INGAT KAIDAH PENULISAN NAMA ILMIAH YANG BENAR
  32. Genotipe = IAIA/IOIA
  33. Amilum; fotosintesis
  34. Glanduler (soalnya menghasilkan sekresi)
  35. Dendrite, akson, badan sel, sel sechwan
  36. Variasi tingkat Varian/Varietas
  37. Preferensi pakan, Jumlah mansga, jumlah predator
  38. Terrestrial; akuatik
  39. Spesies = 4 (kalo individu baru 14) populasi = 4 juga (ingat definisinya)
  40. Lensa objektiv….. Sumber cahaya; mengatur cahaya; lensa cembung
  41. Sel-sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama
  42. Definisi fotosintesis = pembentukan amilum, metabolism (anabolisme atau katabolisme hayo)
  43. Menyerap CO2 (absorbantnya adalah KOH bukan KHCO3)
  44. 121242121; Definisi alel ada di atas; hybrid : persilangan 2 sifat beda
  45. B (kalau anti a menggumpal berarti darahnya A, kalo anti B yg menggumpal berarti darahnya B)
  46. Sel silica, sel gabus, sel panjang;     Sel gabus (yang seperti ada intinya itu sel silica)
  47. Pogonatum sp; sporangium, sporangiofor dan Spora
  48. Xylem, Floem,
  49. Sargassum sp; filloid; cauloid
  50. Otot lurik; isotrop = terang, anisotropy=gelap
  51. Capsicum frutescens, Septum (batas ruang ovulum)
  52. Giant sel; ovulum (lapisannya ada 3 mesokarp endocarp, eksokarp)
  53. Mata=organon visus; punggung=dorsum; kaki belakang = ekstremitas posterior
  54. Kotiledon, kotiledon
  55. Rhizome; benangsari
  56. Definisi evolusi; pemangsaan/bencana, yang adaptif yang akan tinggal
  57. Definisi plasmanutfah; factor lingkungan
  58. Komunitas= sekumpulan populasi dalam tempat dan waktu yang sama (ingat definisi individu dan ekosistem juga). Akuatik= perairan, terrestrial=daratan
  59. Tepala = 4  (bagian bunga yang tidak bias dibedakan antara putik dan benangsari)
  60. Sporofil dan tropofil
  61. Lihat buku (PERBEDAAN GYMNOS DAN ANGIOS)
  62. Sudah tau lah ya
  63. Perkembangan irreversible
  64. Pertambahan berat, panjang, massa, volume dsb
  65. Lihat buku
  66. Meiosis dan fertilisasi
  67. Morula (fasenya : egg-calvage(pembelahan)-Morula (terbentuk 32 sel)-Blastula (terbentuk mikromer dan makromere)-Gastrula(terbentuk labium dorsal)-Neurula (pembentukan Neural plate)-Tailbud (pembentukan kuntum ekor)-Menetas
  68. Umbi batang, umbi akar, geragih, akar tinggal, umbi lapis , tunas akar, tunas daun
  69. BACA BUKU……
aldilah.bagas.d on December 19th, 2012

1. alat laboratorium yang digunakan untuk mengamati benda hidup atau mati yang berukuran mikro tau sediaan mikroskopis.

2 a. M. cahaya

b. M. Elektron

3. a mengatur banyaknya cahay yang masuk ke teropong/lensa

b. memusatkan berkas cahaya yang masuk ke lensa

4. a. Rotasi

b. Sirkulasi

5. a Supravital

b. Janus green B dan Neutral Red

6. a. heterocyt

b. Menambat nitrogen

c. Anabaena sp. simbiosis Azola pinnata

7. organ vegetatif & reproduksi

8. a. parenkim

b. sklerenkim

9. Repirasi

10. liat dibuku

11.a Intensitas caya dan kadar CO 2

b. katalisator

12.a Respirasi aerob

b. Respirasi anaerob

13. a. 1:2:1:2:4:2:1:2:1

b. 1:2:1

14. a. Galur murni

b. gen

c. Allel

15.a. aglutinogen

b. antigen A, dan anti gen B

16. O

17. a. jar. Embrional & Jar. Dewasa

b. jar. dewasa

18. a.Nicotiana tabaccum (Tembakau)

b. bedanya??

19. Sel silika & sel gabus

20. parenkim, trakea, trakeida, serabut xylem

21. maserasi

22. a. Septum

b. Sel raksasa

23. Tunas, umbi lapis, umbi akar, umbi batang, rhizoma,

24.a. Tropofil/ steril

b. Sporofil

25. ganda

26. gen

27. sel kipas

28. Sargassum, sargassaceae

29.epitelium, pengikat/penyokong, otot,dan saraf

30. a. Kondrosit

b. Lakuna

31. elips

32.a sirip dada ( pectoral), dan sirip perut (pelvic)

b. sirip punggung (dorsal), sirip anal dan sirip ekor

33. kelenjar tiroid mencit

34. Khitin

35. a. Mabouya multifasciata

b. porus acousticus externus

c. Hidung

36. a. Hewan berdarah dingin (Poikiloterm) contoh, pisces, amfibi, reptilia.

b. Hewan berdarah panas (Homoioterm) contoh ; mamalia, aves

37. 4

38. Segmentasi – blastula- gastrula- neurula-menetas-perkembangan larva.

39.a. Pertumbuhan

b. Perkembangan

40. Polinasi

41. Pembuahan ganda

42. a. Evolusi

b. Progresif

c. Retrogresif

43. Rekombinasi gen, Mutasi, Isolasi genetik, Aliran gen, Seleksi alam.

44. Mutasi

45. Spesies

46. Spiraculum

47. Variasi genotipik

48. Ekologi

49.Komunitas

50. a. Biotik

b. Abiotik

51. Terestrial dan aquatik

52. Radikula

53. Tepala

54. a. Filoid

b. Rhizoid

55. a. memberi warna pada daun

b. untuk menetralkan atau melarutkan amilum

56. Membrana thympani

57. Seleksi Alam

58. Penurunan

59. Genus

60. Obyektif

aldilah.bagas.d on December 19th, 2012

ABSTRAK

 

Saat ini Indonesia masih mengimpor eksipien untuk memenuhi 100 % kebutuhan industri farmasi, salah satunya adalah amilum atau pati yang merupakan eksipien utama dalam sediaan tablet.  Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi pati tropis yang dapat dihasilkan dari umbi-umbian lokal yang merupakan sumber utama penghasil amilum. Dari studi yang telah dilakukan ternyata pisang kapok (Musa paradisiacca) , ubi jalar (Ipomea batatas, L), singkong (Manihot utilissima, Pohl) dan jagung (Zea mays, L) ternyata berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai eksipien sediaan tablet sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur dalam formulasi tablet asetaminofen. Dari uji karakterisasi fisikokimia diperoleh hasil bahwa amilum yang diperoleh dari pisang kepok, ubi jalar, singkong dan jagung semuanya memenuhi persyaratan sebagai eksipien untuk sediaan tablet, namun dari uji sifat alir tidak memenuhi persyaratan sebagai eksipien untuk tablet yang dimanufaktur secara langsung (direct compression). Amilum yang diperoleh dari bahan-bahan diatas dicoba dikembangkan menjadi sediaan tablet yang berfungsi sebagai bahan penghancur dan bahan pengikat dengan menggunakan asetaminofen sebagai zat aktif yang dibuat dengan teknik granulasi basah. Ternyata tablet yang dihasilkan memenuhi persyaratan sifat fisik tablet yang baik dan termasuk uji disolusinya. Dengan demikian, amilum yang diperoleh dari pisang kepok, ubi jalar, singkong dan jagung memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi eksipien untuk sediaan tablet.

 

Kata kunci : amilum, pisang kepok, ubi jalar, singkong, jagung, asetaminofen.

 

 

PENDAHULUAN

            Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak menghasilkan umbi-umbian  yang potensial dapat dapat diproses untuk menghasilkan amilum. Amilum bisa diperoleh dari  jagung (Zea mays), kentang (Solanum tuberosum), singkong (Manihot utilissima Pohl) dan gandum (USP30-NF25) (Anonim, 2007). Sayangnya, amilum sampai saat ini masih diimpor untuk memenuhi kebutuhan di industri farmasi. Amilum merupakan bahan tambahan/eksipien yang penting dalam formulasi sediaan tablet yang berfungsi sebagai bahan pengisi, bahan pengikat dan bahan penghancur (Swabrick, 2007).

Di pasaran telah tersedia amilum yang diproses dari singkong (Manihot utilissima Pohl), yang dikenal dengan Amprotab. Amprotab telah digunakan secara luas sebagai bahan pengisi, bahan pengikat dan bahan penghancur untuk formulasi sediaan tablet. Saat ini telah dilakukan berbagai upaya untuk mengembangkan amilum dari bahan baku dari umbi-umbian lokal  sebagai bahan tambahan dalam formulasi sediaan tablet yang diproses dari pisang kepok (Syukri et al, 2009), jagung (Syukri et al, 2009), singkong (Muliani, 2008) dan ubi jalar (Fittasari, 2008) yang berfungsi sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur.  Amilum dari berbagai sumber juga telah dievaluasi yang bisa digunakan sebagai bahan pengikat yang diperoleh dari jagung dan pisang (Olufenke, 2005) dan juga diperoleh dari jahe (Ibezim, 2008). Berikut juga dilakukan memodifikasi amilum yang diproses dari beras untuk mendapatkan amilum yang memiliki kompresibilitas yang baik sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan tambahan dalam formulasi tablet secara kempa langsung (Zang et al, 2003).

Singkong, pisang kepok, jagung dan ubi jalar relatif sangat mudah diperoleh karena tanaman ini sangat cocok tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Semua tanaman ini saat ini memiliki nilai ekonomi yang rendah. Pati singkong sudah sejak lama diproduksi di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang diproduksi dengan kualitas pharmaceutical grade. Karena kegunaannya untuk makanan juga banyak maka manfaatnya dalam bidang farmasi terabaikan. Amilum singkong sudah sejak lama diproduksi di berbagai daerah di Indonesia, akan tetapi hanya sebagian kecil saja yang diproduksi dengan kualitas pharmaceutical grade. Karena kegunaannya untuk makanan juga banyak maka manfaatnya dalam bidang farmasi terabaikan. Dengan diprosesnya tanaman ini menjadi amilum dan dikembangkan menjadi eksipien dalam formulasi sediaan tablet diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonominya.

Setelah diproses menjadi amilum dilakukan evaluasi karakteristik fisikokimianya meliputi sifat alir, kelarutan, ukuran partikel, bulk dan tap density, rasio Hausner, indek compresibilitas dan kandungan lembab. Berikut di formulasi menjadi sediaan tablet dengan menggunakan asetaminofen sebagai model obat dan amilum yang diperoleh di evaluasi untuk menilai kemampuannya sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur.

 

AMILUM

Amilum merupakan salah satu eksipien yang paling banyak digunakan dalam industry farmasi karena memiliki sifat sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur. Amilum merupakan polimer dengan rumus molekul (C6H10O5)n, dimana nilai n dari 300 sampai 1000. Secara umum amilum terdiri dari 2 jenis dari dari polimer D-glukopiranosa yang dikenal sebagai amilosa dan amilopektin. Amilosa merupakan polimer linear dari glukopiranosil sedangkan amilopektin polimer bercabang, sebagaimana gambar 1 dibawah ini (Swabrick, 2007).

 

 

A

 

 

 

 

 

B

 

 

 

 

 

 

 

                                    Bagian dari molekul amilopektin

Gambar 1. (A) Molekul amilosa linear dan (B) molekul amilopektin bercabang (Rowe, 2006).

 

Amilum mengandung kira-kira 30 % amilosa dan sifat-sifatnya ditentukan oleh ukuran dan jumlah masing-masing jenis molekul polimer yang terdapat pada material. Amilum secara luas digunakan pada industri farmasi dengan alasan mudah didapat, murah, putih dan inert. Amilum bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengikat dan penghancur pada tablet dan kapsul. Fungsinya tergantung pada bagaimana amilum diinkorporasi ke dalam formulasi. Amilum akan berfungsi sebagai bahan penghancur apabila ditambahkan secara kering sebelum penambahan lubrikan. Amilum berfungsi sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur apabila ditambahkan dalam bentuk pasta atau kering sebelum digranul dengan komponen yang lain. Telah dilaporkan bahwa amilum mengalami deformasi plasstik selama kompresi, tetapi sifat ini tergantung pada ukuran, distribusi ukuran dan bentuk partikel (Swabrick, 2007).

Amilum juga berfungsi sebagai bahan penghancur karena granulnya mampu mengembang apabila kontak dengan air dan amilosa merupakan komponen yang memiliki sifat sebagai bahan penghancur karena kemampuannya untuk mengembang. Mekanisme kedua yang membuktikan aksi sebagai bahan penghancur amilum dalam tablet adalah aksi kapiler yang lebih dominan dari pengembangan. Mekanisme ketiga adalah berdasarkan pada gaya tolak antar partikel antara konstituen tablet apabila kontak dengan air dan bagian hidrofilik dari amilum Swabrick, 2007).

 

Karakteristik fisikokimia dari beberapa amilum lokal.

Berikut adalah karakteristik fisikokimia beberapa amilum yang berasal dari sumber lokal meliputi pisang kepok, jagung, singkong dan ubi jalar.

Tabel I. Karakteristik fisikokimia amilum pisang kepok dan jagung dibandingkan dengan Amprotab (Syukri, et al, 2009)

No. Karakteristik Amilum pisang kepok Amilum jagung Amprotab
1. Organoleptik Serbuk halus, putih, tidak berbau dan tidak berasa Serbuk kasar, coklat kekuningan, tidak berasa dan tidak berwarna. Serbuk halus, putih, tidak berbau dan tidak berasa
2. Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air
3. Ukuran partikel (µm) 1,01 – 2,00 0,51 – 1,00 1,01 – 2,00
4. Sudut diam (o) 11,66 10,10 -
5. Bulk Density (g/ml) 0,52 0,48 0,47
6. Tap density (g/ml) 0,75 0,64 0,64
7. Hausner ratio 1,44 1,33 1,36
8. Carrs Index yin yang 30,00 37,80 27,23
9. Kandungan lembab yin yang 13,48 9,21 11,10

 

Tabel II. Karakteristik fisikokimia amilum singkong dan ubi jalar dibandingkan dengan Amprotab  (Muliani dan Fittasari, 2008)

No. Karakteristik Amilum singkong Amilum ubi jalar Amprotab
1. Organoleptik Serbuk halus, putih, tidak berbau dan tidak berasa Serbuk kasar, coklat kekuningan, tidak berasa dan tidak berwarna. Serbuk halus, putih, tidak berbau dan tidak berasa
2. Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air Praktis tidak larut dalam etanol (95 %) dan air
3. Ukuran partikel (µm) 1,01 – 1,50 1,01 – 1,50 1,01 – 2,00
4. Sudut diam (o) - - -
5. Bulk Density (g/ml) 0,61 0,46 0,47
6. Tap density (g/ml) 0,83 0,83 0,64
7. Hausner ratio 1,36 1,80 1,36
8. Carrs Index yin yang 26,51 27,41 27,23
9. Kandungan lembab yin yang 10,78 12,56 11,10

 

Dari tabel diatas terlihat bahwa sifat organoleptik dari amilum pisang kepok, amilum singkong, amilum ubi jalar dan Amprotab adalah sama yaitu berupa serbuk halus, putih, tidak berasa dan tidak berwarna, tetapi untuk amilum jagung berupa serbuk kasar. . Ukuran partikel dari amilum pisang kepok berada dalam rentang 1,01 – 2,00 µm, amilum jagung 0,51 – 1,00 µm, amilum singkong dan amilum ubi jalar 1,01 – 1,50 µm sehingga memiliki karakter yang hampir sama dengan Amprotab.

Sudut diam menujukkan sifat kohesifnes dan kemampuan mengalir dari serbuk. Sudut diam yang rendah menunjukkan serbuk memiliki kehesifnes yang kecil sehingga memiliki kemampuan mengalir yang baik (Well, JI, et al, 1996).  Amilum dari pisang kepok memiliki sudut diam 11,66, amilum jagung 10,10, sedangkan amilum singkong, amilum ubi jalar dan Amprotab tidak mampu mengalir. Dengan demikian sifat alir dari amilum pisang kepok dan amilum jagung lebih bagus dibandingkan dengan amilum singkong, amilum ubi jalar dan Amprotab.

Hauner rasio merupakan perbandingan rasio tap density dengan bulk density yang menunjukkan porositas dan kemampuan serbuk dalam menata diri selama proses pencetakan tablet. Semakin tinggi rasio semakin besar porositas sehingga mengakibatkan tablet yang dihasilkan tidak memiliki bobot dan kesaragaman kandungan zat aktif yang seragam. Sifat alir dari serbuk sangat penting untuk menentukan apakah tablet bisa di proses secara kempa langsung dengan eksipien. Sudut diam, Hausner index, Carr’s compressibility dapat dipertimbangkan sebagai pengukuran sifat alir secara tidak langsung. Hauner index menunjukkan interaksi antar partikel sedangkan Carr’s index menunjukkan kemampuan material berkurang volumenya selama proses.  Secara umum Hausner rasio yang lebih besar dari 1,25 menunjukkan serbuk mengalir tidak baik, Carr’s compressilibility index dibawah 16 % menunjukkan serbuk mengalir dengan bagus sedangkan jika nilainya diatas 35 % menunjukkan serbuk cohesifnes (Ohwoavworhua, et al, 2005). Secara umum sifat alir dari amilum pisang kepok dan amilum jagung tidak bagus sehingga dibutuhkan glidan untuk memperbaiki sifat alir dalam proses penbuatan tablet.

Kandungan lembab amilum pisang kepok adalah 13,48 %, sedikit diatas Amprotab yaitu 11,10 %. Sedangkan kandungan lembab amilum jagung 9,21 %, amilum singkong 10,78 % dan amilum ubi jalar 12,56 %. Sehingga amilum pisang kepok butuh pengeringan lebih lanjut apabila dijadikan sebagai eksipien dalam formulasi obat yang peka dengan lembab seperti aspirin.

 

Potensi beberepa amilum lokal sebagai bahan pengikat dan bahan penghancur. 

Tablet yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1) penampilan menarik dan bebas dari kerusakan seperti pecah pada bagian sisinya, retak, perubahan warna dan kontaminan, (2) memiliki kekuatan mekanik untuk menahan goncangan selama proses manufaktur, pengemasan, distribusi dan dispensing pada pasien, (3) stabil secara fisik dan kimia dalam waktu yang lama dan (4) harus mampu melepaskan zat aktif dalam tubuh dalam waktu yang bisa diprediksi. Dengan demikian semua evaluasi diarahkan untuk menghasilkan tablet dengan sifat yang baik ini, misalnya uji kekerasan dan kerapuhan bertujuan supaya tablet tahan terhadap goncangan mekanik selama proses manufaktur sampai pada pasien sedangkan uji disintegrasi dan disolusi bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan obat lepas dalam tubuh dan mampu diabsorpsi menuju sirkulasi sistemik.

 

Potensi amilum pisang kepok sebagai bahan penghancur

Berikut adalah potensi amilum pisang kepok sebagai bahan pengisi dan pengikat dalam formulasi tablet asetaminofen. Amprotab digunakan sebagai pembanding. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah.

Tabel IV. Formula Tablet asetaminofen dengan bahan penghancur amilum pisang kepok (Handayani, 2009)

Bahan Jumlah
Asetaminofen (mg) 500
Gelatin (%) 10
Amilum pisang kepok atau Amprotab (mg) 32,5 ; 65 ; 97,5 ; 130
Lactosa (mg) 111 ; 78,5 ; 46 ; 13,5
Magnesium stearat (mg) 6,5

 

 

Berikut adalah hasil evaluasi sifat fisik amilum pisang kepok sebagai bahan penghancur pada tablet asetaminifen.

Tabel  V. Data hasil uji sifat fisik tablet acetaminophen dengan bahan penghancur Pati Pisang Kepok dan Amprotab (Handayani, 2009)

Bahan penghancur

F

Keseragaman

Bobot (mg)

X ± SD

CV

yin yang

Kekerasan (kg/cm2)

X ± SD

Kerapuhan yin yang

X ± SD

Waktu

Hancur (menit)

X ± SD

Pati Pisang

Kepok

I

II

III

IV

0,65±0.001

0,65±0.002

0,65±0.002

0,65±0.001

0,21

0,27

0,24

0,21

9,33±0,91

8,83±0,75

8,36±1,26

8,31±0,89

0,12±0,01

0,09±0,02

0,09±0,02

0,08±0,01

10,12±0,21

7,31±0,01

2,49±0,02

2,15±0,04

Amprotab

V

VI

VII

VIII

0,65±0.005

0,65±0.003

0,65±0.004

0,65±0.003

0,70

0,54

0,59

0,43

9,09±0,48

8,67±1,3

8,21±1,32

7,85± 0,58

0,11±0,03

0,12±0,03

0,15±0,01

0,18±0,04

6,25±0,06

3,42±0,02

3,18±0,02

3,13±0,25

Keterangan:

Formula I              : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 5%

Formula II            : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 10%

Formula III           : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 15%

Formula IV           : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 20%

Formula V             : bahan pengancur Amprotab dengan kosentrasi 5%

Formula VI           : bahan pengancur Amprotab dengan kosentrasi 10%

Formula VII         : bahan pengancur Amprotab dengan kosentrasi 15%

Formula VIII        : bahan pengancur Amprotab dengan kosentrasi 20%

 

Dari tabel V diatas diperoleh bahwa tablet asetaminofen yang menggunakan pati pisang kepok memenuhi persyaratan keseragaman bobot (% CV dibawah 5 %), kekerasan yang konsisten, kerapuhan kurang dari 0,8 % dan waktu hancur kurang dari 15 menit. Jika dibandingkan dengan Amprotab tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Berikut adalah profil disolusi dari tablet asetaminofen menggunakan pati amilum pisang kepok sebagai bahan penghancur (Handayani, 2009).

Gambar 2. Grafik hubungan antara waktu dan kadar zat aktif terlarut

Keterangan:

Formula I              : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 5%

Formula II            : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 10%

Formula III           : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 15%

Formula IV           : bahan pengancur Pati Pisang Kepok dengan kosentrasi 20%

Amprotab             : bahan pengancur Amprotab dengan kosentrasi 20%

Inovator                               : pembanding dari sediaan yang ada dipasaran

 

Dari data diatas diperoleh bahwa tablet yang mengandung amilum pati singkong sebagai bahan pengisi dengan konsentrasi 15 % dan 20 % memenuhi persyaratan disolusi tablet (disolusi pada menit ke 30 lebih dari 80 %). Hasil ini tidak jauh berbeda dengan tablet yang diformulasi menggunakan Amprotab sebagai bahan penghancur dan salah satu produk innovator yang ada di pasaran.

 

Potensi amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat

Berikut adalah formula tablet yang mengandung amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat.

Tabel VI. Formula Tablet asetaminofen 500 mg dengan bahan pengikat amilum pisang kepok

Bahan Jumlah
Asetaminofen (mg) 500
Bahan pengikat *) (%) 5, 10, 15, 20
Primojel (mg) 32,5
Laktosa (mg) 111
Magnesium stearat (mg) 6,5

     *) Bahan pengikat, amilum pisang kepok atau Amprotab

 

Berikut adalah hasil evaluasi sifat fisik tablet asetaminifen menggunakan amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat.

Tabel VII. Data hasil pemeriksaan fisik tablet asetaminofen dengan bahan pengikat pati pisang kepok dan Amprotab (Rahayu, 2009)

Parameter

Formula

 

Pati

Amprotab

 

F1

F2

F3

F4

F5

F6

F7

F8

Keseragaman bobot(mg)

652,2

±6,41

653,3

±5,55

650,3

±5,31

654

±5,41

654,3

±4,8

651,3

±5,06

650,6

±6,56

648,05

±4,76

CV yin yang

0,98

0,85

0,82

0,83

0,73

0,78

1,01

0,74

Kekerasan (kg/cm2)

4,96

±0,46

5,74

±0,95

6,33

±0,66

6,66

±0,66

6,65

±0,73

7,74

±0,69

6,45

±0,76

6,78

±1,01

Kerapuhan yin yang

0,71

±0,38

0,84

±0,74

0,75

±1,05

0,25

±0,37

0,7

±0,39

0,29

±0,05

0,58

±0,34

0,34

±0,09

Waktu hancur (menit)

6,79

±0,03

6,94

±0,09

6,53

±0,74

9,89

±0,88

1,03

±0,09

1,36

±0,11

2,92

±0,14

5,34

±0,18

Keterangan:

Formula 1             : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 5%

Formula 2             : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 10%

Formula 3             : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 15%

Formula 4             : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 20%

Formula 5             : bahan pengikat Amprotab 5%

Formula 6             : bahan pengikat Amprotab 10%

Formula 7             : bahan p pengikat Amprotab 15%

Formula 8             : bahan pengikat Amprotab 20%

 

Dari data diatas diperoleh bahwa tablet asetaminofen yang dihasilkan menggunakan amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat memenuhi persyaratan sifat fisik yang baik meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan dan waktu hancur.

Berikut adalah profil disolusi dari tablet asetaminofen yang mengandung amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat (Rahayu, 2009).

Gambar 3. Grafik %terdisolusi tablet asetaminofen

Keterangan:

Formula 1   : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 5%

Formula 2   : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 10%

Formula 3   : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 15%

Formula 4   : bahan pengikat Pati Pisang Kepok 20%

Amprotab   : bahan pengikat Amprotab 10%

Inovator      : Tablet asetaminofen yang beredar di pasaran

 

Dari data diatas diproleh bahwa semua formula tablet asetamnifen yang mengandung amilum pisang kepok sebagai bahan pengikat memenuhi persyaratan.

 

Potensi amilum singkong sebagai bahan penghancur

Berikut adalah data potensi amilum singkong sebagai bahan penghacur pada sediaan tablet asetamnofen meliputi hasil evaluasi sifat fisik dan kimia tablet termasuk profil disolusinya

Tabel VIII. Hasil pemeriksaan sifat fisik tablet asetaminofen dengan  bahan penghancur pati singkong (Medisa, 2009)

Parameter

Formula

Pati

Amprotab

F1

F2

F3

F4

F5

F6

F7

F8

Keseragaman bobot (mg)

655,15

656,30

654

654,15

656,10

653,90

655,70

652,45

CV yin yang

0,75

1,01

0,76

0,84

0,49

0,60

0,64

0,56

Kekerasan

(kg/cm2)

7,40

6,61

7,64

7,58

6,25

7,38

7,17

6,84

Kerapuhan

yin yang

0,35

0,41

0,44

0,55

1,43

1,47

0,37

0,42

Waktu hancur (mnt)

11,34

4,49

5,87

3,53

5,59

3,50

3,65

2,79

Keterangan:

F1 : bahan penghancur Pati Singkong 5%                     F5 : bahan penghancur Amprotab 5 %

F2 : bahan penghancur Pati Singkong 10%                   F6 : bahan penghancur Amprotab 10%

F3 : bahan penghancur Pati Singkong 15%                   F7 : bahan penghancur Amprotab 15%

F4 : bahan penghancur Pati Singkong 20%                   F8 : bahan penghancur Amprotab 20%

 

 

Profil uji disolusi dari data di atas dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini (Medisa, 2009):

Gambar 4. Grafik hubungan antara waktu dan kadar zat aktif terlarut

Keterangan:

F1 : bahan penghancur Pati Singkong 5%                     F5 : bahan penghancur Amprotab 20 %

F2 : bahan penghancur Pati Singkong 10%                   Panadol : innovator

F3 : bahan penghancur Pati Singkong 15%

F4 : bahan penghancur Pati Singkong 20%

 

 

Dari data diatas tablet asetaminofen yang di formula menggunakan amilum pati singkong sebagai bahan penghancur memenuhi sifat fisik dan kima persyaratan tablet yang baik termasuk uji disolusinya.

 

Potensi amilum singkong sebagai bahan pengikat

Berikut adalah data evaluasi sifat fisik termasuk kimia dan profil disolusi tablet asetaminofen yang di formula menggunakan amilum singkong sebagai bahan pengikat.

Tabel IX. Hasil pemeriksaan kualitas tablet dengan bahan pengikat pati singkong dan Amprotab (Syukri, et al, 2009)

Parameter

Formula

Pati Singkong

Amprotab

I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

Kekerasan (kg/cm2) 8,76 ±1,36 8,48

±1,49

7,68

±0,99

8,25

±1,59

6,42

±0,91

7,36

±0,66

7,36

±1,14

6,51

±0,62

Kerapuhan yin yang 0,73

±0,28

0,64

±0,16

0,29

±0,11

0,33

±0,04

0,55

±0,02

0,29

±0,14

0,4

±0,14

0,61

±0,07

Waktu Hancur (menit) 1,78

±0,24

1,67

±0,15

 

1,83

±0,03

 

1,29

±0,13

 

1,22

±0,07

 

1,62

±0,12

 

1,62

±0,04

 

0,92

±0,04

 

Bobot rata-rata (mg) 651,35

±6,64

656,70

±5,46

653,65

±8,34

652,15

±4,41

654,35

±5,10

660,85

±5,52

649,70

±4,8

652,35

±4,68

CV yin yang 1,02 0,83 1,28 0,68 0,78 0,84 0,75 0,70

 

 

Keterangan :

FI            = bahan pengikat pati singkong 5% (b/v)       FV  = bahan pengikat amprotab 5% (b/v)

FII          = bahan pengikat pati singkong 10% (b/v)    FVI = bahan pengikat amprotab 10% (b/v)

FIII         = bahan pengikat pati singkong 15% (b/v)    FVII = bahan pengikat amprotab 15% (b/v)

FIV         = bahan pengikat pati singkong 20% (b/v)    FVIII = bahan pengikat amprotab 20% (b/v)

 

Berikut adalah profil disolusi tablet asetaminofen yang di formula menggunakan pati singkong sebagai bahan pengikat (Syukri, et al, 2009).

Gambar 5. Grafik hubungan antara waktu dan kadar zat aktif terlarut

       Keterangan :

FI                   = bahan pengikat pati singkong konsentrasi 5% (b/v)

FII                 = bahan pengikat pati singkong konsentrasi 10% (b/v)

FIII               = bahan pengikat pati singkong konsentrasi 15% (b/v)

FIV                = bahan pengikat pati singkong konsentrasi 20% (b/v)

         Amprotab    = bahan pengikat amprotab konsentrasi 10% (b/v)

Inovator       = pembanding dari sediaan yang ada di pasaran

 

Dari data diatas tablet asetaminofen yang di formula menggunakan amilum singkong sebagai bahan pengikat memenuhi sifat fisik dan kima persyaratan tablet yang baik termasuk uji disolusinya.

 

Potensi amilum ubi jalar sebagai bahan pengikat

Potensi amilum ubi jalar sebagai bahan pengikat pada tablet asetamnofen meliputi evaluasi sifat fisik, kimia dan profil disolusi dapat dilihat pada data sebagai berikut :

Tabel X. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Tablet Asetaminofen (500 mg) dengan Bahan Pengikat Amilum Ubi Jalar dan Amprotab (Putriyati, 2009)

Formula

Sifat Fisik Tablet

Bobot

rata-rata (mg)

CV

yin yang

Kekerasan

(Kg)

Kerapuhan

yin yang

Waktu hancur (menit)

1

650,55 ±11,33

1,74

6,15±0,72

0,39±0,06

2,54±0,17

2

659,85 ± 8,06

1,22

5,87±0,75

0,49±0,15

1,94±0,01

3

655,25±6,91

1,05

6,64±0,58

0,36±0,08

6,78±0,56

4

654,85±6,81

1,04

6,12±0,72

0,45±0,05

1,89±0,24

5

647,55±4,06

0,63

5,58±0,53

0,44±0,07

0,97±0,14

6

654,05±5,72

0,87

6,36±0,60

0,29±0,07

1,75±0,18

7

654,15±5,52

0,84

6,70±0,50

0,30±0,07

3,18±0,47

8

654,60±4,47

0,68

6,43±0,38

0,34±0,08

1,97±0,19

Keterangan :

Formula 1             : dengan bahan pengikat amilum ubi jalar 5 %

Formula 2             : dengan bahan pengikat amilum ubi jalar10 %

Formula 3             : dengan bahan pengikat amilum ubi jalar 15 %

Formula 4             : dengan bahan pengikat amilum ubi jalar 20 %

Formula 5             : dengan bahan pengikat Amprotab 5 %   (pembanding)

Formula 6             : dengan bahan pengikat Amprotab 10 % (pembanding)

Formula 7             : dengan bahan pengikat Amprotab 15 % (pembanding)

Formula 8             : dengan bahan pengikat Amprotab 20 % (pembanding

 

Sedangkan profil disolusinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini (Putriyati, 2009).

 

Gambar 6. Profil disolusi tablet asetaminofen (500 mg) dengan variasi kadar amilum ubi jalar dan Amprotab sebagai pengikat serta inovator sebagai pembanding

Sama dengan hasil sebelumnya bahwa tablet asetaminofen yang di formula menggunakan amilum ubi jalar sebagai bahan pengikat memenuhi sifat fisik dan kima persyaratan tablet yang baik termasuk uji disolusinya.

 

KESIMPULAN

  1. Karakteristik fisikokimia amilum pisang kepok, amilum jagung, amilum singkong dan amilum ubi jalar memenuhi persyaratan untuk dikembangkan menjadi bahan penghancur dan bahan pengikat pada tablet yang dibuat dengan teknik granulasi.
  2. Tablet asetaminofen yang dibuat dengan menggunakan amilum pisang kepok, amilum singkong dan amilum ubi jalar sebagai bahan penghancur dan bahan pengikat memenuhi persyaratan sifat fisik, kimia dan disolusi tablet.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995, Farmakope Indonesia,  Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 649-651, 515, 771

Anonim., 2007, The United State Pharmacopeia-National Formulary,Thirthy Revision, Washington Dc, 242,643,1269

Fitasari,G., 2008, Karakterisasi Fisikokimia Pati Tropis Ubi Jalar (Ipomoea batatas, L) Sebagai Bahan Tambahan Dalam Formulasi Tablet, Skripsi, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Muliani, H., 2008, Karakterisasi Fisikomekanik Amilum Singkong (Manihot utillisima, Pohl) sebagai Bahan Tambahan dalam Formulasi sediaan Farmasi, Skripsi, Jurusan Farmasi FMPA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Handayani, D., 2009, Potensi Pati Pisang Kepok (Musa paradisiacal) sebagai bahan Penghancur dalam Formulasi Tablet Asetaminofen, Skripsi, Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Ibezim, E.C, et all. 2008. “The Role of Ginger Starch as a Binder in Acetaminophen Tablets” : African Journal of Pharmacy and Pharmacology Vol. 3, University of Nigeria

 

Medisa, D., 2009, Potensi Pati Singkong (Manihot utillissima, Pohl) sebagai bahan Penghancur dalam Formulasi Tablet Asetaminofen, Skripsi, Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

 

Olufunke D. Akin-Ajani, Oludele A. Itiola, and Oluwatoyin A. Odeku, 2005, Effects of Plantain  and Corn  Starches  on the Mechanical  and Disintegration Properties  of Paracetamol Tablets, AAPS PharmSciTech ; 6 (3) Article 57, available online at http://www.aapspharmscitech.org

Ohwoavworhua, F. O., Adelakun, T. A., 2005, Some Physical Characteristics of Microcrystalline Cellulose Obtained from Raw Cotton of Cochlospermum planchonii, Trop. J. Pharm. Res. 4 (2) : 501-507

Rahayu, 2009, Potensi Pati Pisang Kepok (Musa paradisiacal) sebagai bahan Pengikat dalam Formulasi Tablet Asetaminofen, Skripsi, Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

 

Putriyati, AF., 2009, Potensi Amilum Ubi Jalar (Ipomea batatas, L) sebagai bahan Pengikat dalam Formulasi Tablet Asetaminofen, Skripsi, Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Rowe, R.C., Sheskey, P.J and Owen, S.C., 2006, The Handbokk of Pharmaceutical Excipients, Pharmaceutical Press and the American Pharmacists Association

Swabrick, J (ed), 2007, Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, third edition, Informa Healthcare, USA, Inc

Well JI and Aulton ME, Preformulation. In: Aulton ME (Ed). Pharmaceutics –The Science of Dosage form Design. Churchill Livingston, 1996, pp 223 -253

Syukri, Y., Ningsih, T.R., Prabawa, H., 2009., The effect of Cassava Starch (Manihot utilissima, Pohl.) as a Binder on Physicochemical Characteristics of Acetaminophen Tablet Formulation, Proceeding International Confererence, Jogjakarta

Syukri, Y., Dewi, R., Firdaus, F., The Phsycomechanical Characteristics of Corn Starch (Zea mays, L) as Excipients in Solid Dosage Form Formulation, Proceeding International Conference, MIPS, Makassar

Syukri, Y., Saefulah, A., Firdaus, F., 2009, The Physicochemical Characteristics of Starch from White Kepok Bananas (Musa Pradisiaca) as Excipients in Formualtion of Pharmaceutical Dosage Form, Proceeding International Conference, ISSTEC, Jogjakarta

 Zhang, Y., Law,  Y.,  and Chakrabarti, S., 2003, Physical Properties and Compact Analysis of Commonly Used Direct Compression Binders, AAPS PharmSciTech ; 4 (4) Article 62 (http://www.aapspharmscitech.org).

 

 

 

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

Moch. Hari Purwidiantoro1
Abstraksi
Umumnya didalam pengukuran dibutuhkan suatu instrumen
sebagai suatu cara fisis untuk menentukan suatu besaran (kuantitas) atau
variabel. Instrumen tersebut membantu meningkatkan ketrampilan
manusia dan banyak hal memungkinkan seseorang untuk menentukan
nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui. Tanpa bantuan instrumen
tersebut, manusia tidak dapat menentukannya.
Dengan demikian, sebuah instrumen dapat didefinisikan sebagai
alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau kebesaran dari suatu
kuantitas atau variabel. Bagi yang senang berkecimpung dalam dunia
elektronika, terutama dalam bidang yang berhubungan dengan frekuensi,
tentu akan mengalami kesulitan bila hendak mengetahui secara pasti
berapa frekuensi dari alat yang digunakan, atau yang dibuat. Misalnya
dalam sebuah pemancar, mungkin saja frekuensinya ditentukan dari
perhitungan (misalnya dari frekuensi resonansi untai LC) atau bagian
yang lain. Tetapi tidak jarang terjadi, setelah dipasang ternyata
frekuensinya tidak sesuai dengan hasil perhitungan sebelumnya.Untai itu
perlu diukur lagi dengan menggunakan osiloskop atau pencacah
elektronik. Karena osiloscop untuk frekuensi tinggi cukup mahal dan sulit
untuk mengukur sinyal dengan frekuensi sangat rendah, maka untuk itu
perlu menggunakan universal counter, dalam hal ini pencacah elektronik
atau pencacah frekuensi.
Kata kunci : Untai/rangkaian, instrument, frekuensi
1 Staff Pengajar AMIK AMIKOM CIPTA DARMA Surakarta
1. Pendahuluan
Dengan berkembangnya tehnik elektronika maka kebutuhan
akan Pencacah Frekuensi semakin terasa. Terutama dalam bidang
yang berhubungan dengan frekuensi, tentu akan mengalami kesulitan
bila hendak mengetahui secara pasti berapa frekuensi dari alat yang
digunakan atau yang dibuat. Untuk itu perlu adanya unit ukur
Pencacah Frekuensi, dimana fungsi alat tersebut adalah suatu alat ukur
yang dibuat untuk mencacah (mengukur) frekuensi dari berbagai
isyarat listrik.
Mungkin pernah dibuat untai osilator dan mendapatkan
kesulitan untuk menentukan tinggi frekuensinya. Mungkin juga
dihabiskan banyak waktu untuk mencoba-coba memperoleh frekuensi
yang dikehendaki. Pencacah frekuensi ini akan membantu dalam
menghadapi persoalan diatas. Alat ukur ini dapat menunjukkan berapa
frekuensi yang sebenarnya.
Dengan kemajuan teknologi kini sudah dapat dibuat pencacah
frekuensi dalam satu chip IC yang kecil, tetapi kali ini yang digunakan
adalah IC jenis TTL yang mudah didapat, murah dan akurat.
2. Pembahasan
Blok diagram alat ukur frekuensi
Blok diagram dari alat ukur frekuensi ini terlihat pada gambar
1. Alat ukur ini mempunyai dua masukan, yaitu masukan 1 untuk
mengukur frekuensi yang rendah dan masukan 2 untuk mengukur
frekuensi tinggi.
PENCACAH DIGIT
PENGUAT DEPAN 1
PEMBENTUK
GELOMBANG
PEMBAGI
PEMBANGKIT
CLOCK KRISTAL PENGUAT DEPAN 2
GERBANG PENGENDALI
PEMROSES ISYARAT MASUKAN TIME BASE
PENAMPIL 7 SEGMEN
———————————
——————————— —————
—————
——————-
——————- —————
—————
Gambar 1: Blok diagram alat ukur frekuensi
Isyarat masukan yang hendak diukur frekuensinya terlebih
dahulu dikuatkan oleh penguat, sehingga isyarat-isyarat tegangan
bolak-balik yang sangat kecil masih memungkinkan untuk diukur
frekuensinya oleh alat ini. Setelah melewati penguat depan kemudian
diteruskan ke bagian pembentuk gelombang.
Pada bagian ini isyarat masukan (tegangan bolak-balik) yang
bukan berbentuk denyut akan diubah oleh untai sehingga setelah
keluar dari bagian ini, isyarat tadi akan diubah menjadi sederetan
denyut dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi masukan.
Isyarat-isyarat yang sudah berbentuk denyut-denyut, kemudian
diteruskan ke bagian gerbang pengendali. Bagian gerbang pengendali
selain mendapat denyut dari pembentuk gelombang juga mendapat
masukandari untai dasar waktu (time base).
Kerjanya mudah saja, misalnya untai dasar waktu mempunyai
frekuensi 1 Hz. Isyarat tegangan bolak-balik yang akan diukur
mempunyai frekuensi 100 Hz. Maka setiap satu denyut dari untai
dasar waktu, akan meluluskan sebanyak 100 denyut yang berasal dari
isyarat masukan. Denyut-denyut ini selanjutnya diteruskan ke untai
pencacah. Setelah dicacah kemudian ditampilkan oleh 7 segmen,
maka pada penampilpun akan menampilkan angka 000100. Ini berarti
tegangan bolak-balik yang sedang diukur mempunyai frekuensi 100
Hz.
Untai alat ukur frekuensi
Untai dari alat ini dapat dibagi beberapa bagian, dimana tiap
bagian mempunyai fungsi yang berkaitan dengan bagian yang lain.
Pada gambar berikut terlihat untai-untai tiap-tiap bagian.
Untai pencacah digit dan penampil
Untuk dapat mencacah denyut-denyut yang berasal dari
gerbang pengendali diperlukan sebuah untai pencacah digit. Dan
untuk mengetahui hasil cacahannya, maka perlu ditampilkan dalam
bentuk-bentuk angka-angka desimal oleh penampil 7 segmen. Skema
pencacah Digit dan Penampil selengkapnya diperlihatkan pada
gambar 2. Sedangkan gambar 3 diperlihatkan diagram bloknya.
f g a b c d e
D
D
4 6
3
1 6
2
8
22K
22K
560pf
1N4001
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC26
7447
IC20
7475
IC32
555
IC14
7490
f g a b c d e
D
D
6
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC29
7447
IC23
7475
IC17
7490
f g a b c d e
D
D
6
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC27
7447
IC21
7475
IC15
7490
f g a b c d e
D
D
6
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC30
7447
IC24
7475
IC18
7490
f g a b c d e
D
D
6
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC28
7447
IC22
7475
IC16
7490
f g a b c d e
D
D
6
3
13
1
6
15
11
4
14
C
C
2
7
7
9
8
B
B
1
6
2
10
9
A
A
7
2
16
12
IC31
7447
IC25
7475
IC19
7490
STROBE
INPUT
RESET
GND
RESET
+
5 VOLT
Gambar 2. Skema lengkap pencacah
digit dan penampil 7- segmen
PENAMPIL
PEMECAH SANDI
(DECODER)
PENYIMPAN DATA
SEMENTARA
PENCACAH
INDIKATOR
LIMPAHAN
(OVERFLOW)
Gambar 3. Diagram blok bagian pencacah
digit dan penampil 7-segmen
Bagian pencacah
Pada bagian ini terdiri dari IC14 sampai dengan IC19, 7490
(gambar 2) yang mempunyai tugas mencacah denyut-denyut masukan
yang akan diukur frekuensinya, yang berasal dari gerbang pengendali.
IC19 adalah untuk memcacah angka satuan, IC18 angka puluhan, IC17
angka ratusan, IC16 angka ribuan, IC15 angka puluhan ribu dan IC14
angka ratusan ribu. Hasil cacahan sebelum ditampilkan disimpan dulu
pada bagian penyimpanan data sementara. Prinsip kerja dari bagian
pencacah ini adalah : Isi dari pencacah ini akan dinyatakan dalam
binary yang dapat dilihat pada pin 12, 11, 8 dan 9. Harga maksimum
dari isi pencacah ini adalah 9. Maka pada denyut kesepuluh isi
pencacah ini akan kembali menjadi 0. Jadi penunjukan maksimum
pada keluaran dari pencacah ini adalah 1001 (dalam binary). Itulah
sebabnya maka pencacah ini disebut Pencacah Dekade.
Pada denyut masukan yang kesepuluh maka seluruh keluaran
dari pencacah (counter) ini akan turun lagi ke logika 0, termasuk bit
yang ke-4, yang digunakan untuk meng-clock pencacah dekade yang
berikutnya. Demikian seterusnya sehingga keluaran dari IC15 akan
meng-clock IC14. Keluaran dari IC14 ini kemudian digunakan untuk
meng-clock IC32 yang akan menyalakan indikator limpahan.
Bagian penyimpan data sementara
Penyimpan data sementara yang digunakan adalah IC flip-flop
data berempat tipe 7475. Bagian ini dilengkapi masukan Latch (lihat
gambar 2) yang akan diaktifkan oleh denyut yang berasal dari gerbang
pengendali. Bagian penyimpan data sementara sesuai namanya
berfungsi untuk menyimpan data yang berasal dari pencacah sebelum
data ini ditampilkan oleh penampil.
Bagian pemecah sandi
Terdiri dari IC26 …..IC31 (gambar 2), yaitu IC pemecah sandi
tipe 7447. Hasil cacahan yang berasal dari pencacah yang telah
diteruskan oleh bagian penyimpanan data sementara adalah masih
berupa isyarat-isyarat yang disandikan dalam biner. Supaya hasil
cacahan ini dapat dimengerti oleh operator (yang biasa bekerja dengan
bilangan desimal), maka sebelum ditampilkan terlebih dahulu isyaratisyarat
dalam biner itu diubah oleh bagian pencacah sandi, baru
kemudian diteruskan ke penampil tujuh segmen.
Bagian penampil tujuh segmen
Bagian ini terdiri dari enam buah penampil 7-segmen tunggal
anoda, yaitu LD1….. LD6. Bagian penampil tujuh segmen bertugas
untuk menampilkakn hasil cacahan dalam bentuk angka-angka
desimal.
Bagian indikator limpahan (over flow)
Terdiri dari IC pewaktu 555 (IC32) dan beberapa komponen
yang ada disekitarnya. Bagian ini bertugas untuk memberikan
indikator limpahan (over flow), apabila frekuensi yang diukur
melebihi 999999. Pada frekuensi ini pin dari IC14 akan mengeluarkan
denyut-denyut. Selanjutnya denyut -denyut ini diteruskan ke pin 2
dari IC32 (555) dengan melalui C10 (lihat gambar 2), sehingga IC 555
diaktifkan dan akibatnya LED D10 menyala. Untuk mematikan LED
D10, jalan masuk RESET (pin 4 IC 555) harus diaktifkan.
Untai dasar waktu dan gerbang pengendali
Untuk mengendalikan untai pencacah digit diperlukan denyutdenyut
yang berasal dari untai gerbang pengendali. Pada bagian ini
akan dijelaskan untai gerbang pengendali, sekaligus dengan untai
dasar waktunya.
Skema blok untai dasar waktu dan untai gerbang pengendali
diperlihatkan pada gambar 4 dan untai lengkapnya pada gambar 5.
10 10 10 10 10 10
OSILATOR
KRISTAL
1 Mhz
MULTIVIBRATOR
MONOSTABIL
PENGGERBANG
PENUNDA
WAKTU
STROBE
RESET
RESET
SCHMITT
TRIGGER 2
100Hz
10Hz
1Hz
Gambar 4 : Diagram blok untai dasar waktu
dan gerbang pengendali
Secara singkat kerjanya untai dapat dijelaskan sebagai berikut.
Sebagai frekuensi dasar waktu diambil dari pembangkit frekuensi
yang terdiri dari osilator kristal dengan dua gerbang NOT, yang
menghasilkan frekuensi 1MHz, frekuensi tersebut dibagi beberapa IC
pembagi 10 sehingga diperoleh frekuensi sebesar 100 Hz. Dan apabila
dasar waktu diambil dari denyut-denyut yang berasal dari penyearah
jembatan, yang mempunyai frekuensi 100 Hz, tetapi bentuknya bukan
kotak melainkan setengah sinus. Sehingga denyut-denyut ini perlu
diubah menjadi denyut-denyut berbentuk blok, dalam untai sudah ada
fasilitas itu, yaitu untai pemicu schimtt N6. D2 dalam untai ini
diperlukakn untuk membatasi puncak denyut agar tidak melebihi 4,7
Volt (gambar 5).
13 15 15 15 15
13 12
10- 60PF 1MHz
X-TAL
1 2 3 4
13 13 13
14 12 14 12 14 12 14 12
IC5
IC12 IC11
C B
7490 7490 7473 7473
IC12a IC12b
IC6 IC7 IC8
8 8 8 8
+
5V
STROBE
RESET
RESET
OUT
6
5 10
6 8 6 3 11
4 2 1 9 4 5 2 1 13 12
13
D2
1K
KHz
MHz Hz
1K
220
180
12
10
9
6
14
3
5 5
3
14 14 10
2 2
11 11 7
7 10 7 10
—————- —-
—-
—-
N11 N8 N9 N10 N7
Gambar 5 :Untai lengkap dasar waktu dan gerbang
pengendali
Keluaran pemicu schmitt N6 (kaki 8 IC9) diteruskan ke IC10
dan IC11, yang masing-masing merupakan pembagi 10. Sehingga
keluaran dari kaki 12 IC10 diperoleh denyut dengan frekuensi 10 Hz
dan kaki 12 IC11 diperoleh frekuensi 1 Hz.
Pemilihan untuk pembacaan Hz, KHz dan MHz dipilih oleh saklar S1a.
Frekuensi dasar waktu untuk pembacaan Hz adalah 1 Hz, untuk KHz
adalah 10Hz dan untuk MHz adalah 100Hz (dalam hal ini ditandai
dengan titik desimal pada digit ke 2 untuk KHz dan pada digit ke 4
untuk MHz dari penampil).
Selanjutnya frekuensi dasar yang telah dipilih oleh S1a (yang
berupa denyut-denyut berlogika 1 dan 0) diteruskan ke untai pembagi
2, yaitu IC 12a, sehingga diperoleh denyut dengan waktu setengah
periode 1 detik, 10 detik atau 100 detik (denyut dengan logika 1 detik,
10 detik atau 100 detik, tergantung posisi S1a).
Kemudian denyut-denyut ini ditentukan ke untai penggerbang
(gerbang N7). Denyut-denyut ini akan mengaktifkan untai
penggerbang selama denyut ini berlogika 1 (gambar 6)
………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………….
Waktu penggerbangan
Denyut yang diteruskan
ke untai p encaca h
Denyut m amp u cacah
(dari time base)
Isyarat
masukan
1
0
Gambar 6 : Diagram Waktu dari Untai Gerbang Pengendali.
Selama untai penggerbang aktif, isyarat masukan yang akan
diukur frekuensinya (dari pemroses isyarat masukan) akan diluluskan
oleh untai penggerbang dan diteruskan ke untai pencacah digit untuk
dihitung frekuensinya. Setelah denyut dari untai dasar waktu (kaki 9
IC12a) berlogika 0, maka untai penggerbang N7 menjadi tak aktif.
Bersamaan dengan itu untai multivibrator monostabil IC12b
(berupa flip-flop JK) diaktifkan. Karena keluarannya diambil Q (kaki
13 IC12b), maka dari multivibrator ini dihasilkan denyut pendek
berlogika 0 (gambar 7)
………….. ……………………… …………………….. ……………………… ……………………… …………………….. ……………………
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
………….. …………………….. ……………………… …………………….. ……………………… …………………….. …………………….
…………………………………………………………………………………………………..
RESET
DASAR WAKTU
(PIN 5 IC12)
MAMPU CACAH
(PIN 9 IC12)
Q (
PIN 13 IC12)
STROBE
(PIN 3 IC13)
RESET
(PIN 8 IC13)
RESET
(PIN 6 IC13)
STROBE
CACAH
SATU PENGUKURAN LENGKAP
Gambar 7. Diagram Waktu Satu Pengukuran Lengkap
Selanjutnya denyut ini dijungkirkan (menjadi logika 1) oleh
N8 dan dipakai untuk mengaktifkan jalan masuk STROBE dari
pencacah digit, sehingga denyut-denyut dari isyarat akan diukur
frekuensinya yang telah dicacah oleh untai pencacah dan dapat
ditampilkan oleh penampil tujuh segmen.
Denyut-denyut dari untai multivibrator monostabil juga
diteruskan ke jaln masuk RESET dan RESET (setelah melalui
penjungkir), untuk mereset pencacah digit. Untai penunda waktu
diperlukan agar sebelum di-reset, hasil cacahan sudah ditampilkan
pada penampil tujuh segmen. Diode D3 diperlukan untuk
menghubungsingkatkan denyut-denyut negative, dan D4 (LED)
sebagai indikator yang menunjukkan bahwa untai alat ukur frekuensi
ini sedang aktif.
Untai penguat depan (Pre-Amplifier)
Untuk menguatkan isyarat-isyarat masukan dalam pengukuran
frekuensi diperlukan penguat depan (Pre-Amplifier). Untai ini dapat
dilihat pada gambar 8 dan gambar 9.
13
11
2
3
4
6
7
+ 5V
C1:1mF/16V
100K
100K 1K
IC2:7400
IC1
Ca3130
N1:N2:IC3 7413
12
N1
13
12 8
10
9
N2
54
8
2
1
Gambar 8. Untai penguat-depan 1
2K2
1N4148
Tr1
BC108C C5 : 33 mF
C4:100pF
C2:100pF
R4
R5 R7
R6
R8
R9
R10
C3:0,68mF
Tr2
BC108C
27K
27K
2K7
470
470
10
IN
OUT
+ 5V
Gambar 9. Untai penguat-depan 2
Pada gambar 8, merupakan penguat-depan yang terdiri dari sebuah
operasional Amplifier (op-amp) IC CA3130 dan beberapa komponen
luar. Penguat depan ini berfungsi untuk menguatkan isyarat-isyarat
masukan berfrekuensi rendah. Kemudian masukan kaki 6 IC1
(CA3130) dimasukkan ke untai Schmitt trigger yang terdiri dari IC2
(7400) dan IC3(7413).
Untuk gambar 9, adalah untai penguat depan untuk frekuensi
yang lebih tinggi, yang terdiri dari 2 buah penguat yang bekerja pada
klas A yang dihubungkan secara kaskade, untuk pengamanan input
maka diantara base dari Tr1 dan ground (tanah) dipasangkan sebuah
diode yang terpasang terbalik sehingga apabila tegangan di base dari
transistor terlalu rendah maka diode ini akan konduktif dan akan
membatasi besarnya tegangan reverse dari base ini sebesar – 0,6 Volt.
Untuk dapat menerima tegangan masukan yang lebih besar
maka masukan harus dipasangkan sebuah attenuator (penghambat)
yang juga terdiri dari tahanan dan kapasitor yang diparalel. Tegangan
DC dari masukan dan base dari Tr1 diblok oleh suatu kapasitor yang
besarnya 0,68 μF dengan tegangan kerja sebesar 250 Volt. Untuk
menjamin agar tidak ada denyut-denyut dari untai lain yang
mengganggu untai penguat depan maka untai catu daya (supply) untuk
penguat depan ini diambil 5 Volt dengan menggunakan lowpass filter
yang terdiri dari RC filter. Selanjunya keluaran dari penguat ini
diberikan ke salah satu masukan N7 yang merupakan Schmitt trigger
3. Penutup
Berdasarkan hasil percobaan peralatan, maka dapat diambil
kesimpulan:
1. Dengan adanya alat ukur frekuensi digital yang direalisasikan
dengan menggunakan IC jenis TTL dan CMOS, maka alat ukur
ini sangat berguna terutama dalam bidang yang berhubungan
dengan frekuensi. Sehingga dengan mudah dapat mengetahui hasil
peralatan yang akan diukur frekuensinya.
2. Dalam untai pencacah digital dan penampil yang merupakan
bagian dari alat ukur frekuensi ini menggunakan system
pemegang IC7475, pada dasarnya IC7475 memegang sementara
hasil cacahan IC 7490. Tujuannya adalah untuk menghindari
pembacaan yang berkedip-kedip pada saat IC 7490 sedang
mencacah.
3. Rancangan yang dibuat menggunakan referensi dasar waktu
diambil dari jala-jala listrik sebesar 100Hz, hal ini sudah memadai
untuk berbagai penggunaan, namun agar hasil pencacahan dapat
lebih teliti, alat ini menggunakan referensi 1MHz dari sebuah
kristal, sehingga hasil pengukuran lebih akurat.
4. Alat ukur ini, mempunyai kepekaan yang cukup tinggi, dalam hal
ini dapat dibuktikan dengan masukan tegangan 0,12 Volt, alt ukur
sudah mampu bekerja.
5. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari percobaan yang dilakukan,
alat ukur ini mampu mengukur hingga 35 MHz, sehingga dapat
dikatakan bahwa alat ukur ini cukup baik.
1. Untuk memilih jangkauan pengukuran frekuensi disediakan
beberapa saklar, sehingga dapat dipilih mana yang diinginkan Hz,
KHz atau MHz, dimana jangkauan tersebut ditandai dengan titik
decimal pada penampil.
2. Bilamana yang digunakan untuk masukan pada bagian LOW,
maka pada frekuensi tertentu (batas kemampuan) penampil akan
padam (000000), dalam hal ini perlu dialihkan ke posisi HIGH
untuk bisa mengukur frekuensi yang lebih tinggi.
3. Alat ukur frekuensi digital dengan system pemegang ini dapat
dike,bangkan menjadi beberapa kegunaan, misalnya dimodifikasi
menjadi Volt meter digital, yaitu dengan menambahkan alat
Voltage to Frequency Converter dan lain-lain.
4. Apabila diperlukan kemampuan jangkauan pengukuran alat ukur
ini dapat diperbesar dengan menambahkan prescaler yang akan
membagi frekuensi dari sinyal masukan dengan 10 sehingga
mampu untuk mengukur frekuensi sampai 350MHz.
4. Daftar Pustaka
Cooper.W.D., Electronic Instrumentation And Measurement
Techniques, Edisi Kedua, Cliffs, N.J. : Prentice-Hall, Inc.
1978
David Bucchlah, Wayne McLahan, Applied Electronic
Instrumentation And Measurment, MacMilian Publishing
Company, 1992.
_________, Informasi Praktis Elektronika, Penerbit PT. Multi Media
Gramedia Group, Jakarta, 1988
Malvino, Albert Paul, Prinsip-prinsip Elektronika, Edisi Kedua,
Erlangga, Jakarta, 1994.
Tokheim. R., Elektronika Digital, Edisi Kedua, Erlangga, Jakarta,
1995.
Sofyan H. Nasution, Analisa dan Desain Rangkaian Terpadu Digital,
Penerbit Erlangga, Jakarta, 1987.
Wasito S, Kumpulan Data Penting Komponen Elektronika, Penerbit
Karya Utama, Jakarta, 1985.

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

September 5th, 2012
6.002x is a fundamental undergraduate electrical engineering course that introduces engineering in the
context of the lumped circuit abstraction. Topics covered include: resistive elements and networks;
independent and dependent sources; switches and MOS transistors; digital abstraction; amplifiers; energy
storage elements; dynamics of first- and second-order networks; design in the time and frequency domains;
and analog and digital circuits and applications. Design and lab exercises are also significant components
of the course.
Materials taught in 6.002x are equivalent to those taught in 6.002. At MIT, 6.002 is in the core of
department subjects required for all undergraduates in Electrical Engineering and Computer Science.
1 Prerequisites
In order to succeed in this course, students must have taken an Advanced Placement (AP) level physics
course in electricity and magnetism. Students must know basic calculus and linear algebra, and have
some background in differential equations. At MIT, the equivalent course 6.002 requires 18.03 and one
of 8.02 and 6.01. All three courses can be found on MIT OpenCourseWare.
2 Course Overview
The course is organized by weeks. To keep pace with the class, you are expected to complete all the
work by the due dates indicated. Homeworks and labs must be completed by the Sunday of the week
following the one in which they are posted. Weekly coursework includes:
• Interactive video sequences;
• Readings from the textbook;
• Homework;
• Online laboratories;
• Tutorials.
The course will also have a midterm exam and a final exam. Those who successfully earn enough points
will receive an honor code certificate from MITx.
1
3 Interactive video sequences
Lecture style videos are presented in interactive video sequences (or sequences for short), and are posted
in the Courseware section of the website. Each sequence includes a succession of short video clips and
online exercises, arranged in a logical progression. Two sequences will be given each week; please take the
time to watch each video and each exercise in the sequence they are provided. Answer-check mechanisms
are provided in these exercises, but they will not contribute towards your grade.
4 Textbook
The course textbook is the following:
Foundations of Analog and Digital Electronic Circuits. Agarwal, Anant, and Jeffrey H. Lang. San Mateo,
CA: Morgan Kaufmann Publishers, Elsevier, July 2005. ISBN: 9781558607354.
The textbook may be purchased from Amazon. While recommended, the book is not required: relevant
sections will be provided electronically as part of the online course for personal use in connection with
this course only.
5 Homework&OnlineLaboratories
A variety of interesting circuit analysis problems will be assigned as homework. Those problems best
illustrated through experimentation are given as online laboratories (or labs for short). Homework and
labs will be issued at the start of each week, in the Courseware section under their corresponding weeks.
Homework and labs must be completed by the Sunday of the following week. Late submissions in any
format will not be accepted.
While collaboration is welcomed and encouraged, you are not allowed to post full solutions.
6 Tutorials
Tutorials are conversational step-by-step videos designed to teach you how to solve the circuit problems
that are encountered throughout 6.002x. Several tutorials are issued each week, each either working
through a relevant problem or illustrating an interesting principle.
The tutorials will not cover new materials, and in this sense they can be considered optional. However,
they do provide an invaluable reinforcement of concepts covered during the sequences and the homework,
and we highly recommend that you take the time to watch each tutorial.
7 Midterm and Final Exam
A significant portion of your final grade in 6.002x will be determined by the midterm and the final exam.
We will announce with the exams the deadline by which you must complete them. Exercises, homework
and labs are critical to learning the material and for doing well on the exams. It is very likely that one or
more of the exercise, homework or lab problems will appear in each of the exams.
2
Once you view an exam, you must work on your own till you have submitted all your work, and do not
discuss the exam until the deadline for exam submissions is past. While the exams will be open book, we
encourage you to create a couple of sheets of notes for each exam. These notes will not only help you
prepare, but they will also serve as a convenient reference during the exam. You may use a calculator if
needed.
You are not allowed to post answers to exam problems. Collaboration of any form is strictly
forbidden in the midterm and the final exams.
8 DiscussionForum
We will provide a discussion forum on our website for all students of 6.002x. You may use these forums
to discuss course concepts, problem solving approaches, interesting references, or anything else that may
be of interest. You may just use it to ask questions. Please observe the approripate online etiquette
and be courteous to your fellow students when using the discussion forum. The forum is moderated by
course staff.
Course staff will be available at periodic timeslots to answer questions on the discussion forum. A
schedule of the timeslots will be posted in a separate document under the Course Info tab.
9 Grading
Letter grades will be based on the following weighting: homework 15%, labs 15%, midterm 30%, and
final exam 40%. Each of the homework and labs carries equal weight. You will need to get a total mark
of 60% for a C, 70% for a B, and 87% for an A.
Homework and labs will be graded based on the best ten out of twelve individual grades. Therefore, two
homework assignments and two labs may be missed in total without a grade penalty.
10 Certification
As with all edX courses, 6.002x will have an option for students to receive an honor-code certificate free
of charge.
3

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

Sangat sulit untuk mengetahui secara pasti kapan upaya pengawasan senjata untuk pertama kali diperkenalkan. Namun, pada jaman Yunani kuno usaha pengawasan senjata sudah dilakukan.   Pada waktu itu sudah dikenal ketentuan yang mengatur bagaimana perang harus dilakukan. Pelanggaran terhadap ketentuan itu akan membawa konsekwensi pengenaan denda  terhadap pihak pelanggar. Bahkan, bisa –bisa bentuk denda bagi si pelanggar itu berupa hukuman secara militer. Semenjak jaman Yunani kuno sampai munculnya Gereja Roma Katholik, tidak banyak  usaha yang dapat dikaitkan dengan pengawasan senjata. Hanya pada waktu itu gereja  dikenal, antara lain, berfungsi sebagai organisasi trans –national yang mengawasi senjata yang digunakan dalam peperangan. Pada tahun 1139 dikenal adanya ketentuan yang  melindungi kekerasan terhadap sesama orang Kristen yang berupa  larangan penggunaan crossbows dalam masa perang. Sedang larangan penggunaan crossbows terhadap para pemeluk agama lain selain agama Kristen, belum dikenal pada waktu itu.

Kekejaman akibat perang yang terjadi pada periode itu mendorong Negara untuk membuat aturan tertulis mengenai aturan berperang, perlakuan secara manusiawi terhadap para tawanan perang maupun  orang –orang yang terluka akibat perang. Orang –orang yang tidak terlibat dalam peperangan serta harta benda mereka memperoleh perlindungan hukum. Sejarah mencatat, bahwa sampai abad XIX, tidak banyak yang bisa dicatat menyangkut ketentuan –ketentuan baru dalam perjanjian pengawasan senjata dan perlucutan senjata. Hanya Perjanjian Strassbourg tahun 1675 yang berhasil dicatat dan dianggap penting mengingat ia merupakan perjanjian internasional pertama yang membatasi penggunaan senjata kimia. Perjanjian Strassbourg melarang penggunaan  peluru berracun. Perjanjian ini ditandatangani oleh Prancis dengan The Holy Roman Empire.

Pada zaman industri modern, traktat antara Amerika Serikat dengan Inggris/Kanada  yang dikenal dengan sebutan Traktat Rush – Bagot tahun 1817 dianggap sebagai  traktat  pengawasan senjata pertama. Traktat ini berisi ketentuan tentang demiliterisasi perbatasan  AS dengan Kanada sepanjang 3800 Km. Dengan ditandatanganinya traktat ini, maka kawasan the Great Lake dan Lake Champlain yang berada di kawasan Amerika Utara berhasil dijauhkan dari arena persaingan persenjataan angkatan laut. [1]

Munculnya revolusi industry di Eropa membawa konsekwensi bagi perkembangan industry persenjataan. Diakui, mekanisasi perlengkapan militer tidak dapat dihindarkan lagi. Senjata militer mempunyai kemampuan tembak jarak jauh dan tingkat ketepatan yang tinggi  serta sasaran yang luas.  Mekanisasi persenjataan ini memunculkan kekhawatiran para pemimpin dunia akan tingginya potensi kerusakan sebagai akibat adanya peperangan.  (Nantinya, pada waktu Perang Dunia I, kekhawatiran seperti ini betul –betul terjadi). Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, apabila Tsar Nicholas II dari Rusia mengajak negara –negara yang ada di dunia pada waktu itu untuk membicarakan mekanisasi persenjataan serta berbagai akibat yang ditimbulkannya. Sebagai tindak lanjut akan adanya ajakan pemimpin Rusia tadi, maka pada tahun 1899, diselenggarakanlah Konferensi Den Haag I. Tidak kurang pemimpin dari 26 negara menghadiri konperensi itu dan mereka menandatangani Konvensi Den Haag. Konvensi itu mengatur tata cara menyatakan dan melaksanakan perang. Disamping itu, konvensi tadi juga mengatur penggunaan senjata modern. Tidak berhenti sampai disitu saja, konvensi itu juga menyetujui pembentukan Permanent Court of Arbitration.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1907, diadakanlah Konferensi Den Haag II. Adapun tujuan konperensi tersebut adalah untuk mengamandemen serta menambah beberapa ketentuan yang tertuang dalam Konvensi Den Haag I. Sebetulnya, ada rencana untuk menyelenggarakan Konferensi Den Haag III; namun karena terjadi Perang Dunia I, maka rencana tersebut dibatalkan.

Diilhami oleh kekejaman yang terjadi pada masa  PD I dan banyaknya korban yang diakibatkannya, maka dibentuklah Liga Bangsa –Bangsa yang berfungsi mencegah terulangnya kembali perang dunia. Disamping itu, Liga Bangsa Bangsa didirikan dengan maksud membatasi serta memperkecil jumlah senjata yang diproduksi negara -negara. Namun demikian, upaya mencegah peperangan serta membatasi dan mengurangi jumlah senjata tidaklah berjalan dengan memuaskan. Perang masih tetap berlansung di berbagai kawasan dunia dan pengembangan persenjataan tatap berjalan seperti semula. Setelah berdirinya Liga Bangsa Bangsa tadi, diselenggarakanlah berbagai konperensi yang berkaitan dengan pembatasan senjata angkatan laut. Konperensi bertujuan membatasi jumlah serta ukuran kapal perang yang dimiliki lima negara yang memiliki angkatan laut yang kuat.

Upaya pengawasan senjata selanjutnya, ditandai dengan Konperensi Jenewa tahun 1925 yang menghasilkan larangan penggunaan senjata kimia (gas beracun) pada waktu terjadi perang. Yang lebih spektakuler lagi adalah ditandatangani Pakta Kellog – Briand  tahun 1928. Pakta ini jauh lebih fundamental dari sekedar pengawasan senjata. Alasannya, pakta tersebut berisi ketentuan penghentian perang sebagai instrument politik luar negeri suatu Negara.

Munculnya Perang Dunia II, mendorong pemimpin berbagai negara untuk mendirikan sebuah organisasi internasional, yakni Perserikatan Bangsa Bangsa. Fungsi organisasi itu, antara lain, adalah  mencegah terjadinya tindak kekerasan antar negara serta menyelesaikan konflik di antara mereka secara damai.  Oleh karena itu, tidaklah mengherankan andaikata pada tahun 1957, organisasi internasional tersebut mendorong berdirinya the International Atomic Energy Agency (IAEA) dengan tujuan mengawasi penyebarluasan tehnology nuklir, termasuk di dalamnya, berbagai senjata nuklir. Dalam dekade berikutnya, tepatnya pada tahun 1968, ditandanganilah Nuclear Non-Proliferation Treaty. Tujuan utama traktat tersebut yakni mencegah agar senjata nuklir beserta tehnologinya  tidak menyebar ke Negara –negara lain selain lima Negara, yaitu Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, Prancis, Cina, yang telah memiliki jenis senjata itu[2].

Setelah ditandatangani Nuclear Non –Proliferation Treaty, maka dalam tahun –tahun berikutnya Amerika Serikat dan Uni Soviet, sebagai Negara –negara pemilik senjata paling mutakhir, menyelenggarakan pembicaraan yang bertujuan membatasi senjata –senjata strategis mereka. Pembicaraan yang dikenal dengan Strategic Arms Limitation Talks (SALT) menghasilkan  perjanjian pengawasan senjata. Bahkan  SALT I menghasilkan the Anti-Ballistic Missile Treaty serta  Interim Strategic Arms Limitation Agreement dalam tahun 1972. Sedangkan SALT II diselenggarakan dalam tahun 1972. Setelah berunding selama sekitar tujuh tahun, para perunding kedua Negara berhasil membuat  kesepakatan menyangkut pembatasan senjata strategis yang baru pada tahun 1979. Akan tetapi, kesepakatan ini gagal memperoleh  ratifikasi dari pihak Kongres AS, mengingat  pasukan Uni Soviet melakukan invasi ke Afghanistan tahun 1979.

Setelah mengalami kebuntuan, beberapa tahun kemudian AS dan Uni Soviet kembali melakukan perundingan. Hal ini dilakukan mengingat arti penting pengawasan dan pembatasan senjata bagi kedua negara. Hasilnya, mereka menyepakati traktat yang berhubungan dengan senjata nuklir berjarak menengah, atau yang biasa disebut dengan The Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty. Traktat yang disepakati tahun 1987 tertsebut akhirnya diratifikasi tahun 1989. Dalam traktat tadi, kedua Negara sepakat untuk menghancurkan  semua missil yang memiliki  jarak jangkauan antara 500 Km -5500 Km. Sedangkan dalam tahun 1993,  kedua Negara menyepakati Chemical Weapons Convention. Dalam konvensi ini mereka setuju terhadap pelarangan pembuatan dan penggunaan senjata –senjata kimia.

Mengenai pengurangan senjata, pemerintah AS dan Uni Soviet menyelenggarakan pembicaraan dengan hasil dicapainya traktat pengurangan senjata strategis yang disebut dengan the Strategic Arms Reduction Traties atau START I dan START II. Lebih lanjut kedua Negara menyepakati pengurangan senjata offensive trategis atau yang dikenal dengan the Treaty on Strategic Offensive Reductions. Sedangkan di dekade terakhir abad XX, yaitu tahun 1996,  Perserikatan Bangsa Bangsa mendorong diselenggarakannya perundingan yang berisi pelarangan uji coba secara komprehensif yang biasa disebut dengan the Comprehensive Test Ban Treaty.  Dalam traktat ini disepakati  pelarangan semua uji coba nuklir di semua sektor, baik untuk tjuan –tujuan militer maupun sipil. Traktat ini tidak bisa dilaksanakan secara efektif apabila kelima negara nuklir, yaitu AS, Uni Soviet, Cina, Inggris dan Perancis beserta India, Pakistan dan Israel tidak meratifikasinya. Sampai sekarang, nampaknya AS belum meratifikasi[3]. Tahun 2002, kedua Negara menyetujui sebuah traktat yang berisi pengurangan senjata offensive strategis. Mereka sepaham traktat ini mulai berlaku tahun 2003.

Mengapa perlu pengawasan senjata?

Bagi para penganut teori spiral, kekerasan dan perang yang membawa bencana bagi umat manusia merupakan konsekwensi adanya senjata pada umumnya dan khususnya perlombaan senjata. Para penganut aliran spiral berkeyakinan bahwa semakin majunya perkembangan tehnologi persenjataan dan intensnya perlombaan persenjataan akan menyebabkan semakin banyak/besarnya korban manusia dalam peperangan. Sejarah mencatat bahwa dalam periode hampir dua ratus tahun, jumlah korban dalam peperangan makin lama makin meningkat. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa peperangan besar yang terjadi antara pertengahan abad 18 sampai Perang Dunia II. The Seven Years War yang terjadi antara tahun 1756 – tahun 1763, menelan korban sekitar 490.000 jiwa baik dari pihak pemenang maupun yang kalah perang. Kemudian, the Crimean War yang berlangsung antara tahun 1853 – tahun 1856, menyebabkan  sedikitnya 517.000 jiwa melayang. Lalu, the Ten Years War yang berlangsung antara tahun 1868 –tahun 1878 memakan korban tidak kurang dari 600.000 orang, baik yang berasal dari negara –negara pemenang maupun yang kalah perang. The Second Sino – Japanese War yang terjadi antara antara tahun 1937 – tahun 1945 membawa korban sekitar 5,1 juta jiwa. Perang Dunia Pertama yang berlangsung  antara tahun 1915 -1919 memakan korban lebih dari 9,9 juta orang, sedangkan Perang Dunia II yang terjadi antara tahun 1939 – tahun 1945 menyebabkan tidak kurang dari 24 juta menjadi korban.[4]

Mengingat semakin banyaknya korban peperangan sebagai konsekwensi semakin majunya tehnologi militer dan perlombaan persenjataan militer, para pengikut aliran spiral mendorong perlu diadakannya komunikasi yang intensif diantara negara –negara yang ada di dunia. Andaikata kondisi seperti ini bisa terjadi, maka akan mudah bagi negara -negara untuk mengetahui dan memahami satu sama lain. Konsekwensinya, negosiasi tidak begitu sulit dilaksanakan..  Hanya dengan cara seperti inilah, maka perjanjian internasional yang berisi pengawasan persenjataan internasional akan bisa diwujudkan (Lamb, 1998: 184). Oleh karena itulah, penganut aliran spiral mendorong negara –negara untuk melakukan perundingan baik secara bilateral maupun multilateral.

Tujuan Pengawasan dan Pelucutan Senjata

Pembatasan dan pengendalian senjata ini sendiri dapat dilakukan dengan dua model, yaitu model arms control dan model disarmament. Model arms control merupakan model yang menganut prinsip Graduated Reciprocation in Tension-Reduction atau GRIT, dengan memberikan batas akumulasi senjata secara kuantitas (membatasi jumlah) dan kualitas (melarang pengembangan kualitas senjata tertentu). Sementara model disarmament merupakan langkah pemusnahan total dan atau menghentikan penyebaran senjata ke negara-negara lain. Adapun tujuan Arms Control dan disarmament adalah:

  1. membekukan, membatasi, mengurangi atau memusnahkan senjata-senjata kategori tertentu;
  2. melarang percobaan senjata tertentu;
  3. melarang kegiatan militer tertentu;
  4.  pengaturan penerjunan angkatan bersenjata;
  5.  pengecualian pengiriman beberapa senjata militer penting;
  6. mengurangi resiko kecelakaan akibat perang;
  7. melarang penggunaan senjata tertentu atau cara-cara perang;
  8. membangun kerjasama diantara negara-negara melalui keterbukaan tentang masalah-masalah militer.[5]
  9. Mencegah mispersepsi dan salah pengertian terhadap tindakan lawan sehingga dibutuhkan upaya untuk mempertemukan pihak-pihak yang bersaing dalam suatu perundingan persenjataan (tujuan politis).
  10. Upaya untuk membangun komunikasi secara terus-menerus.
  11. Membatasi proliferasi senjata secara vertikal, yaitu larangan pada negara yang berupaya memiliki, mengembangkan, dan menggunakan berbagai senjata baru.
  12. Membatasi proliferasi senjata secara horizontal, yaitu ketika penyebaran senjata dari satu negara ke negara lain semakin banyak sehingga semakin banyak pula negara yang memiliki dan menggunakan senjata tertentu.[6]

Contoh kasus Perjanjian Pembatasan Senjata adalah Bangkok Treaty/Treaty on the Southeast untuk mewujudkan suatu kawasan bebas nuklir. Perjanjian tersebut melibatkan 10 negara ASEAN (Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, Kamboja, Myanmar, Vietnam, Singapura, dan Laos). Bangkok Treaty sendiri merupakan tindak lanjut dari Declaration on the Zone on Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN) yang ditandatangani pada 27 November 1971 di Kuala Lumpur, sebagai bukti komitmen negara-negara ASEAN untuk berpartisipasi aktif mewujudkan perdamaian dan stabilitas regional.  Bangkok Treaty juga bertujuan untuk turut aktif menegakkan pentingnya Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) dalam pencegahan pengembangan senjata nuklir di kawasan ASEAN, serta untuk melindungi kawasan ASEAN dari polusi lingkungan dan racun yang disebabkan oleh limbah dan material radioaktif yang datang dari senjata nuklir. Bangkok Treaty sendiri ditanda tangani di Bangkok, Thailand, pada 15 Desember 1995 dan mulai aktif berjalan sejak 27 Maret 1997. Selain melibatkan 10 negara ASEAN, Bangkok Treaty juga membuka diri pada 5 negara yang memiliki senjata nuklir, yaitu Cina, Perancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat; akan tetapi kelima negara tersebut masih belum mau meratifikasi Bangkok Treaty, dikarenakan masih ada keberatan kelima negara ASEAN tersebut pada dimasukkannya wilayah Zona Ekonomi Eksklusif dan pantai kontinental pada wilayah larangan pemakaian nuklir. Tujuan dimasukkan wilayah ZEE dan pantai kontinental pada Bangkok Treaty adalah karena negara ASEAN ingin menciptakan suatu wilayah bebas nuklir/Nuclear-Weapon-Free Zone (NWFZ) di Asia Tenggara, tidak hanya di wilayah daratan, namun juga pada wilayah perairan. Melalui Bangkok Treaty ini, negara-negara ASEAN menginginkan terciptanya kawasan yang bebas dari segala bentuk senjata pemusnah massal.

Sehubungan dengan konsep pengaturan dan pembatasan senjata, seperti berbagai perjanjian pembatasan senjata lainnya, Bangkok Treaty berfungsi sebagai wadah komunikasi negara-negara ASEAN dalam menyatukan tujuannya untuk membangun suatu wilayah Asia Tenggara yang bebas nuklir. Bangkok Treaty, karenanya, berfungsi untuk menyamakan dan menerapkan suatu aturan main bersama antar negara-negara ASEAN, yang kemudian harus dipatuhi bersama demi terwujudnya stabilitas dan perdamaian kawasan. Proliferasi senjata nuklir dalam Bangkok Treaty dilakukan dalam dua cara, secara horizontal dan vertical.

Berdasarkan sejarahnya, terdapat beberapa bentuk teknik implementasi dari pengawasan dan perlucutan senjata yang dapat diterapkan, diantaranya:

  1. Pembatasan dan Pengurangan Peralatan Perang. Pakta ini memberi batas pada mobilisasi, kepemilikan, atau pembangunan kekuatan militer dan peralata yang diharapkan dapat menurunkan kapasitas militer. Pembatasan mungkin bersifat kualitatif, mengatur desain senjata, serta kuantitatif, membatasi jumlah senjata tertentu.
  2. Demiliterisasi, Denuklirisasi, dan Netralisasi. Demiliterisasi dan denuklirisasi termasuk menghapus dan(atau) memberikan batasa pada kekuatan militer, senjata, dan jangkauan operasi military misalnya di udara, laut dan darat. Netralisasi adalah status khusus yang menjamin kemerdekaan politik dan integritas teritorial, tunduk pada janji bahwa negara dinetralkan tidak akan terlibat dalam perang kecuali dalam pertahanan. Fitur penting dari ketiga adalah penekanan pada wilayah geografis.
  3. Mengatur atau Melarang peredaran dan pembuatan senjata khusus.
  4. Mengontrol Industri Senjata dan mobilitasnya. Pendekatan ini melibatkan pembatasan, termasuk embargo, atas penjualan atau pengalihan senjata dan amunisi. Ini juga melarang pembuatan senjata tertentu.
  5. Hukum Perang. Upaya ini berusaha untuk mengurangi kekerasan dan kerusakan perang. Prinsip-prinsip yang mendasari aturan perang (atau hukum perang) adalah (a) larangan senjata yang menyebabkan penderitaan yang tidak perlu atau tidak proporsional, (b) perbedaan antara kombatan dan warga sipil, dan (c) kesadaran bahwa tuntutan kemanusiaan harus menang atas kebutuhan yang dirasakan pertempuran.
  6. Menstabilkan Lingkungan Internasional. Teknik ini berusaha untuk menurunkan ketegangan internasional melalui mengurangi kemungkinan cause celebre tak terkendali memprovokasi perang yang tidak diinginkan. Selain itu, ia berusaha untuk melindungi lingkungan dari kerusakan permanen akibat pengujian atau penggunaan senjata militer.[7]

 

Pengawasan dan Perlucutan Senjata di Asia Selatan (India-Pakistan)

Terjadinya perlombaan senjata di kawasan Asia Selatan khususnya antara India-Pakistan, banyak menimbulkan kekahwatiran sejumlah pihak. Kehwatiran ini dipicu karena kedua negara hingga saat ini tengah mengembangkan salah satu senjata pemusnah missal yaitu nuklir. Tidak hanya itu, alokasi budjet militer keduanya terus mengalami peningkatan yang cukup pesat. Kondisi ini pun, tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan konflik terbuka yang lebih besar dibandingkan dengan konflik terbuka sebelumnya.

Oleh karena itu, sejumlah pihak utamnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mensponsori perundingan perlucutan senjata  nuklir 2010 yang telah dilangsungkan di Jenewa pada bulan Januari. Ironisnya, Pakistan justru menolak untuk ikut ambil bagian. Penolakan Pakistan tentu beralasan mengingat kesepakatan tersebut akan berakibat pada pembatasan produksi persenjataannya, sementara ancaman keamanan dari pesaing utamanya, India, terus berlangsung. Seperti diketahui, India dengan doktrin militer ofensif juga intens melakukan peningkatan teknologi persenjataan nuklirnya. Atas dasar pertimbangan tersebut, Pakistan khawatir India dapat menggunakan kekuatan persenjataan militer terhadap negaranya kapan saja.

Dalam literatur ilmu Hubungan Internasional dijelaskan bahwa penolakan Pakistan untuk ikut mengurangi persenjataan nuklirnya merupakan konsekuensi logis dari sistem anarkis yang menyertainya. Oleh sebab itu, Pakistan akan selalu berupaya mengimbangi bahkan melebihi perkembangan teknologi persenjataan India. Bahkan kedua negara ini dengan tegas menolak gagasan perlucutan senjata yang digagas oleh PBB. Dalam kondisi seperti ini, pandangan realisme politik Edward H. Carr dalam The Twenty Years’ Crisis (1938) tetap relevan untuk dikutip, bahwa “states have an insatiable appetite for power” dan bahwa pandangan idealisme PBB tidak akan mampu mengekang tindakan agresif negara-negara yang selalu haus untuk memperoleh kekuasaan (struggle for power).

Di lain pihak Perdana Menetri India, atal Behari Vajpayee, telah menolak gagasan Pakistan bagi Asia Selatan yang bebas nuklir. Ia mengatakan, India memiliki program nuklir karena Pakistan punya program nuklir, tapi keprihatinan New Delhi juga mencakup program nuklir negara-negara lain. Hari Minggu lalu, Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, mengatakan jika sengketa tentang Kashmir terpecahkan dan terwujud perdamaian dan keamanan di kawasan itu, maka Asia Selatan dapat menjadi kawasan bebas nuklir. Ia menyarankan agar kedua negara bermusuhan itu juga menandatangani pakta untuk tidak berperang.

Menurut Vajpayee, perang pimpinan Amerika Serikat di Irak baru-baru ini dan pemilu penting bulan September dan Oktober di Kashmir sektor India merupakan dua isu yang memicu kedua negara bertetangga itu mengakhiri permusuhan militer mereka. Deputi Menlu Amerika Serikat, Richard Armitage, mengadakan pembicaraan di Pakistan menjelang kunjungan ke New Delhi untuk mendorong perdamaian di Asia Selatan. Sementara itu, tujuh pemberontak Muslim dan dua orang tentara India tewas dalam dua pertempuran sengit di Kashmir, sementara di tempat lain polisi membubarkan aksi protes untuk menuntut dialog di kawasan Himalaya yang rusuh itu.

 

Pelucutan Senjata Indonesia-GAM

Tercapainya kesepakatan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang diikuti dengan kesepakatan perlucutan senjata di pihak GAM dan relokasi pasukan di pihak Indonesia. Momentum ini merupkan satu dari sedikit salah satu bentuk keberhasilan Arms Control dan Disarmement yang banyak diupayakan. Pelucutan senjatan dan relokasi pasukan yang difasilitasi oleh AMM atau Aceh Monitoring Mission (sebuah tim yang dibentuk berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan GAM yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia tanggal 15 Agustus 2005 dan bertugas mulai tanggal 15 September)

AMM memantau pembubaran GAM dan melucuti persenjataannya, yang dilakukan dalam empat tahap. Sesuai dengan Nota Kesepakatan keempat tahap tersebut diselesaikan sebelum akhir bulan Desember 2005. Pada September 2005 senjata-senjata milik GAM untuk tahap pertama mulai dilucuti diseluruh penjuru Aceh dan pasukan TNI serta Polisi non organik direlokasi sebagai bagian dari pengaturan-pengaturan keamanan yang dideskripsikan dalam Nota Kesepakatan pasal 4. Upacara pemotongan senjata terakhir dilaksanakan di Banda Aceh pada 21 Desember 2005. GAM menyerahkan total sebanyak 840 senjata yang diterima oleh AMM untuk dilucuti selama empat tahap.

AMM juga memantau penarikan pasukan militer dan polisi non organik yang dilaksanakan secara paralel dengan perlucutan senjata. Upacara-upacara penarikan pasukan ini dilakukan di pelabuhan Lhokseumawe dan untuk menandakan penyelesaian penarikan pasukan militer non organik dilaksanakan pada 29 Desember serta upacara penarikan polisi non organik terakhir diselenggarakan pada 31 Desember. Jumlah keseluruhan TNI non organik yang direlokasi dalam empat tahap adalah 25.890 dan Polisi non organik berjumlah 5.791.

Berikut adalah statistik perlucutan senjata GAM;[8]

Tahap

Diserahkab oleh GAM

Disqualifikasi

Diterima

Dipermasalahkan oleh Pemerintah Indonesia

Jumlah senjata yang tidak dipermasalahkan

I (September 2005)

279

36

243

17

226

II (October 2005)

291

58

233

35

198

III (November 2005)

286

64

222

15

207

IV (December 2005)

162

20

142

4

138

Total

1018

178

840

71

769

 


[1] Morgentau, H. 1985. Politics Among Nations. McGraw-Hill Humanities/Social Science : London, hal 425

[2] “What are the recent Developments concerning Arms Control?”, dalam: http://www.newsbatch.com/armscontrol.html

[3] “What are the recent Developments concerning Arms Control?) dalam: http://www.newsbatch.com/armscontrol.htm

[4] “War Statistics”, dalam: http://wars.findthebest.com/

[5] Jozef Goldblat, 2002, Arms Control: the New Guide to Negotiations and Agreements, International Peace

Research Institute (PRIO), Oslo, h. 3.

[6] http://www.americanforeignrelations.com/A-D/Arms-Control-and-Disarmament-Defining-arms-control-and-disarmament-techniques.html&usg=ALkJrhiy2LqcTvr3pFC6U0H70Tdxzp-kBQ

[7] http://www.americanforeignrelations.com/A-D/Arms-Control-and-Disarmament-Defining-arms-control-and-disarmament-techniques.html&usg=ALkJrhiy2LqcTvr3pFC6U0H70Tdxzp-kBQ

 

[8] http://www.aceh-mm.org/english/headquarter_menu/amnesty.htm

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

Ryohei berumur delapan tahun, ketika pembangunan jalur KA cahaya antara Odawara dan Atami mulai. Ia akan pergi ke pinggiran desanya setiap hari untuk menonton pembangunan. Tidak bahwa ia bisa melihat banyak construction–just sebenarnya truk rel dirt–but itu cukup menarik untuk menjaga dia datang.

 

Dua pekerja akan naik dalam truk, berdiri di belakang tumpukan kotoran. Truk datang menggelinding menuruni gunung, jadi tidak perlu bantuan untuk terus bergerak. Itu akan datang seolah-olah dipaksa turun, dengan keliman pekerja mantel mengepak angin dan rails narrow-gauge gemetar dan Ryohei akan membayangkan bahwa ia ingin menjadi seorang pekerja konstruksi. Sekurang-kurangnya, dia ingin kesempatan untuk naik truk itu dengan mereka. Truk akan pantai berhenti ketika mencapai tingkat tanah di luar desa. Segera setelah itu, para pekerja akan melompat turun dari truk dan segera menyebar kotoran mereka yang mengangkut pada akhir lagu. Setelah itu, mereka akan mulai mendorong, mendorong, kembali ke arah Gunung mereka hanya datang ke bawah. Melihat ini, Ryohei akan berpikir bahwa bahkan jika dia tidak bisa naik truk, ia ingin setidaknya membantu mendorong.

 

Satu malam pada awal bulan Februari, Ryohei, saudaranya tahun enam dan tetangga usia yang sama pergi ke mana truk berhenti luar desa. Mereka duduk di sana di kegelapan, masih dilapisi dalam lumpur. Tidak hanya itu, tetapi pekerja konstruksi tak terlihat. Gugup, tiga anak mencoba mendorong gerobak pada akhir baris. Di bawah mereka usaha gabungan, truk roda tiba-tiba berubah. Suara ketakutan Ryohei pada awalnya, tetapi dia tidak terkejut ketika roda memekik kedua kalinya. Truk perlahan-lahan bergerak di sepanjang rel dengan roda yang berputar keluar irama di bawah usaha gabungan mereka.

 

Kian setelah bergerak kaki lima puluh atau lebih kelas tiba-tiba menanjak, dan truk akan bergerak tidak lebih tidak peduli seberapa keras mereka mendorongnya. Itu hampir ditarik mereka kembali dengan itu. Ryohei memutuskan bahwa mereka siap, dan memberikan sinyal kepada anak-anak dua yang lain: “OK! Mari kita pergi!”

 

Mereka melepaskan truk secara bersamaan, dan melompat ke atasnya bersama-sama. Truk sekaligus mulai bergerak sepanjang rel, perlahan-lahan pada awalnya tapi dengan cepat mengambil kecepatan seperti berguling menuruni bukit. Pemandangan langsung di depan mereka tampaknya muncul dan terbelah dua untuk kedua sisi seperti mereka melaju melalui itu. Angin senja di wajahnya dan gemetar truk di bawah kaki-Nya membawanya ke semacam pengangkatan.

 

Tapi hanya dalam beberapa menit truk kembali mana telah dimulai. “Mari kita melakukannya lagi!” Ryohei dan dua anak laki-laki muda mulai mendorong truk lagi, tapi sebelum mereka bahkan punya roda bergerak mereka mendengar seseorang jejak di belakang mereka. Segera setelah mereka diakui suara menjadi suara menggelegar, berteriak, “Hei, Anda! Siapa bilang Anda bisa menyentuh itu?”

 

Seorang pekerja konstruksi yang tinggi berdiri di sana, mengenakan mantel kerja tua bantalan mark perusahaan dan topi jerami yang tidak pantas untuk musim. (Ryohei dan dua anak laki-laki muda telah sudah menjalankan lima puluh meter sebelum mereka menyadari rincian ini.) Sejak episode, Ryohei pernah lagi berpikir tentang mengambil tumpangan pada salah satu truk, bahkan setelah melewati oleh situs konstruksi kosong dalam perjalanan pulang dari beberapa tugas. Di suatu tempat dalam pikirannya tetap gambar hidup pekerja yang berdiri di sana dalam cahaya yang suram, topi jerami nya kecil, kuning yang askew di kepalanya. Tetapi bahkan bahwa memori akan memudar sedikit setiap tahun.

 

Sepuluh hari atau jadi kemudian, Ryohei lagi nongkrong di situs konstruksi menonton truk tiba. Selain truk yang mengangkut kotoran, sebuah truk penuh dengan salib ikatan datang trek tebal yang menjadi jalur utama. Kedua dua laki-laki mendorongnya masih muda, dan dari saat ia melihat mereka merasa Ryohei approachability tentang mereka. Berpikir bahwa mereka tidak akan memarahi dia, ia berlari di dekat truk.

 

“Saya dapat membantu Anda mendorong?”

 

Salah satu orang, satu ini mengenakan kemeja bergaris, memberi ekspresi ceria yang Ryohei berharap untuk seperti dia mendorong gerobak dengan mukanya ke bawah,

 

“Tentu, mencobanya.”

 

Ryohei jatuh di antara mereka, dan mulai mendorong dengan sekuat.

 

“Kuat satu, ain’cha?” memuji orang lain, ini satu dengan rokok linting tangan di belakang telinga.

 

Akhirnya kelas mulai tingkat. Ryohei adalah samping dirinya dengan khawatir bahwa setiap saat orang-orang akan mengatakan mereka tidak perlu untuk mendorong lagi. Tetapi dua pekerja muda bersandar ke pekerjaan mereka bahkan lebih dari sebelumnya, terus mendorong truk diam-diam pada. Akhirnya, tidak dapat menahan dirinya, Ryohei ketakutan bertanya, “Bisa saya mendorong selama saya suka?”

 

“Tentu saja bisa,” dua menjawab dalam paduan suara. “Apa orang yang bagus,” Ryohei berpikir.

 

Setelah lain lima atau enam ratus meter garis lagi menjadi nilai yang curam. Di kedua sisi adalah grove tangerine yang penuh dengan buah kuning mengambil di bawah sinar matahari.

 

“Saya suka bagian menanjak, karena aku tahu bahwa mereka akan membiarkan saya terus mendorong,” pikir Ry

 

 

 

 

 

 

 

 

トロッコ

芥川龍之介

小田原熱海(あたみ)間に、軽便鉄道敷設(ふせつ)の工事が始まったのは、良平(りょうへい)の八つの年だった。良平は毎日村外(はず)れへ、その工事を見物に行った。工事を――といったところが、唯(ただ)トロッコで土を運搬する――それが面白さに見に行ったのである。
トロッコの上には土工が二人、土を積んだ後(うしろ)に佇(たたず)んでいる。トロッコは山を下(くだ)るのだから、人手を借りずに走って来る。煽(あお)るように車台が動いたり、土工の袢天(はんてん)の裾(すそ)がひらついたり、細い線路がしなったり――良平はそんなけしきを眺(なが)めながら、土工になりたいと思う事がある。せめては一度でも土工と一しょに、トロッコへ乗りたいと思う事もある。トロッコは村外れの平地へ来ると、自然と其処(そこ)に止まってしまう。と同時に土工たちは、身軽にトロッコを飛び降りるが早いか、その線路の終点へ車の土をぶちまける。それから今度はトロッコを押し押し、もと来た山の方へ登り始める。良平はその時乗れないまでも、押す事さえ出来たらと思うのである。
或(ある)夕方、――それは二月の初旬だった。良平は二つ下の弟や、弟と同じ年の隣の子供と、トロッコの置いてある村外れへ行った。トロッコは泥だらけになったまま、薄明るい中に並んでいる。が、その外(ほか)は何処(どこ)を見ても、土工たちの姿は見えなかった。三人の子供は恐る恐る、一番端(はし)にあるトロッコを押した。トロッコは三人の力が揃(そろ)うと、突然ごろりと車輪をまわした。良平はこの音にひやりとした。しかし二度目の車輪の音は、もう彼を驚かさなかった。ごろり、ごろり、――トロッコはそう云う音と共に、三人の手に押されながら、そろそろ線路を登って行った。
その内にかれこれ十間(けん)程来ると、線路の勾配(こうばい)が急になり出した。トロッコも三人の力では、いくら押しても動かなくなった。どうかすれば車と一しょに、押し戻されそうにもなる事がある。良平はもう好(よ)いと思ったから、年下の二人に合図をした。
「さあ、乗ろう!」
彼等は一度に手をはなすと、トロッコの上へ飛び乗った。トロッコは最初徐(おもむ)ろに、それから見る見る勢(いきおい)よく、一息に線路を下(くだ)り出した。その途端につき当りの風景は、忽(たちま)ち両側へ分かれるように、ずんずん目の前へ展開して来る。顔に当る薄暮(はくぼ)の風、足の下に躍(おど)るトロッコの動揺、――良平は殆(ほとん)ど有頂天(うちょうてん)になった。
しかしトロッコは二三分の後(のち)、もうもとの終点に止まっていた。
「さあ、もう一度押すじゃあ」
良平は年下の二人と一しょに、又トロッコを押し上げにかかった。が、まだ車輪も動かない内に、突然彼等の後(うしろ)には、誰かの足音が聞え出した。のみならずそれは聞え出したと思うと、急にこう云う怒鳴り声に変った。
「この野郎! 誰に断(ことわ)ってトロに触(さわ)った?」
其処には古い印袢天(しるしばんてん)に、季節外れの麦藁帽(むぎわらぼう)を かぶった、背の高い土工が佇んでいる。――そう云う姿が目にはいった時、良平は年下の二人と一しょに、もう五六間逃げ出していた。――それぎり良平は使の 帰りに、人気のない工事場のトロッコを見ても、二度と乗って見ようと思った事はない。唯その時の土工の姿は、今でも良平の頭の何処かに、はっきりした記憶 を残している。薄明りの中に仄(ほの)めいた、小さい黄色の麦藁帽、――しかしその記憶さえも、年毎(としごと)に色彩は薄れるらしい。
その後(のち)十日余りたってから、良平は又たった一人、午(ひる)過ぎの工事場に佇みながら、トロッコの来るのを眺めていた。すると土を積んだトロッコの外(ほか)に、枕木(まくらぎ)を積んだトロッコが一輛(りょう)、これは本線になる筈(はず)の、太い線路を登って来た。このトロッコを押しているのは、二人とも若い男だった。良平は彼等を見た時から、何だか親しみ易(やす)いような気がした。「この人たちならば叱(しか)られない」――彼はそう思いながら、トロッコの側(そば)へ駈(か)けて行った。
「おじさん。押してやろうか?」
その中の一人、――縞(しま)のシャツを着ている男は、俯向(うつむ)きにトロッコを押したまま、思った通り快い返事をした。
「おお、押してくよう
良平は二人の間にはいると、力一杯押し始めた。
われは中中(なかなか)力があるな」
他(た)の一人、――耳に巻煙草(まきたばこ)を挟(はさ)んだ男も、こう良平を褒(ほ)めてくれた。
その内に線路の勾配は、だんだん楽になり始めた。「もう押さなくとも好(よ)い」――良平は今にも云われるかと内心気がかりでならなかった。が、若い二人の土工は、前よりも腰を起したぎり、黙黙と車を押し続けていた。良平はとうとうこらえ切れずに、怯(お)ず怯(お)ずこんな事を尋ねて見た。
「何時(いつ)までも押していて好(い)い?」
「好いとも」
二人は同時に返事をした。良平は「優しい人たちだ」と思った。
五六町余り押し続けたら、線路はもう一度急勾配になった。其処には両側の蜜柑畑(みかんばたけ)に、黄色い実がいくつも日を受けている。
「登り路(みち)の方が好い、何時(いつ)までも押させてくれるから」――良平はそんな事を考えながら、全身でトロッコを押すようにした。
蜜柑畑の間を登りつめると、急に線路は下(くだ)りになった。縞のシャツを着ている男は、良平に「やい、乗れ」と云った。良平は直(すぐ)に飛び乗った。トロッコは三人が乗り移ると同時に、蜜柑畑のを煽(あお)りながら、ひた辷(すべ)りに線路を走り出した。「押すよりも乗る方がずっと好い」――良平は羽織に風を孕(はら)ませながら、当り前の事を考えた。「行きに押す所が多ければ、帰りに又乗る所が多い」――そうもまた考えたりした。
竹藪(たけやぶ)のある所へ来ると、トロッコは静かに走るのを止(や)めた。三人は又前のように、重いトロッコを押し始めた。竹藪は何時か雑木林になった。爪先(つまさき)上りの所所(ところどころ)には、赤錆(あかさび)の線路も見えない程、落葉のたまっている場所もあった。その路をやっと登り切ったら、今度は高い崖(がけ)の向うに、広広と薄ら寒い海が開けた。と同時に良平の頭には、余り遠く来過ぎた事が、急にはっきりと感じられた。
三人は又トロッコへ乗った。車は海を右にしながら、雑木の枝の下を走って行った。しかし良平はさっきのように、面白い気もちにはなれなかった。「もう帰ってくれれば好(い)い」――彼はそうも念じて見た。が、行く所まで行きつかなければ、トロッコも彼等も帰れない事は、勿論(もちろん)彼にもわかり切っていた。
その次に車の止まったのは、切崩(きりくず)した山を背負っている、藁屋根の茶店の前だった。二人の土工はその店へはいると、乳呑児(ちのみご)をおぶった上(かみ)さんを相手に、悠悠(ゆうゆう)と茶などを飲み始めた。良平は独(ひと)りいらいらしながら、トロッコのまわりをまわって見た。トロッコには頑丈(がんじょう)な車台の板に、跳(は)ねかえった泥が乾(かわ)いていた。
少時(しばらく)の後(のち)茶店を出て来しなに、巻煙草を耳に挟(はさ)んだ男は、(その時はもう挟んでいなかったが)トロッコの側にいる良平に新聞紙に包んだ駄菓子をくれた。良平は冷淡に「難有(ありがと)う」と云った。が、直(すぐ)に冷淡にしては、相手にすまないと思い直した。彼はその冷淡さを取り繕うように、包み菓子の一つを口へ入れた。菓子には新聞紙にあったらしい、石油のがしみついていた。
三人はトロッコを押しながら緩(ゆる)い傾斜を登って行った。良平は車に手をかけていても、心は外(ほか)の事を考えていた。
その坂を向うへ下(お)り切ると、又同じような茶店があった。土工たちがその中へはいった後(あと)、良平はトロッコに腰をかけながら、帰る事ばかり気にしていた。茶店の前には花のさいた梅に、西日の光が消えかかっている。「もう日が暮れる」――彼はそう考えると、ぼんやり腰かけてもいられなかった。トロッコの車輪を蹴(け)って見たり、一人では動かないのを承知しながらうんうんそれを押して見たり、――そんな事に気もちを紛らせていた。
ところが土工たちは出て来ると、車の上の枕木(まくらぎ)に手をかけながら、無造作(むぞうさ)に彼にこう云った。
われはもう帰んな。おれたちは今日は向う泊りだから」
「あんまり帰りが遅くなるとわれの家(うち)でも心配するずら
良平は一瞬間呆気(あっけ)にとられた。もうかれこれ暗くなる事、去年の暮母と岩村まで来たが、今日の途(みち)はその三四倍ある事、それを今からたった一人、歩いて帰らなければならない事、――そう云う事が一時にわかったのである。良平は殆(ほとん)ど泣きそうになった。が、泣いても仕方がないと思った。泣いている場合ではないとも思った。彼は若い二人の土工に、取って附けたような御時宜(おじぎ)をすると、どんどん線路伝いに走り出した。
良平は少時(しばらく)無我夢中に線路の側を走り続けた。その内に懐(ふところ)の菓子包みが、邪魔になる事に気がついたから、それを路側(みちばた)へ抛(ほ)り出す次手(ついで)に、板草履(いたぞうり)も其処へ脱ぎ捨ててしまった。すると薄い足袋(たび)の裏へじかに小石が食いこんだが、足だけは遙(はる)かに軽くなった。彼は左に海を感じながら、急な坂路(さかみち)を駈(か)け登った。時時涙がこみ上げて来ると、自然に顔が歪(ゆが)んで来る。――それは無理に我慢しても、鼻だけは絶えずくうくう鳴った。
竹藪の側を駈け抜けると、夕焼けのした日金山(ひがねやま)の空も、もう火照(ほて)りが消えかかっていた。良平は、愈(いよいよ)気が気でなかった。往(ゆ)きと返(かえ)りと変るせいか、景色の違うのも不安だった。すると今度は着物までも、汗の濡(ぬ)れ通ったのが気になったから、やはり必死に駈け続けたなり、羽織を路側(みちばた)へ脱いで捨てた。
蜜柑畑へ来る頃には、あたりは暗くなる一方だった。「命さえ助かれば――」良平はそう思いながら、辷(すべ)ってもつまずいても走って行った。
やっと遠い夕闇(ゆうやみ)の中に、村外れの工事場が見えた時、良平は一思いに泣きたくなった。しかしその時もべそはかいたが、とうとう泣かずに駈け続けた。
彼の村へはいって見ると、もう両側の家家には、電燈の光がさし合っていた。良平はその電燈の光に、頭から汗の湯気(ゆげ)の立つのが、彼自身にもはっきりわかった。井戸端に水を汲(く)んでいる女衆(おんなしゅう)や、畑から帰って来る男衆(おとこしゅう)は、良平が喘(あえ)ぎ喘ぎ走るのを見ては、「おいどうしたね?」などと声をかけた。が、彼は無言のまま、雑貨屋だの床屋だの、明るい家の前を走り過ぎた。
彼の家(うち)の門口(かどぐち)へ駈けこんだ時、良平はとうとう大声に、わっと泣き出さずにはいられなかった。その泣き声は彼の周囲(まわり)へ、一時に父や母を集まらせた。殊(こと)に母は何とか云いながら、良平の体を抱(かか)えるようにした。が、良平は手足をもがきながら、啜(すす)り上げ啜り上げ泣き続けた。その声が余り激しかったせいか、近所の女衆も三四人、薄暗い門口へ集って来た。父母は勿論その人たちは、口口に彼の泣く訣(わけ)を尋ねた。しかし彼は何と云われても泣き立てるより外に仕方がなかった。あの遠い路を駈け通して来た、今までの心細さをふり返ると、いくら大声に泣き続けても、足りない気もちに迫られながら、…………
良平は二十六の年、妻子(さいし)と一しょに東京へ出て来た。今では或雑誌社の二階に、校正の朱筆(しゅふで)を握っている。が、彼はどうかすると、全然何の理由もないのに、その時の彼を思い出す事がある。全然何の理由もないのに?――塵労(じんろう)に疲れた彼の前には今でもやはりその時のように、薄暗い藪や坂のある路が、細細と一すじ断続している。…………

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

PROPOSAL

USAHA WARUNG BAKSO “RSM”

 

Disusun Oleh :

Dhokhiy Mustofa Akbar

 

 

 

 

 

 

2012

 

1.PENDAHULUAN

Di era global sekarang ini keadaan ekonomi di Indonesia memang sangat memprihatinkan sejak krisis ekonomi yang melnda bangsa Indonesia membuat banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan pengangguran.Banyak kejehatan yang terjadi dimana mana terlebih lebih di kota kota besar seperti Jakarta.banyak para pengusaha yang bangkrut kemudia gulung tikar.Banyak para remaja yang putus sekolah dan menjadi pengangguran.Sebagai warga Negara kreatif kita tidak boleh putus asaataupun pantang menyerah pada keadaan sekarang ini yang serba sulit kita harus berusaha,kreatif,inovatif dan berani mengambil suatu keputusanserta resiko untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.kita tidak harus bergantung pada orang lain. Untuk mendapatkan suatu pekerjaan kita harus berusaha semaksimal mungkin.Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengurangi pengangguran yaitu dengan berwira usaha.Dengan kita berwira usaha kita bisa belajar mandiri dan bisa memaknai arti penting kehidupan secara tidak langsung kita sudah membantu banyak orang.

Akan tetapi, beriwarusaha saja belum cukup karena dipelukan kreativitas pada produknya, sehingga saya berpikir untuk membuat bakso yang berbahan dasar buah-buahan. Hal ini juga berguna untuk mengingatkan pada konsumen akan pentingnya makanan yang sehat, namun murah, karenanya saya namai bakso “RMS” dari kepanjangan Rancak Bana, Murah, dan Sehat.

 

2. LATAR BELAKANG

Usaha ini berawal dari kecintaan saya terhadap makna bakso.Setiap saya makan bakso rasanya cumc itu itu saja kemudian saya berinsiatif untuk membuka warung bakso yang berbeda dengan warung warung bakso lainnya.Setelah saya amati usahanini belum banyak dan jarang di temui di lingkungan rumah saya. Dari informasi-informasi yang saya peroleh dan menurut pandangan saya usaha ini akan mencapai kesikseasan dan maju. Dalam mendirikan usaha ini saya juga meringankan biaya-biaya yangakan saya butuhkan dan dalam usaha ini saya belum membutuhkan tenaga kerja karyawan.Untuk dapat mengatasi segala rintangan yang kami hadapi. Dalam menjalankan usaha ini membuthukan kemantapan dan keuletan dalam menjalankanya. Saya juga akan bersungguh-sungguh dalam mengelola warung ini sebaik mungkin. Begitu besarnya biaya usaha yang dibutuhkan,saya tidak akan main-main dalam usaha ini.

 

 

 

 

3 .PROSPEK USAHA

Usaha mendrikan warung bakso ini diperlukan dana kira-kira Rp.2.500.000 untuk keperluan membeli peralatan-peralatan yang diperlukan seperti:meja,kompor,tikar, peralatan makan dll.

Adapun biaya yang kami keluarkan adalah sebagai berikut:

~  Modal tetap :

1.meja panjang 3 buah+tikar                           Rp    250.000,00

2.alat dapur+makan                                        Rp    400.000,00

3.kompor                                                         Rp    100.000,00

4.sewa tempat 1 th                                          Rp 1.200.000,00  +

Jumlah                                                                                               Rp. 1.950.000,00

 

~  Modal lancar perhari :

1.Buah-buahan                                                Rp     250.000,00

2.mie                                                               Rp       25.000,00

3.bumbu-bumbu+sayuran                               Rp       40.000,00

4.tepung                                                          Rp       75.000,00

5.pangsit+tahu                                                Rp       20.000,00

6.saos,kecap+sambal                                       Rp       20.000,00

7bahan minuman                                             Rp       50.000,00  +

Jumlah                                                                                               Rp      500.000,00  +

Total modal                                                                                        Rp. 2.450.000,00

 

 

 

 

~  Perolehan tiap hari :

Dalam usaha ini saya magajak kakak dan orang tua saya untuk membantu mendirikan warung bakso serta hal-hal yang perlu disiapkan untuk melayani pembeli dengan baik. Kami juga menyediakan menu makanan yang lain seperti:

> Bakso Bakar/Goreng

> Sate Bakso

> Bakso Kuah

*Dengan bahan atau isian buah sesuai dengan menu yang disiapkan (tiap bulan berubah) dan ada juga yang campur (bahan buah sesaui dengan buah yang dipakai pada bulan itu)

Sarta menyediakan aneka minuman seperti:

> Es Jeruk                   > Es sumsum

> Es Teh                      > Es Buah

> Es Kopyor                > Dan sebagainya…

> Es Soda

 

4. ESTIMASI KEUNTUNGAN

 

1.Jumlah rata-rata pembelian perhari adalah 15 konsumen

2.Nilai jual rata-rata 1 hari = Rp 5.000

Rp 5.000 x167                                        = Rp. 85.000

Rp 4.500 x17                                          = Rp. 76.000  +

Pendapatan kotor           Rp. 161.000

Pendapatan perbulan     Rp 161.000 x 30  =  Rp 4.830.000

Biaya perbulan              Rp 115.000 x 30  =  Rp 3.450.000

Pendapatan                                                     Rp. 4.830.000

Biaya                                                               Rp. 3.450.000  -

Pendapatan bersih                                           Rp1.380.000

Perhitungan balik modal

Total modal                                            =    Rp 1.945.000   = 1,4 tahun

Laba bersih                                                 Rp1.380.000  

 

5.FAKTOR PENGHAMBAT DAN PENGDUKUNG

 

Setip usaha yang dijalankan setiap waktu pasti ada yang sukses dan ada yang belum sukses seperti halnya usaha ini ada beberapa faktor yang menurut saya sangat mendukung serta menghambat dalam menjalankannya serta mangembangkan usaha ini.Di bawah ini adalah faktor-faktor yang pendukung dan penghambat :

Faktor-faktor yang mendukung itu antara lain :

1.Lokasi ini yang mudah dicari dan Strategis

2.Usaha ini masih langka /jarang dilokasi lingkungan rumah saya ,sehingga pesaingnya masih                                                   jarang dan dengan mudah untuk mendapatkan pelanggan yang banyak.

3.harganya tidak begitu mahal dikalangan masyrakat menengah kebawah

4.Di lingkungan rumah saya banyak warga yan sibuk bekerja sehingga tidak sempat untuk memesak kemungkinan besar mereka akan jajan.

5. Mudah mendapatkan barang baku dan juga murah, selain itu beberapa buah juga tidak mudah busuk

* Selain faktor yang mendukung seperti yang disebutkan diatas ada juga faktor yang menghambat:

* Faktor-faktor tersebut adalah :

1.Keterbatasan dana yang kami miliki dalam membagi dana belanja.

2.Kadang ada bakso yang tidak laku terjual akan membuat usaha kami menjadi merugi, karean beberapa buah ada yang cepat  busuk.

Solusi agar dapat memecahkan masalah dalam factor penghambat dalam usaha yang akan kami dirikan:

1.Dengan keterbatasan dana belanja kita harus berhati-hati dalam mengeluarkan uang

2.Untuk mengatasi bakso yang masih sisa kita akan membuatnya menjadi kripik bakso.

3.Dalam mengatasi ancaman bakso yang busuk karena beberapa buah tidak tahan lama, kami menerapkan sistem Just in Time pada pemasakan bakso pada kuali, dengan kata lain kami juga menyediakan sediaan bakso yang dibekukan di freezer

 

6. STRUKTUR ORGANISASI

 

 

 

 

 

 

 

 

7. ATISIPASI MASA DEPAN

Sebagai seorang wirausahawan saya akan menekuni usaha ini dan saya berinsiatif untuk membuat aneka bakso misalnya bakso kurcaci,Bakso gelas ,mie bakso dll. Kami akan berusaha untuk memajukan dan mengembangkan usaha ini dan menurut saya usaha warung bakso ini dapat memberikan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.Kami dan tentunya usaha ini akan menjamin masa depan kami

 

8. KESIMPULAN

Menurut pandangan saya usaha ini akan berkembang dan mencapai kesuksesan.Meskipun zaman sekarang ini banyak warung makan yang mewah tetapi saya sangat optimis bahwa usaha ini akan berkembang dan memberi harapan yang sangat menjanjiakan.Saya akan berusaha dengan kemampuan yang saya miliki agar usaha ini dapat berjalan lancar untuk melaksanakan ussaha ini dengan tidak pantang menyerah dengan segala kendala dan rintangan yang mungkin terjadi setiap saat.Saya juga akan bersungguh-sungguh dalam mengelola warung ini sebaik mungkin. Begitu besarnya biaya usaha yang dibutuhkan,saya tidak akan main-main dalam usaha ini.

aldilah.bagas.d on December 13th, 2012

Peraih nobel di bidang ekonomi pada tahun 1998 Amartya Sen pernah berkata penyebab dari langgengnya kemiskinan, ketidakberdayaan, maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Hal ini terlihat begitu benar jika kita mengamati fenomena betapa sulitnya masyarakat yang kurang mampu untuk mendapatkan akses terhadap modal. Hambatan untuk mendapatkan permodalan begitu banyak terutama dari bank yang mensyaratkan adanya jaminan. Terlebih lagi, jeratan tengkulak begitu membahayakan karena bunga yang sangat mencekik.

Melihat fakta demikian Muhammad Yunus berusaha mewujudkan dunia tanpa kemiskinan dengan Grameen Bank, sebuah bank yang memberikan kredit kepada masyarakat kurang mampu tanpa mensyaratkan jaminan. Cita-cita dan semangatnya begitu mulia, sehingga beliau pun mendapatkan anugerah yang luar biasa, Nobel di bidang perdamaian.

Namun, sangat disayangkan semangat ini tidak dijalankan dengan metode yang dibenarkan oleh pedoman agama. Prof. Mannan mengungkapkan fakta bahwa bunga pinjaman di Grameen Bank mencapai 86%. Tidak heran desa kebanggaan Grameen Bank sekalipun, Hillari Pally, tidak bisa membayar hutang mereka hingga 12 tahun. Imbasnya, tanah desa mereka pun harus disita. Dari sinilah ide ini lahir #jengjengjeng.

 

 

…. adalah sebuah wadah yang mempertemukan masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan modal usaha tanpa jaminan dan sesuai dengan syariah. … memberikan kemudahan bagi masyarakat kurang mampu untuk bisa mempublikasikan pengajuan modal usaha mereka. Kami tidak bertindak sebagai perantara, hanya penyambung informasi sehingga insya Allah program kami tidak melanggar larangan agama.

Tidak hanya membantu masyarakat kurang mampu mendapatkan modal, kami juga secara intens memberikan pendampingan kepada peminjam. Sehingga usaha dari masyarakat kurang mampu dapat memiliki kompetensi yang cukup untuk bersaing dalam rangka meningkatkan kesejahteraan mereka.

Media yang digunakan adalah online. Cara kerja dari … adalah:

  1. Calon peminjam mendatangi …. dan mendaftar untuk menjadi peminjam. … juga akan secara aktif untuk menjemput bola dengan cara menawarkan kepada masyarakat kurang mampu yang mampu dijangkau untuk menjadi calon peminjam di …
  2. …. akan mengecek kondisi calon peminjam dengan survey lapangan, wawancara intensif, dan lainnya yang diperlukan dalam rangka untuk:
    1. mengetahui bahwa peminjam bisa dipercaya dan memiliki etos kerja yang baik
    2. mengurangi kemungkinan si peminjam untuk kabur tanpa membayar
    3. ide usaha yang akan dijalankan realistis dan dapat berkembang
  3. …. akan mempublish di website profile dari calon peminjam yang berisi data: Usaha yang akan dijalankan, lama usaha, jumlah pinjaman, deskripsi singkat, peminjam, dll
  4. 1. Pemilik modal memilih peminjam yang akan dipinjami dari website ….. Jika sudah tertarik, peminjam dan pemilik modal berinteraksi untuk menegosiasikan  jumlah pinjaman yang diberikan, bagi hasil yang disepakati, jangka waktu dan berbagai akad lainnya yang diperlukan dan sesuai dengan syariah. Kedua pihak disarankan untuk melakukan pertemuan secara tatap muka.
    1. 2.   … Pemilik modal memberikan modal usaha kepada peminjam dengan … sebagai saksinya.
    2. 3.  … secara intens mengecek kondisi dari peminjam, rutin memotivasi mereka, dan memberikan pendampingan kepada mereka.

     

     

    Ide ini sangat mudah untuk dijalankan. Instrumen yang dibutuhkan antara lain

    1. Tim manajemen berisi .. orang yang memiliki fungsi:

    a. web administrator,

    bertugas untuk mengurus website dari … mulai dari memasukkan profile peminjam ke website, mempublikasikan program,

    b. field partnert

    bertugas untuk mengembangkan potensi dari peminjam dan memastikan usaha dari peminjam dapat berjalan dengan baik. Juga, bertugas untuk mencari masyarakat kurang mampu untuk menjadi peminjam di ….

    c. administrasi dan humas

    bertugas untuk

    2.

     

    Usaha yang baik adalah usaha yang dapat terus berlangsung tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan orang lain.

    Kami

    … tidak memberikan jaminan bahwa setiap modal yang diberikan pasti akan memberikan hasil kepada pemilik modal. … meningkatkan kepercayaan pemilik modal dengan cara rutin mengecek kondisi mereka, memotivasi, dan memberikan pelatihan kepada peminjam.

     

     

    Resiko:

    a. Disaster risk yaitu keadaan force majeure yang dampaknya sangat besar terhadap bisnis nasabah yang dibiayai LKS.

    b. Character risk (resiko karakter buruk mudharib) yaitu resiko yang terjadi pada third way out

aldilah.bagas.d on October 8th, 2012

CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 367
© 2005 Canadian Medical Association or its licensors
Review
Synthèse
Abnormal liver enzyme levels may signal liver damage
or alteration in bile flow. Liver enzyme alteration
may be either the accompanying biochemical
picture in a patient with symptoms or signs suggestive of
liver disease or an isolated, unexpected finding in a patient
who has undergone a wide range of laboratory tests for a
nonhepatic disease or for minor, vague complaints. The
latter situation is a common clinical scenario today because
of the routine incorporation of hepatic tests in automated
blood chemistry panels. Isolated alterations of biochemical
markers of liver damage in a seemingly healthy patient often
represent a challenge even for the experienced clinician
and usually set off a battery of further, costly tests1 and consultations
that may ultimately prove unnecessary. The aim
of this review is to provide physicians in general practice
with a guide to interpreting liver enzyme alterations.
Background
The liver is a large, complex organ that is well designed
for its central role in carbohydrate, protein and fat metabolism.
It is the site where waste products of metabolism are
detoxified through processes such as amino acid deamination,
which produces urea. In conjunction with the spleen it
is involved in the destruction of spent red blood cells and the
reclamation of their constituents. It is responsible for synthesizing
and secreting bile and synthesizing lipoproteins and
plasma proteins, including clotting factors.2 It maintains a
stable blood glucose level by taking up and storing glucose as
glycogen (glycogenesis), breaking this down to glucose when
needed (glycogenolysis) and forming glucose from noncarbohydrate
sources such as amino acids (gluconeogenesis).
Many of these biosynthetic functions use the products of
digestion. With the exception of most lipids, absorbed food
products pass directly from the gut to the liver through the
hepatic portal vein. At the microscopic level, the primary
functional unit of the liver is the liver acinus, which is defined
by the territory supplied by each terminal branch of
the hepatic artery and hepatic portal vein. The portal tract
forms the central axis of the acinus; hepatocytes are
arranged in plates that radiate out from the portal triad.
The acinus is divided into 3 zones on the basis of the distance
from the supplying vessels: zone 3, for example, experiences
the least oxygen perfusion and houses the most mitochondria.
Bile is secreted into a network of minute bile
caniculi situated between adjacent hepatocytes.3
Liver disease is often reflected by biochemical abnormalities
of 1 of 2 different hepatic systems or of liver function
(Table 1). Although tests that measure the level of
serum liver enzymes are commonly referred to as liver
function tests, they usually reflect hepatocyte integrity or
cholestasis rather than liver function. A change in serum albumin
level or prothrombin time may be associated with a
decrease in liver functioning mass, although neither is specific
for liver disease.
In order to accurately interpret biochemical abnormalities,
it is necessary to understand how normal ranges are
established and how to apply reference ranges. The performance
characteristics (e.g., reproducibility, bias, total
error) and reference limits for the most common liver tests
have been thoroughly reviewed and guidelines established.
4,5 An abnormal level is usually defined as a value exceeding
the upper reference limit, since there is no clinical
significance to the occurrence of low levels of biochemical
markers, except for serum albumin. Because the reference
limits for each test often vary among laboratories, specific
ranges will not be provided here, in order to avoid generating
confusion.
It is common practice when establishing laboratory parameters
to define the “normal” range as the mean value
within ± 2 standard deviations observed in the reference,
“normal” population. Accordingly, as many as 2.5% of normal
patients have “abnormal” aminotransferase levels.
Moreover, at least 16% of patients with chronic hepatitis C
infection and 13% of patients with nonalcoholic fatty liver
disease have varying degrees of histological damage despite
showing persistently normal aminotransferase levels.6,7 This
apparent discrepancy may be explained by the fact that the
Liver enzyme alteration: a guide for clinicians
Edoardo G. Giannini, Roberto Testa, Vincenzo Savarino
Abstract
ISOLATED ALTERATIONS OF BIOCHEMICAL MARKERS OF LIVER DAMAGE in
a seemingly healthy patient can present a challenge for the
clinician. In this review we provide a guide to interpreting alterations
to liver enzyme levels. The functional anatomy of the
liver and pathophysiology of liver enzyme alteration are briefly
reviewed. Using a schematic approach that classifies enzyme
alterations as predominantly hepatocellular or predominantly
cholestatic, we review abnormal enzymatic activity within the
2 subgroups, the most common causes of enzyme alteration
and suggested initial investigations.
CMAJ 2005;172(3):367-79
DOI:10.1503/cmaj.1040752
healthy population that was recruited to establish the normal
range could have included a small subset of patients
with subclinical liver disease.
As well, aminotransferase levels vary according to age
and sex, so care must be taken to use age- and sex-appropriate
reference limits.4,5 The clinical context of patient presentation
is also important when interpreting reference
limits. Levels of both aspartate aminotransferase (AST) and
alanine aminotransferase (ALT) may increase with strenuous
exercise,4,8 and hospital admission has been observed to
induce a 5% increase in AST levels (0.4%–9.6%, 95% confidence
interval [CI]) and a 17.5% increase in ALT levels
(9.1%–21.6%, 95% CI) in healthy subjects;9 restricted
physical activity and hospital diet have been suggested as
possible explanations for these increases.
Where, when and how: a schematic approach
to liver enzyme alteration
The comprehensive evaluation of adult patients with abnormal
liver enzyme levels is a multistep process. In moving
through this process, the clinician can ask a series of
questions categorized under where, when and how (Fig. 1).
Where
Alterations in liver enzyme levels that are encountered
in hospital centres may vary by the geographical location of
the hospital and the ethnicity of the patients. For example,
about 60% of cases of elevated hepatic AST levels in Wales
can be attributed to ischemic or toxic liver injury,10 whereas
orofecal transmittable hepatitis viruses are the major cause
(> 60%) of sporadic acute and fulminant hepatitis in the Far
East.11 The incidence of primary biliary cirrhosis ranges
from 1.9–2.2 per 100 000 in Australia to 0.34–0.42 per
100 000 in Asia,12 and the prevalence of homozygosity for
the C282Y mutation in the HFE gene can be found in
about 5 per 1000 people of northern European descent13
but 0.0001 per 100 people of African American ethnicity.14
Physicians should be aware of the local epidemiological
features of liver disease in the region where they practise in
order to identify likely causes and reduce the number of
unnecessary tests and the amount of time needed to make a
diagnosis. Inquiry about the patient’s recent travel history
is also essential.
When
The timing of liver enzyme abnormalities in relation to
the age of the patient, comorbid conditions and ingestion
of medications provides valuable information. For example,
the likelihood that the alteration is due to a disease that
usually manifests early in life, such as Wilson’s disease, is
higher in younger patients than in elderly ones.15 The
course of all comorbid conditions must be fully explored,
along with a detailed list of drugs being taken by the
patient and the date they were started in relation to the onset
of enzyme alterations or of signs or symptoms of disease.
Almost any medication can alter liver enzyme levels.16
Use of herbal remedies and over-the-counter preparations
is often overlooked by physicians but should be carefully
recorded.17
How
The pattern of liver enzyme alterations is often the first
piece of evidence that catches the physician’s eye. This is
because common causes of liver disease have typical patterns
(Fig. 2, Table 2); however, sometimes the details of
the pattern are not fully examined. Full assessment of enzyme
abnormalities involves careful evaluation of (1) the
predominant pattern of enzyme alteration (hepatocellular
v. cholestatic); (2) the magnitude of enzyme alteration in
Giannini et al
368 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
Table 1: Key biochemical markers in hepatic systems and function
System or function Marker Site or significance Function
Hepatocyte
integrity
Aspartate aminotransferase
Alanine aminotransferase
Liver, heart skeletal muscle,
kidney, brain, red blood cell
Liver
Catabolizes amino acids, permitting them
to enter the citric acid cycle.
Alkaline phosphatase Bone, intestine, liver, placenta Canicular enzyme that plays a role in bile
production.
γ-Glutamyl-transpeptidase Correlated levels with alkaline
phosphatase indicate hepatobiliary
origin
Catalyzes transfer of γ-glutamyl group
from peptides to other amino acids.
Cholestasis
Bilirubin Elevations may indicate hepatic or
extrahepatic disorder
Breakdown product of hemolysis taken up
by liver cells and conjugated to watersoluble
product excreted in bile.
Liver function
mass
Serum albumin Diet or liver Liver synthesizes albumin
Prothrombin time Liver synthesizes vitamin Kdependent
clotting factors
Bile salts are synthesized in the liver and
necessary for vitamin K absorption
the case of aminotransferases (< 5 times, 5–10 times or > 10
times the upper reference limit, or mild, moderate or
marked); (3) the rate of change (increase or decrease over
time); and (4) the nature of the course of alteration (e.g.,
mild fluctuation v. progressive increase).
The most common alterations in enzyme levels encountered
in clinical practice can be divided into 2 major subgroups:
hepatocellular predominant and cholestatic predominant.
Although certain liver diseases may display a
mixed biochemical picture — usually elevated AST and
ALT levels with mild abnormalities of alkaline phosphatase
(ALP) and γ-glutamyl transpeptidase (GGT) levels — the
ability to distinguish between the 2 subgroups is fundamental
to narrowing down the differential diagnosis.
Hepatocellular predominance
Injury to the liver, whether acute or chronic, eventually
results in an increase in serum concentrations of aminotransferases.
AST and ALT are enzymes that catalyze the
transfer of α-amino groups from aspartate and alanine to
the α-keto group of ketoglutaric acid to generate oxalacetic
and pyruvic acids respectively, which are important contributors
to the citric acid cycle. Both enzymes require pyridoxal-
5’-phosphate (vitamin B6) in order to carry out this reaction,
although the effect of pyridoxal-5’-phosphate
deficiency is greater on ALT activity than on that of AST.4,18
This has clinical relevance in patients with alcoholic liver
disease, in whom pyridoxal-5’-phosphate deficiency may decrease
ALT serum activity and contribute to the increase in
the AST/ALT ratio that is observed in these patients.19,20
Both aminotransferases are highly concentrated in the
liver. AST is also diffusely represented in the heart, skeletal
muscle, kidneys, brain and red blood cells, and ALT has
low concentrations in skeletal muscle and kidney;21 an increase
in ALT serum levels is, therefore, more specific for
liver damage. In the liver, ALT is localized solely in the
cellular cytoplasm, whereas AST is both cytosolic (20% of
total activity) and mitochondrial (80% of total activity).22
Zone 3 of the hepatic acinus has a higher concentration of
AST, and damage to this zone, whether ischemic or toxic,
may result in greater alteration to AST levels. Aminotransferase
clearance is carried out within the liver by sinusoidal
cells.23 The half-life in the circulation is about 47 hours for
ALT, about 17 hours for total AST and, on average, 87
hours for mitochondrial AST.4
The magnitude of aminotransferase alteration can be
classified as “mild” (< 5 times the upper reference limit),
“moderate” (5–10 times the upper reference limit) or
“marked” (> 10 times the upper reference limit). This classification
is somewhat arbitrary, since no uniform definition
exists and various reviews of the subject use different
cut-off points.1,24,25 Marked and moderate increases are discussed
together because the clinical distinction between
them is especially grey.
Marked and moderate aminotransferase increase
Patients with a marked increase in aminotransferase levels
(> 10 times the upper reference limit) typically have
acute hepatic injury. However, data from a series of patients
with acute hepatic injury due to viral hepatitis sug-
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 369
Fig. 1: Schematic representation of an approach to liver enzyme alteration. Specific modalities of enzyme
alteration (how) and their relation with peculiar characteristics of the patient and locality (where
and when) should be thoroughly assessed before the definitive diagnostic work-up is begun.
How
When
Increase
Decrease
Mild
Moderate
Marked
Hepatocyte predominant
Cholestasis predominant
Where
• Patient ethnicity
• Local epidemiology
• Patient history of
recent travel
Evaluating liver enzyme alteration
• Pattern of alteration
• Magnitude of aminotransferase
alteration
• Nature of alteration (e.g., mild
fluctuation, steep increase)
• Rate of alteration
Timing of enzyme alteration
in relation to patient
• Age
• Ingestion of medications
• Comorbid conditions
gest that the most sensitive and specific aminotransferase
threshold level to identify acute injury lies within the moderate
range of increase (5–10 times the upper reference
limit, at 200 IU/L for AST [sensitivity 91%, specificity
95%] and 300 IU/L for ALT [sensitivity 96%, specificity
94%]).26 Thus, the academic attribution of cause and
“severity” of acute damage on the basis of the magnitude of
enzyme elevation may sometimes be misleading, since
there can be grey areas in which a range of causes overlap
(Fig. 2). Moreover, the degree of elevation varies during
the course of injury and depends on when the enzyme levels
were tested (Fig. 3).
Despite these ambiguities, the magnitude and rate of
change of aminotransferase alteration may provide initial
Giannini et al
370 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
Fig. 2: Serum aminotransferase levels in various liver diseases. Patients with acute viral or ischemic
or toxic liver injury reach the highest aminotransferase levels, but there is a broad overlap in aminotransferase
values between patients with acute alcoholic hepatitis and autoimmune hepatitis as well
as between patients with chronic hepatitis and liver cirrhosis. Both chronic hepatitis and cirrhotic
patients may have aminotransferase levels within the reference range. The red line indicates the upper
limit of the reference range.
10
100
1000
10 000
Aminotransferase level, IU/L
Ischemic
or toxic
liver injury
Acute viral
hepatitis
Autoimmune
Alcoholic hepatitis
liver disease
Liver
cirrhosis
Chronic
hepatitis
Reference
range
Table 2: Biochemical features of common causes of moderate to marked increase in
aminotransferase levels
Cause
Aminotransferase
level increase
(value × URL)
Bilirubin level
increase
(value × URL) Comments
Ischemic injury > 10 to > 50 < 5 AST > ALT; rapid decrease of
aminotransferase levels after initial peak
ALT/LDH ratio < 1
Presence of comorbid conditions
Toxic injury > 10 < 5 Pattern of enzyme alteration similar to that of
ischemic hepatitis
History suggestive of toxic injury
Acute viral hepatitis 5–10 to > 10 5–10 Slow decrease of aminotransferase levels
Presence of risk factors
Acute biliary obstruction 5–10 5–10 to > 10 Aminotransferase increase precedes
cholestasis
Presence of typical symptoms
Alcoholic hepatitis 5–10 5–10 to > 10 AST/ALT ratio > 2
May occur as both acute and acute-onchronic
injury
Note: URL = upper reference limit, AST = aspartate aminotransferase, ALT = alanine aminotransferase, LDH = lactate dehydrogenase.
insight into a differential diagnosis. Very high aminotransferase
levels (> 75 times the upper reference limit) indicate
ischemic or toxic liver injury in more than 90% of cases of
acute hepatic injury, whereas they are less commonly observed
with acute viral hepatitis.4 In ischemic or toxic liver
injury, AST levels usually peak before those of ALT because
of the enzyme’s peculiar intralobular distribution.27–29
Zone 3 of the acinus is more vulnerable to both hypoxic
(hepatocytes are exposed to an already oxygen-poor milieu)
and toxic (hepatocytes are richer in microsomal enzymes)
damage. Furthermore, in ischemic injury aminotransferase
levels tend to decrease rapidly after peaking (Fig. 3). In
about 80% of patients with ischemic injury, the serum
bilirubin level is lower than 34 μmol/L, and lactate dehydrogenase
(LDH), a marker of ischemic damage, may reach
very high concentrations (ALT/LDH ratio < 1).28–30 It is
important to stress that a decrease in aminotransferase levels
alone after a marked increase does not have prognostic
meaning, since both resolution and massive hepatic necrosis
may draw a similar biochemical picture. In this setting,
patients with high bilirubin serum levels and prolonged
prothrombin time should be closely monitored for the risk
of hepatic failure.
In cases of acute viral hepatitis, aminotransferase levels
usually peak before jaundice appears and have a more
gradual decrease thereafter, and there is a greater increase
in serum bilirubin levels (Fig. 3).31 Jaundice occurs in about
70% of cases of acute hepatitis A infection, 33%–50% of
cases of acute hepatitis B infection and 20%–33% of cases
of acute hepatitis C infection.5 LDH concentration is altered
in about 50% of the patients, with values typically
only slightly above the reference limit.28,29 The entire alphabet
of viral hepatitis (A, B, C, D and E) may be responsible
for a marked increase in aminotransferase levels, although
the increase associated with hepatitis C infection
tends to be more modest than that associated with hepatitis
A or B.32 Patients with acute viral hepatitis may lack a
history of exposure to risk factors and may have nonspecific
(fatigue, arthralgias, low-grade fever) or specific
(jaundice) symptoms of liver disease; the diagnosis may be
made following routine analysis with asymptomatic hypertransaminasemia.
The presence of symptoms is more common
in patients with acute hepatitis A (70%–80% of infected
adults) or B (30%–50% of infected adults) infection
than in patients with acute hepatitis C (20% of patients)
infection.5,33 Obviously, the presence of risk factors such as
travel to areas endemic for viral hepatitis or parenteral exposure
may help identify the cause and should drive the
subsequent investigation. Patients with suspected acute viral
hepatitis should be tested for IgM antibodies to hepatitis
A and hepatitus B core virus, hepatitis B surface antigens
and hepatitis C virus (HCV) antibodies. Testing for
hepatitis D infection should be limited to patients with evidence
of hepatitis B surface antigens. If test results for
HCV antibodies are negative and there is no evidence of
acute hepatitis A or B infection, testing for HCV RNA
may be a useful strategy since a recent study has demonstrated
that, although these patients are rarely at risk of
acute liver failure, they may benefit from early antiviral
treatment.34
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 371
Fig. 3: Schematic representation of the rate of change of aminotransferase and bilirubin levels in a patient with acute ischemic
hepatitis (green area, yellow area respectively) and acute viral hepatitis (blue area, orange area respectively). It is important to
underscore that the pattern of enzyme alteration may vary and occasionally appear similar if a single observation point is taken
into consideration (arrows).
N x 5
N x 10
N
Time
Aminotransferase level
Ischemic and hypoxic acute liver damage is more likely
in patients with concomitant clinical conditions such as
sepsis or low-flow hemodynamic state.10,28,30 Careful investigation
of the patient’s pharmacologic history is essential in
order to identify medications and herbal products associated
with hepatotoxicity.16,17,35 Acetaminophen-induced hepatic
damage causes 54% and 16% of the cases of acute
liver failure in the United Kingdom and United States respectively.
36 Although ischemic damage can be suspected
on a clinical basis alone, and the patient history may suggest
drug- or toxin-induced liver damage, there are no specific
serologic tests for either condition, except in the case
of acetaminophen poisoning, in which plasma acetaminophen
levels may also represent a helpful guide to therapy.
37 Alcohol-induced acute hepatic damage represents a
distinct situation. It can be encountered in clinical practice
both as acute and as acute-on-chronic liver injury. The biochemical
picture is characteristic (e.g., GGT/ALP ratio
> 2.5; jaundice may occur in more than 60% of patients38,39).
In a landmark study by Cohen and Kaplan, the increase in
AST levels was less than 6–7 times the upper reference
value in 98% of the patients with alcoholic liver disease,
and the AST/ALT ratio was greater than 1 in 92% and
greater than 2 in 70% of the patients.19 The presence of
physical signs of chronic liver disease and the patient’s history
may help distinguish between acute and acute-onchronic
damage.
After the most common causes of acute liver injury have
been excluded, consideration should be given to minor hepatitis
viruses (e.g., Epstein–Barr virus, cytomegalovirus)
and to autoimmune, extrahepatic and congenital
causes.1,15,24,25 Autoimmune hepatitis may present with a
mild increase in aminotransferase levels or with a moderate
to marked increase in aminotransferase levels (up to
49% of patients) with jaundice.40,41,42 This diagnosis is further
discussed in the next section. Finally, as many as 25%
of the patients with AST levels greater than 10 times the
upper reference limit may have acute extrahepatic biliary
tract obstruction, which can be heralded by a peak in
aminotransferase levels (> 50 times the upper reference
value in 1%–2% of patients) that rapidly subsides once the
obstruction has been removed.5,43,44,45 The patient’s history,
presence of symptoms such as biliary pain and the ultrasound
evidence of dilated bile ducts can provide a definitive
diagnosis.
Mild increase in aminotransferase levels
A minimal or mild increase in aminotransferase level is
the most common biochemical alteration encountered in
everyday clinical practice. In addition to considering the
when and where of the alterations, there is a series of firstline
tests that can be performed on all patients because of
their clinical relevance and the high prevalence of the diseases
screened by these tests (Fig. 4). Extrahepatic causes of
aminotransferase alteration (especially in patients with isolated
AST elevation) should be ruled out by considering
the clinical context of enzyme abnormality. Although some
reviews dealing with liver enzyme alteration suggest repeating
tests as a first measure in order to rule out laboratory
error, we do not feel that a second, normal result is enough
to exclude the presence of disease, and we recommend that
a first-line, clinically guided screening for the most prevalent
causes of chronic liver disease be started together with
repetition of the test (Fig. 4). In fact, chronic hepatitis C
infection is characterized by a pattern of aminotransferase
levels fluctuating around the upper reference value. For patients
who are taking drugs known to cause liver injury or
who have evidence of alcohol abuse, a second, confirmatory
check of aminotransferase levels after alcohol or the medication
has been stopped can be a suitable option; patients
who have evidence of alcohol abuse also need to be carefully
assessed for the risk of underlying chronic damage.
As in the case of acute damage, the pharmacologic history
of the patient is of particular importance. All
nonessential and over-the-counter medications should be
discontinued, and discontinuation of an essential medication
should be considered in a risk–benefit perspective.
The use of dedicated scales or scores may help the clinician
assess the likelihood of the hepatic drug reaction.46,47 Liver
biopsy may represent a suitable diagnostic option in particular
cases.
Nonalcoholic fatty liver disease is the most common
cause of mild alteration of liver enzyme levels in the western
world, and, according to the National Health and Nutritional
Survey, point-prevalence is about 23% among
American adults.48 The biochemical picture includes mildly
raised aminotransferase levels, and GGT levels can be elevated
up to 3 times the upper reference value in nearly half
of patients in the absence of ethanol consumption.49 As with
chronic viral hepatitis, an AST/ALT ratio greater than 1,
which is observed in 61% of patients with advanced fibrosis
and 24% of patients with no or initial fibrosis, is highly
suggestive of advanced liver disease.50 Suspicion of nonalcoholic
fatty liver disease is increased by the presence of conditions
linked to the metabolic syndrome and insulin resistance
(increased body mass index, diabetes, hyperlipemia,
hypertension), although the disease may occur in patients
without these associated factors.48,49 The diagnostic approach
to suspected nonalcoholic fatty liver disease is
aimed at ruling out other causes of liver disease since there
is no specific blood test for diagnosis. Distinguishing between
simple steatosis with or without minimal inflammation
and nonalcoholic steatohepatitis with fibrosis with
confidence is not possible on clinical grounds alone, and
therefore liver biopsy should be performed in order to confirm
diagnosis and assess prognosis.7,48,49,51
All patients presenting with mild increases in aminotransferase
levels should be questioned about risk factors
for hepatitis B or C infection (intravenous drug use, exposure
to nonsterile needles or sexual exposure to an infected
person). However, since these 2 diseases have a high preva-
Giannini et al
372 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
lence worldwide52,53 and infected people may lack or underreport
specific risk factors for infection,54,55 testing for HCV
antibodies and hepatitis B surface antigens is advisable for
all patients presenting with a mild increase in aminotransferase
levels. If the patient tests positive for HCV antibodies,
then qualitative HCV RNA testing should follow. In
subjects who are seropositive for hepatitis B, the successive
diagnostic work-up may depend upon the clinical situation
(e.g., e-minus v. wild-type strands). It is important to emphasize
that the degree of aminotransferase alteration is a
poor guide to the severity of the disease in patients with
established chronic viral hepatitis (Fig. 2), unless an
AST/ALT ratio greater than 1 is found.56–59 An AST/ALT
ratio greater than 1 can be found in 4% of patients with
chronic hepatitis C infection and in 79% of patients who
also have liver cirrhosis.57 Among patients with cirrhosis of
viral cause, an AST/ALT ratio greater than 1.17 was found
to prognosticate 1-year survival with 87% sensitivity
(69%–96%, 95% CI) and 52% specificity (40%–64%, 95%
CI).59 Patients may benefit from ultrasound examination of
the liver in order to evaluate the presence of signs of advanced
disease or liver masses. In patients with viral hepatitis,
liver biopsy is needed to assess progression, evaluate the
need for therapy and establish a prognosis.
HFE-related hereditary hemochromatosis is a fairly
common autosomal recessive condition (homozygote frequency
1:200-1:400)13 that is characterized by pathological
deposition of iron in the liver, pancreas and heart. Serum
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 373
Fig. 4: Schematic, initial diagnostic algorithm for a patient presenting with mild aminotransferase abnormality. HCV = hepatitis
C virus, HBsAG = hepatitis B surface antigen, ANA = antinuclear antibodies, ASMA = anti-smooth body antibodies, LKM =
liver–kidney microsomes. Alcohol abuse and, to a lesser extent, drug-induced liver injury are frequently associated with mild
aminotransferase abnormality, and their causality should be ruled out on a clinical basis. In the western world, chronic viral hepatitis,
autoimmune hepatitis and hereditary hemochromatosis are the most common causes of mild aminotransferase alteration
for which specific serological tests are available. Although nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) or steatohepatitis is frequently
encountered in clinical practice, it remains a diagnosis of exclusion.

– – –
Patient with mild alteration in aminotransferase levels
Extrahepatic
causes
Consider the clinical context of enzyme abnormality History of alcohol or
medication use or both
Avoid alcohol or
medication and re-check
Alteration
persists?
Middle-aged woman with
concomitant autoimmune diseases
Increased transferrin saturation
and ferritin
Presence of risk factors for
hepatitis viruses
Test for anti-HCV and HBsAg Test for HFE mutation Test ANA, ASMA, anti-LKM
Consider NAFLD
Yes No
ferritin, iron and transferrin saturation index (serum
iron/total iron binding capacity) should routinely be measured
in patients with altered aminotransferase levels.60
High ferritin levels and, most importantly, a transferrin saturation
index greater than 45% are strongly suggestive of
the disease.60 The presence of diabetes, heart disease or
arthritis is also suggestive, and mutation analysis for the
HFE gene may confirm the diagnosis, especially if the
patient is of northern European descent.13 Nevertheless,
other, rarer forms of non-HFE-related hereditary hemochromatosis
are being characterized more frequently,
and liver biopsy remains a fundamental diagnostic tool in
the presence of strong clinical suspicion and a negative result
for HFE gene mutation analysis.60
The presence of a mild elevation in aminotransferase
levels in female patients with concomitant autoimmune disorders
(e.g., autoimmune thyroiditis, connective tissue diseases)
is suggestive of autoimmune hepatitis. The prevalence
of the disease is about 1:6000 to 1:7000, and as many
as 80% of patients may have hypergammaglobulinemia
even in the absence of liver cirrhosis.40,61 Patients with suspected
autoimmune hepatitis should have autoantibodies
tested (antinuclear, anti-smooth muscle and anti-liver–
kidney microsomes), although the criteria for diagnosis are
complex and include liver biopsy.40,42,61 Patients may have a
dramatic therapeutic response to corticosteroids, but the
course of the disease may be long and can fluctuate between
phases of remission and relapses that may mimic
acute hepatitis.40,42,61
Wilson’s disease (homozygote frequency 1:30 000–
1:300 000) should be suspected in young patients with signs
of hemolysis or concomitant psychiatric or neurologic
symptoms, and serum ceruloplasmin levels and copper metabolism
(serum and 24-hour urinary copper) should be
tested. Diagnosis in patients showing low serum ceruloplasmin
levels and increased urinary copper excretion can be
confirmed by slit-lamp examination for Kayser–Fleischer
rings, although liver biopsy with quantitative copper measurement
may be needed where no clear clinical diagnosis
is possible.15,45
Although α-1-antitripsin deficiency is not a rare disease,
affecting 1:1600–1:2800 newborns in Europe and the
United States, it is an unusual cause of aminotransferase alteration
among adults since the disease is usually identified
in childhood.62 It can be suspected in adult patients with
concomitant pulmonary disease (emphysema), although
low serum α-1-antitripsin levels and phenotype determination
provide definite diagnosis.62
Finally, it has been reported that up to 10% of patients
with unexplained hypertransaminasemia actually have
celiac disease, and minimal or mild alteration of aminotransferase
levels may be the only visible part of the
“celiac iceberg.”63 In these patients, screening by measuring
tissue transglutaminase antibodies and confirmation
and grading of the disease by small bowel biopsy are required
for diagnosis.64
Cholestatic predominance
Presentation of liver injury with a prevalent cholestatic
pattern is less frequently encountered in clinical practice
than the pattern of hepatocellular damage. ALP and bilirubin
levels are routinely assessed, and the level of GGT is
often measured as an additional aid toward diagnosis in
particular situations because of its high sensitivity but low
specificity.
Alkaline phosphatase
ALP is an enzyme that transports metabolites across cell
membranes. Liver and bone diseases are the most common
causes of pathological elevation of ALP levels, although
ALP may originate from other tissue, such as the placenta,
kidneys or intestines, or from leukocytes.65 The third
trimester of pregnancy (placenta origin) and adolescence
(bone origin) are associated with an isolated increase in
serum ALP levels.4 Hepatic ALP is present on the surface
of bile duct epithelia. Cholestasis enhances the synthesis
and release of ALP, and accumulating bile salts increase its
release from the cell surface.66,67 ALP half-life in the circulation
is about 1 week.4 These characteristics explain why
ALP levels usually rise late in bile duct obstruction and decrease
slowly after resolution.
In some patients (e.g., pregnant women, adolescents) the
reason for increased ALP levels may be straightforward,
but in other patients it is necessary to identify the origin of
the enzyme. This task can be accomplished in 2 ways: assessment
of GGT levels or dosage of ALP isoenzymes (Fig.
5). From a practical point of view, measurement of GGT is
preferred since it relies on automated analysis rather than
on more sophisticated and expensive techniques.
The degree and rate of enzyme alteration may provide
minor and nonspecific clues to diagnosis, but the presence
of symptoms and the patient’s history, with particular emphasis
on comorbid conditions, may provide fundamental
clues (Fig. 5). Liver ultrasound may reveal the presence of
bile duct dilation, demonstrate signs of chronic liver disease
or even liver cirrhosis, and identify hepatic masses.
Drug-induced liver injury may present with a cholestatic
pattern (preferential increase in ALP or ALT/ALP ratio
< 2), although the degree of ALP alteration is variable and
may be accompanied by hyperbilirubinemia.68 Commonly
used drugs such as antihypertensives (e.g., angiotensinconverting
enzyme inhibitors) or hormones (e.g., estrogen)
may cause cholestasis and can be overlooked. Liver ultrasound
in these patients is often unremarkable.
Varying degrees of ALP alteration in patients with inflammatory
bowel disease (most commonly ulcerative colitis)
suggest the presence of primary sclerosing cholangitis,
since about 70% of these cases are associated with inflammatory
bowel disease.69 The same biochemical abnormality
observed in middle-aged women with a history of itching
and autoimmune disease raises the suspicion of
Giannini et al
374 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
primary biliary cirrhosis.70 Further diagnostic work-up of
patients with suspected autoimmune cholestatic liver disease
includes testing antineutrophil cytoplasmic antibodies
and cholangiography for primary sclerosing cholangitis
and antimitochondria antibodies and total IgM levels for
primary biliary cirrhosis. In these diseases, ALP and GGT
levels may be slightly or markedly raised, whereas aminotransferase
levels are often minimally altered or within the
upper reference limit, unless overlapping features of autoimmune
cholestatic diseases and autoimmune hepatitis
occur.71 In patients with primary sclerosing cholangitis or
primary biliary cirrhosis, serum bilirubin levels have prognostic
meaning,72,73 and liver ultrasound may reveal an
echotexture suggestive of diffuse disease or even liver cirrhosis
(Fig. 5).
ALP alteration due to common bile duct obstruction
may be heralded by a peak in aminotransferase levels, typical
symptoms and conjugated hyperbilirubinemia, especially
in the acute setting, or the ALP levels may have a
fluctuating pattern (± GGT alteration) with normal serum
bilirubin in “valve” choledocholithiasis.43,44 In these patients,
liver ultrasound may show dilated bile ducts, and endoscopic
retrograde cholangiopancreatography can be used to
remove the obstacle.
Abnormal ALP levels may also be a sign of metastatic
cancer of the liver, lymphoma or infiltrative diseases such
as sarcoidosis. In some of these situations ALP levels may
be markedly elevated and the only sign of liver involvement.
In these cases, liver ultrasound examination is extremely
important when the patient history is not suggestive
of disease, although some patients may require liver
biopsy in order to obtain a definitive diagnosis.24,25
The clinical work-up described in Fig. 5 should help to
establish a diagnosis in the majority of patients with elevated
ALP levels. The degree of elevation seems to have no
specific diagnostic relevance. Nevertheless, diagnosis may
not be evident even after thorough evaluation in asymptomatic
patients with mild increases in ALP levels. As mentioned
above, liver biopsy can provide a fundamental clue
to some unusual and unsuspected diagnoses.
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 375
Fig. 5: Suggested diagnostic algorithm for patients presenting with increased alkaline phosphatase levels. AMA = antimitochondria
antibodies, PBC = primary biliary cirrhosis, ANCA = antineutrophil cytoplasmic antibodies, ERCP = endoscopic retrograde
cholangiopancreatography, PSC = primary sclerosing cholangitis.
+ –
Alkaline phosphatase (ALP) levels above the upper reference value
Confirm origin of ALP with γ-glutamyl-transpeptidase test
Hepatic source
Clinical setting Additional features Liver ultrasound Diagnosis
Extrahepatic source
Female, other autoimmune diseases High IgM, serum cholesterol, AMA+ Signs of diffuse disease PBC
Concomitant IBD ANCA+, ERCP diagnostic Signs of diffuse disease PSC
Medications suspected Increased bilirubin and/or
aminotransferase levels
Normal Cholestatic drug
reaction
Right upper quadrant pain, fever Increased bilirubin levels Dilated bile ducts Biliary
obstruction
Extrahepatic malignant disease None, or those related to
primary disease
Hepatic masses
Other concomitant diseases None; liver biopsy may be required Normal or signs of
diffuse disease
γ-Glutamyl transpeptidase
GGT is an enzyme that is present in hepatocytes and
biliary epithelial cells, renal tubules, and the pancreas and
intestine. The mechanisms of alteration are similar to
those described for alkaline phosphatase. GGT is a microsomal
enzyme, and its activity can be induced by several
drugs, such as anticonvulsants and oral contraceptives.74
Elevated GGT levels can be observed in a variety of nonhepatic
diseases, including chronic obstructive pulmonary
disease and renal failure, and may be present for weeks after
acute myocardial infarction. Increased serum levels observed
in alcoholic liver disease can be the result of enzyme
induction and decreased clearance. In these patients,
GGT serum levels can be markedly altered (> 10 times the
upper reference value), whereas ALP levels may be normal
or only slightly altered (GGT/ALP ratio > 2.5). The
whole spectrum of liver diseases, regardless of cause, may
be responsible for altered GGT serum levels. In particular,
GGT levels may be 2–3 times greater than the upper reference
value in more than 50% of the patients with nonalcoholic
fatty liver disease and above the upper reference
value in about 30% of patients with chronic hepatitis C infection.
75,76 Furthermore, an increase in GGT levels in patients
with chronic liver disease is associated with bile duct
damage and fibrosis.76 Thus, because of its lack of specificity
but high sensitivity for liver disease, GGT can be
useful for identifying causes of altered ALP levels, or elevated
levels, together with other biochemical abnormalities
(AST/ALT ratio > 2),19 may support the diagnosis of
alcoholic liver disease.
Bilirubin
Bilirubin is the product of hemoglobin catabolism within
the reticuloendothelial system. Heme breakdown determines
the formation of unconjugated bilirubin, which is
then transported to the liver. In the liver, UDP-glucuronyltransferase
conjugates the water-insoluble unconjugated
bilirubin to glucuronic acid, and conjugated bilirubin
is then excreted into the bile.77,78
Unconjugated bilirubin may increase because of augmented
bilirubin production or decreased hepatic uptake
or conjugation or both (Table 3). In adults, the most
common conditions associated with unconjugated hyperbilirubinemia
are hemolysis and Gilbert’s syndrome.78
Hemolysis can be ruled out by measuring hemoglobin
serum levels, reticulocyte count, and haptoglobin levels.
Gilbert’s syndrome is determined by a variety of genetic
defects in UDP-glucuronyltransferase that affect about
5% of the population.79 In these subjects serum indirect
bilirubin usually does not exceed 68 μmol/L, and the remainder
of liver chemistry tests and liver ultrasound are
unremarkable.80 Although a series of tests has been proposed
to confirm the diagnosis, this condition is usually
diagnosed on a clinical basis alone, and the patient should
be reassured of the benign nature of this enzymatic alteration.
80 Other, less frequent causes of unconjugated hy-
Giannini et al
376 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
Table 3: Causes, clinical features and biochemical abnormalities of hyperbilirubinemia
Type Cause Clinical features and biochemical abnormalities
Unconjugated
hyperbilirubinemia
Hemolysis Decreased hemoglobin and haptoglobin levels
Increased reticulocyte count
Gilbert’s syndrome None
Hematoma reabsorption Increased CK and LDH levels
Ineffective erythropoiesis
Conjugated
hyperbilirubinemia
Bile duct obstruction Preceded by marked increase in aminotransferase levels
Presence of suggestive symptoms (right upper quadrant pain,
nausea, fever)
Hepatitis (various causes) Concomitant moderate to marked increase in
aminotransferase levels
Cirrhosis Aminotransferase levels may be normal or only slightly
elevated
Presence of other physical and instrumental signs of chronic
liver disease
Autoimmune cholestatic diseases
(PBC, PSC)
Marked increase in ALP levels with normal or mildly elevated
aminotransferase levels
Presence of other autoimmune diseases or associated diseases
(e.g., IBD)
Total parenteral nutrition Increased ALP and GGT levels
Drug toxins Concomitant increase in ALP levels
Vanishing bile duct syndrome Can be associated with drug reactions or in OLT setting
Note: CK = creatine kinase, PSC = primary sclerosing cholangitis, PBC = primary biliary cirrhosis, IBD = inflammatory bowel disease, GGT = γ-glutamyl-transpeptidase,
OLT = orthotopic liver transplantation.
perbilirubinemia include reabsorption of large hematomas
and ineffective erythropoiesis.24
In healthy people, conjugated bilirubin is virtually absent
from serum mainly because of the rapid process of bile
secretion.1 Levels increase when the liver has lost at least
half of its excretory capacity. Therefore, the presence of increased
conjugated bilirubin is usually a sign of liver disease.
Conjugated hyperbilirubinemia (usually < 34 μmol/L)
and concomitant, markedly elevated aminotransferase levels
may suggest acute viral hepatitis or toxic or ischemic
liver injury. Furthermore, this biochemical picture can be
the presenting feature of autoimmune hepatitis.40–42 On the
other hand, a purely cholestatic picture, with conjugated
hyperbilirubinemia, an increase in ALP levels and a negligible
increase in aminotransferase levels, may be present in
cholestatic drug reactions.16,68 Sometimes, the same biochemical
picture may be present in the late presentation of
previously unrecognized autoimmune cholestatic diseases
(primary biliary cirrhosis, primary sclerosing cholangitis).
In these patients, the presence of other signs of chronic
liver disease may facilitate diagnosis.62,69,70
Biliary obstruction can cause various degrees of conjugated
hyperbilirubinemia. The severity of alteration depends
upon the degree and duraction of obstruction and
the functional reserve of the liver. Biliary obstruction may
have an abrupt onset and be preceded by typical symptoms
(right upper quadrant pain, nausea) or may be silent and
progressive. With the presence or absence of concomitant
aminotransferase alteration, a liver ultrasound is essential
to identify and locate the obstacle to bile flow.
Once the causal condition of conjugated hyperbilirubinemia
has resolved, whatever the cause, bilirubin serum
levels decrease in a bimodal fashion. There is a first, rapid
decrease and then a later, slower decrease caused by the
binding of bilirubin to albumin and the formation of a
complex (δ-bilirubin) that has the same half-life as serum
albumin.77,78,81
Albumin and prothrombin time assessment:
Are we really testing liver function?
Determining serum albumin levels and assessing prothrombin
time are often considered “tests of liver function.”
This is mainly because hepatic synthesis of albumin
tends to decrease in end-stage liver disease, and an increase
in prothrombin time depends on the decreased synthesis
of liver-derived coagulation factors. In fact, albumin
is produced by hepatocytes, and prothrombin time depends
on the activity of clotting factors I, II, V, VII and X,
which are produced in the liver. However, neither test is
specific for liver disease, since albumin serum levels may
decrease in patients with nephrotic syndrome, malabsorption
or protein-losing enteropathy, or malnutrition, and
prothrombin time may be prolonged by warfarin treatment,
deficiency in vitamin K (which is needed to activate
clotting factors II, VII and X) and consumptive coagulopathy.
1,4,5,82 The finding of hypoalbuminemia and no other alterations
in liver tests virtually rules out the hepatic origin
of this abnormality.
However, when it is certain that the cause of their alteration
is liver disease, serum albumin levels and prothrombin
time are useful tests for monitoring liver synthetic activity.
The half-life of albumin in circulation is long (about
20 days), and the half-life of blood clotting factors is quite
short (about 1 day).4,5,82 Thus, albumin levels decrease when
cirrhosis occurs, and they have prognostic meaning in these
patients. On the contrary, patients with acute, massive hepatocellular
necrosis (acute toxic or viral hepatitis) may
have a brisk increase in prothrombin time (usually < 3 seconds)
that tends to plateau, and normal albuminemia. In
these patients, prothrombin time can be monitored in order
to assess the risk of acute liver failure. On the other
hand, prothrombin time is not useful for assessing liver
function in patients with mild aminotransferase alteration,
since prothrombin time can remain within normal limits
for long periods unless a marked decrease in liver function
occurs and patients with compensated liver cirrhosis may
have normal prothrombin time.81 Thus, it is evident from
these data that albumin and prothrombin time alteration
should be interpreted within the clinical and biochemical
context of the patient.
Obstructive jaundice may decrease the absorption of vitamin
K, and therefore increase prothrombin time. In this
situation, prothrombin time responds to parenteral administration
of vitamin K, which is ineffective when jaundice is
caused by decreased liver functioning mass. Finally, prothrombin
time values are strictly dependent upon the International
Sensitivity Index of the reagent that is used,
and this does not allow for easy standardization of results
among laboratories.4,5 Taking these limitations into account,
both serum albumin and prothrombin time can be
considered useful tools, alone or combined in clinical
scores, for evaluating liver function.83–86 Nevertheless, tests
that involve administering exogenous compounds may be
used to evaluate liver function more accurately.87
Conclusions
Alterations in liver enzyme levels are one of the most
common problems encountered in everyday clinical practice.
Finding the way through the multiple diagnostic
pathways can challenge even the experienced clinician.
Knowledge of the pathophysiology of liver enzymes is an
essential guide to understanding their alteration. The pattern
of enzyme abnormality, interpreted in the context of
the patient’s characteristics, can aid in directing the subsequent
diagnostic work-up. Awareness of the prevalence of
determined liver disease in specific populations and of possible
hepatic involvement during systemic illnesses or drug
therapies may help the clinician identify the cause of alterations
efficiently.
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 377
References
1. Green RM, Flamm S. AGA technical review on the evaluation of liver chemistry
tests. Gastroenterology 2002;123(4):1367-84.
2. Burkitt HG, Young B, Heath JW. Wheater’s functional histology: a text and
colour atlas. 3rd ed. Edinburgh: Churchill Livingston, 1993.
3. Worobetz L, Hilsden R, Shaffer E, Simon J Pare P, Scully L, et al. The liver.
In Thomson BR, Shaffer EA, editors. First Principles of Gastroenterology. 2nd
ed. University of Toronto Press: Toronto; 1994.
4. Dufour DR, Lott JA, Nolte FS, Gretch DR, Koff RS, Seeff LB. Diagnosis
and monitoring of hepatic injury. I. Performance characteristics of laboratory
tests. Clin Chem 2000;46(12):2027-49.
5. Dufour DR, Lott JA, Nolte FS, Gretch DR, Koff RS, Seeff LB. Diagnosis
and monitoring of hepatic injury. II. Recommendations for use of laboratory
tests in screening, diagnosis, and monitoring. Clin Chem 2000;46(12):2050-68.
6. Gholson CF, Morgan K, Catinis G, Favrot D, Taylor B, Gonzalez E, et al.
Chronic hepatitis C with normal aminotransferase levels: a clinical histologic
study. Am J Gastroenterol 1997;92(10):1788-92.
7. Mofrad P, Contos MJ, Haque M, Sargeant C, Fisher RA, Luketic VA, et al.
Clinical and histologic spectrum of nonalcoholic fatty liver disease associated
with normal ALT values. Hepatology 2003;37(6):1286-92.
8. Dufour DR. Effects of habitual exercise on routine laboratory tests [abstract].
Clin Chem 1998;44 (Suppl 6):A136.
9. Narjes H, Nehmiz G. Effect of hospitalisation on liver enzymes in healthy
subjects. Eur J Clin Pharmacol 2000;56(4):329-33.
10. Whitehead MW, Hawkes ND, Hainsworth I, Kingham JGC. A prospective
study of the causes of notably raised aspartate aminotransferase of liver origin.
Gut 1999;45(1):129-33.
11. Chadha MS, Walimbe AM, Chobe LP, Arankalle VA. Comparison of etiology
of sporadic acute and fulminant viral hepatitis in hospitalized patients in
Pune, India during 1978-81 and 1994-97. Indian J Gastroenterol 2003;22(1):11
-5.
12. Feld JJ, Heathcote EJ. Epidemiology of autoimmune liver disease. J Gastroenterol
Hepatol 2003;18(10):1118-28.
13. Merryweather-Clarke AT, Pointon JJ, Shearman JD, Robson KJ. Global
prevalence of putative haemochromatosis mutations. J Med Genet 1997;34(4):
275-8.
14. Barton JC, Acton RT. Inheritance of two HFE mutations in African Americans:
cases with hemochromatosis phenotypes and estimates of hemochromatosis
phenotype frequency. Genet Med 2001;3(4):294-300.
15. Roberts EA, Schilsky ML. A practice guideline on Wilson disease. Hepatology
2003;37(6):1475-92.
16. Lee WM. Drug-induced hepatotoxicity. N Engl J Med 2003;349(5):474-85.
17. Fogden E, Neuberger J. Alternative medicines and the liver. Liver Int 2003;23
(4):213-20.
18. Vanderlinde RE. Review of pyridoxal phosphate and the transaminases in
liver disease. Ann Clin Lab Sci 1986;16(2):79-93.
19. Cohen JA, Kaplan MM. The SGOT/SGPT ratio — an indicator of alcoholic
liver disease. Dig Dis Sci 1979;24(11):835-8.
20. Diehl AM, Potter J, Boitnott J, Van Duyn MA, Herlong HF, Mezey E. Relationship
between pyridoxal 5’-phosphate deficiency and aminotransferase levels
in alcoholic hepatitis. Gastroenterology 1984;86(4):632-6.
21. Wroblewski F. The clinical significance of alterations in transaminase activities
of serum and other body fluids. Adv Clin Chem 1958;1(2):313-51.
22. Rej R. Aminotransferases in disease. Clin Lab Med 1989;9(4):667-87.
23. Kamimoto Y, Horiuchi S, Tanase S, Morino Y. Plasma clearance of intravenously
injected aspartate aminotransferase isozymes: evidence for preferential
uptake by sinusoidal liver cells. Hepatology 1985;5(3):367-75.
24. Pratt DS, Kaplan MM. Evaluation of abnormal liver-enzyme results in
asymptomatic patients. N Engl J Med 2000;342(17): 1266-71.
25. Gopal DV, Rosen HR. Abnormal findings on liver function tests. Postgrad
Med 2000;107(2):100-14.
26. Rozen P, Korn RJ, Zimmerman HJ. Computer analysis of liver function tests
and their interrelationship in 347 cases of viral hepatitis. Isr Med Sci 1970;6(1):
67-79.
27. Dufour DR, Teot L. Laboratory identification of ischemic hepatitis (shock
liver) [abstract]. Clin Chem 1988;34:A1287.
28. Seeto RK, Fenn B, Rockey DC. Ischemic hepatitis: clinical presentation and
pathogenesis. Am J Med 2000;109(2):109-13.
29. Singer AJ, Carracio TR, Mofenson HC. The temporal profile of increased
transaminase levels in patients with acetaminophen-induced liver dysfunction.
Ann Emerg Med 1995;26(1):49-53.
30. Fuchs S, Bogomolski-Yahalom V, Paltiel O, Ackerman Z. Ischemic hepatitis:
clinical and laboratory observations of 34 patients. J Clin Gastroenterol 1998;
26(3):183-6.
31. Clermont RJ, Chalmers TC. The transaminase tests in liver disease. Medicine
1967;46(2):197-207.
32. Marcellin P. Hepatitis C: the clinical spectrum of the disease. J Hepatol 1999;
31(Suppl 1):9-16.
33. Geller SA. Hepatitis B and hepatitis C. Clin Liver Dis 2002;6(2):317-34.
34. Wedemeyer H, Jackel E, Wiegand J, Cornberg M, Manns MP. Whom?
When? How? Another piece of evidence for early treatment of acute hepatitis
C. Hepatology 2004;39(5):1201-3.
35. Shad JA, Chinn CG, Brann OS. Acute hepatitis after ingestion of herbs. South
Med J 1999;92(11):1095-7.
36. O’Grady JG. Acute liver failure. In: Comprehensive Clinical Hepatology. O’Grady
JG, Lake JR, Howdle PD, editors. Mosby:London, 2000. p. 16.1-16.13.
37. Sellers EM, Freedman F. Treatment of acetaminophen poisoning. CMAJ
1981;125(8):827-9.
38. Mendenhall CL. Alcoholic hepatitis. The VA Cooperative Study Group on
Alcoholic Hepatitis. ClinGastroenterol 1981;10(2): 417-41.
39. Goldberg S, Mendenhall C, Anderson S, Garcia-Pont P, Kiernan T, Seeff L,
et al. VA Cooperative Study on Alcoholic Hepatitis. IV. The significance of
clinically mild alcoholic hepatitis-describing the population with minimal hyperbilirubinemia.
Am J Gastroenterol 1986;81(11):1029-34.
40. Krawitt EL. Autoimmune hepatitis. N Engl J Med 1996;334(14):897-903.
41. Kessler WR, Cummings OW, Eckert G, Chalasani N, Lumeng L, Kuo PY.
Fulminant hepatic failure as the initial presentation of acute autoimmune hepatitis.
Clin Gastroenterol Hepatol 2004;2(7):625-31.
42. Alvarez F, Berg PA, Bianchi FB, Bianchi L, Burroughs AK, Cancado EL, et
al. International Autoimmune Hepatitis Group Report: review of criteria for
diagnosis of autoimmune hepatitis. J Hepatol 1999;31(5):929-38.
43. Forston WC, Tedesco FJ, Stames EC, Shaw CT. Marked elevation of serum
transaminase activity associated with extrahepatic biliary tract disease. J Clin
Gastroenterol 1985;7(6):502-5.
44. Anciaux ML, Pelletier AG, Attali P, Meduri B, Liguory C, Etienne JP.
Prospective study of clinical and biochemical features of symptomatic choledocolithiasis.
Dig Dis Sci 1986;31:449-53.
45. Ferenci P, Caca K, Loudianos G, Mieli-Vergani G, Tanner S, Sternlieb I, et
al. Diagnosis and phenotypic classification of Wilson disease. Liver Int 2003;
23(3):139-42.
46. Maria VA, Victorino RM. Development and validation of a clinical scale for
the diagnosis of drug-induced hepatitis. Hepatology 1997;26(3):664-9.
47. Aithal GP, Rawlins MD, Day CP. Clinical diagnostic scale: a useful tool in
the evaluation of suspected hepatotoxic adverse drug reactions. J Hepatol
2000;33(6);949-52.
48. Harrison SA, Kadakia S, Lang KA, Schenker S. Nonalcoholic steatohepatitis:
what we know in the new millenium. Am J Gastroenterol 2002;97(11):2714-24.
49. Brunt EM. Nonalcoholic steatohepatitis. Semin Liver Dis 2004;24(1):3-20.
50. Angulo P, Keach JC, Batts KP, Lindor KD. Independent predictors of liver
fibrosis in patients with nonalcoholic steatohepatitis. Hepatology 1999;30(6):
1356-62.
51. Matteoni CA, Younossi ZM, Gramlich T, Boparai N, Liu YC, Mc-Cullogh
AJ. Nonalcoholic fatty liver disease: a spectrum of clinical and pathological
severity. Gastroenterology 1999;116(6):1413-9.
52. Lavanchy D. Hepatitis B virus epidemiology, disease burden, treatment, and
current and emerging prevention and control measures. J Viral Hepat 2004;11
(2):97-107.
53. The Global Burden Of Hepatitis C Working Group. Global burden of disease
(GBD) for hepatitis C. J Clin Pharmacol 2004;44 (1):20-9.
54. Mele A, Spada E, Sagliocca L, Ragni P, Tosti ME, Gallo G, et al. Risk of parenterally
transmitted hepatitis following exposure to surgery or other invasive
procedures: results from the hepatitis surveillance system in Italy. J Hepatol
2001;35(2):284-9.
55. Memon MI, Memon MA. Hepatitis C: An epidemiological review. J Viral
Hepat 2002;9(2):84-100.
56. Williams AL, Hoofnagle JH. Ratio of serum aspartate to alanine aminotransferase
in chronic hepatitis. Relationship to cirrhosis. Gastroenterology 1988;95
(3):734-9.
57. Giannini E, Botta F, Fasoli A, Ceppa P, Risso D, Lantieri PB, et al. Progressive
liver functional impairment is associated with an increase in AST/ALT
ratio. Dig Dis Sci 1999;44(6):1249-53.
58. Giannini E, Risso D, Botta F, Chiarbonello B, Fasoli A, Malfatti F, et al. Validity
and clinical utility of the aspartate aminotransferase-alanine aminotransferase
ratio in assessing disease severity and prognosis in patients with hepatitis
C virus-related chronic liver disease. Arch Intern Med 2003;163(2):218-24.
59. Giannini E, Botta F, Testa E, Romagnoli P, Polegato S, Malfatti F, et al. The
1-year and 3-month prognostic utility of the AST/ALT ratio and model for
end-stage liver disease score in patients with viral liver cirrhosis. Am J Gastroenterol
2002;97(11):2855-60.
60. Tavill AS. Diagnosis and management of Hemochromatosis. Hepatology 2001;
33(5):1321-8.
61. Czaja AJ. Natural history, clinical features, and treatment of autoimmune hepatitis.
Semin Liver Dis 1984;4(1):1-12.
Giannini et al
378 JAMC • 1er FÉVR. 2005; 172 (3)
From the Gastroenterology Unit, Department of Internal Medicine, University of
Genoa, Genoa, Italy.
Competing interests: None declared.
This article has been peer reviewed.
62. Morrison ED, Kowdley KV. Genetic liver disease in adults: early recognition
of the three most common causes. Postgrad Med 2000;107(2):147-59.
63. Abdo A, Meddings J, Swain M. Liver abnormalities in celiac disease. Clin Gastroenterol
Hepatol 2004;2(2):107-12.
64. Farrell RJ, Kelly CP. Diagnosis of celiac sprue. Am J Gastroenterol 2001;96
(12):3237-46.
65. Fishman WH. Alkaline phosphatase isoenzymes: recent progress. Clin
Biochem 1990;23(2):99-104.
66. Moss DW. Physiochemical and pathophysiological factors in the release of
membrane-bound alkaline phosphatase from cells. Clin Chim Acta 1997;257
(1):133-40.
67. Schlaeger R, Haux D, Kattermann R. Studies on the mechanism of the increase
in serum alkaline phosphatase activity in cholestasis: significance of the
hepatic bile acid concentration for the leakage of alkaline phosphatase from
rat liver. Enzyme 1982;28(1):3-13.
68. Velayudham LS, Farrell GC. Drug-induced cholestasis. Expert Opin Drug Saf
2003;2(3):287-304.
69. Ponsioen CI, Tytgat GN. Primary sclerosing cholangitis: a clinical review.
Am J Gastroenterol 1998;93(4):515-23.
70. Heathcote J. Update on primary biliary cirrhosis. Can J Gastroenterol 2000;14
(1):43-8.
71. Poupon R. Autoimmune overlapping syndromes. Clin Liver Dis 2003;7(4):865-78.
72. Bonnand AM, Heathcote EJ, Lindor KD, Poupon RE. Clinical significance of
serum bilirubin levels under ursodeoxycholic acid therapy in patients with primary
biliary cirrhosis. Hepatology 1999;29(1):34-43.
73. Kim WR, Therneau TM, Wiesner RH, Poterucha JJ, Benson JT, Malinchoc
M, et al. A revised natural history model for primary sclerosing cholangitis.
Mayo Clin Proc 2000;75(7):688-94.
74. Rosalki SB, Tarlow D, Rau D. Plasma gamma-glutamyl transpeptidase elevation
in patients receiving enzyme-inducing drugs. Lancet 1971;2:376-7.
75. McCullough AJ. Update on nonalcoholic fatty liver disease. J Clin Gastroenterol
2002;34(3):255-62.
76. Giannini E, Botta F, Fasoli A, Romagnoli P, Mastracci L, Ceppa P, et al. Increased
levels of gammaGT suggest the presence of bile duct lesions in patients
with chronic hepatitis C: absence of influence of HCV genotype,
HCV-RNA serum levels, and HGV infection on this histological damage. Dig
Dis Sci 2001;46(3):524-9.
77. Berk PD, Noyer C. Clinical chemistry and physiology of bilirubin. Semin
Liver Dis 1994; 4(4):346-55.
78. Fevery J, Blanckaert N. What can we learn from analysis of serum bilirubin. J
Hepatol 1986;2(1):113-21.
79. Bosma PJ, Chowdury JR, Bakker C, Gantla S, de Boer A, Oostra BA, et al.
The genetic bases of the reduced expression of bilirubin UDP-glucuronosyltransferase
1 in Gilbert’s syndrome. N Engl J Med 1995;333(18):1171-5.
80. Thomsen HF, Hardt F, Juhl E. Diagnosis of Gilbert’s syndrome. Scand J Gastroenterol
1981;16(5):699-703.
81. Van Hootegem P, Fevery J, Blanckaert N. Serum bilirubins in hepatobiliary
disease: comparison with other liver function tests and changes in the postobstructive
period. Hepatology 1985;5(1):112-7.
82. Doumas BT, Peters T. Serum and urine albumin: a progress report on their
measurement and clinical significance. Clin Chim Acta 1997;258(1):3-20.
83. Pugh RN, Murray-Lyon IM, Dawson JL, Pietroni MC, Williams R. Transection
of the oesophagus for bleeding oesophageal varices. Br J Surg 1973;60(8):
646-9.
84. Bonis PA, Tong MJ, Blatt LM, Conrad A, Griffith JL. A predictive model for
the development of hepatocellular carcinoma, liver failure, or liver transplantation
for patients presenting to clinic with chronic hepatitis C. Am J Gastroenterol
1999;94(6):1605-12.
85. Kamath PS, Wiesner RH, Malinchoc M, Kremers W, Therneau TM, Kosberg
CL, et al. A model to predict survival in patients with end-stage liver disease.
Hepatology 2001;33(2):464-70.
86. Botta F, Giannini E, Romagnoli P, Fasoli A, Malfatti F, Chiarbonello B, et al.
MELD scoring system is useful for predicting prognosis in patients with liver
cirrhosis and is correlated with residual liver function: a European study. Gut
2003;52(1):134-9.
87. Jalan R, Hayes PC. Review article: quantitative tests of liver function. Aliment
Pharmacol Ther 1995;9(3):263-70.
An approach to liver enzyme alteration
CMAJ • FEB. 1, 2005; 172 (3) 379
Correspondence to: Dr. Edoardo G. Giannini, Gastroenterology
Unit, Department of Internal Medicine, University of Genoa,
Viale Benedetto XV, no. 6, 16132, Genoa, Italy; fax: 39 010 353
8638; egiannini@unige.it
Conne ions Med X un service bilingue de jumelage d’emplois
en direct de l’AMC
Les employeurs peuvent…
• Accéder en quelques minutes à un effectif de travailleurs de la
santé hautement qualifiés.
• Afficher rapidement et facilement des possibilités d’emploi.
• Recevoir des rabais qui sont offerts aux employeurs membres de l’AMC.
Les candidats peuvent…
• Chercher et postuler pour des débouchés disponibles d’un bout à l’autre
du Canada.
• Permettre aux employeurs de consulter leur CV.
• Réviser, mettre à jour ou supprimer à tout moment leur CV.
Renseignement : jobmatching@cma.ca ou 800 663-7336 poste 2231
Consultez MedConneXions sur amc.ca
Inscription
gratuite
403