Latar Belakang

Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, dapatmerupakan kawasan perkotaan dan perdesaan, berfungsi sebagai lingkungan tempattinggal/hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan danpenghidupan.Pola pemukiman menunjukkan tempat bermukim manusia dan bertempat tinggalmenetap dan melakukan kegiatan/aktivitas sehari-harinya. Pemukiman dapatdiartikan sebagai suatu tempat (ruang) atau suatu daerah dimana penduduk terkonsentrasi dan hidup bersama menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidupnya. Pengertian poladan sebaran pemukiman memiliki hubungan yang sangat erat. Sebaran permukimanmembincangkan hal dimana terdapat permukiman dan atau tidak terdapatpermukiman dalam suatu wilayah, sedangkan pola pemukiman merupakan sifatsebaran, lebih banyak berkaitan dengan akibat faktor-faktor ekonomi, sejarah danfaktor budaya.Pemukiman diseluruh dunia dapat dibedakan menjadi dua yaitu pemukiman desadan kota. Setiap bentuk pemukiman memiliki pola dan bentuk masing-masing,sehingga untuk menggolongkan setiap pemukiman tersebut dibutuhkan kriteria danciri tertentu. Pemukiman kota dan desa di setiap negara baik itu negara berkembangatau negara maju juga memiliki karakteristik yang berbeda baik struktur ataumorfologinya. Walaupun jika digambarkan secara umum memiliki karakteristik yangsama, namun jika dijabarkan secara khusus setiap wilayah tidak ada yang memilikikarakteristik yang sama. Ini dipengaruhi oleh letak, kondisi geografis wilayah,budaya masyarakatnya. Termasuk Indonesia sebagai negara berkembang memilikikarakater pemukiman yang berbeda dengan negara lain. Hal ini dapat dilihat dariberagam pola pemukiman yang terdapat dari Sabang sampai Merauke.

umusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dijabarkan rumusan masalahdalam makalah ini yaitu bagaimana proses terbentuknya pemukiman desa dan kotadilihat dari pendapat para ahli yang telah mengembangkan model-model strukturkota, pola pemukiman desa dan kota baik di negara maju dan negara berkembang.Dan bagaimana terbentuknya pemukiman desa dan kota di Indonesia dilihat darisejarah dan budaya masyarakat

AB IIPEMBAHASANA.

 

Ringkasan Rural and Urban Settlements

Pemukiman dapat berupa tempat hunian, sebuah dusun, desa, dan kota.Meskipun memiliki nama yang berbeda baik secara informal atau secara hukummemiliki definisi sebagai diskrit, namun secara praktis masing-masing nama tersebutdikategorikan secara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sulit untuk melihatbatas garis secara jelas dalam hal ukuran atau fungsi antara kota besar dan kota kecil.

Teori Tempat Sentral (Central Place)

Teori ini memaparkan tentang persebaran dan besarnya pemukiman (hierarkipemukiman dan persebarannya). Bahwa berbagai jenis barang pada orde yang samacenderung bergabung pada pusat wilayahnya, sehingga pusat itu menjadi lokasikosentrasi (kota). Dengan kata lain terciptanya suatu kota didorong oleh paraprodusen berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung berlokasi pada titik sentral di wilayahnya.Walter Christaller (Jerman, 1933) mengemukakan tentang teori tempat sentral(

Theory central place

). Christaller menyusun teori ini untuk menjawab tigapertanyaan utama yaitu, apakah yang menentukan banyaknya, besarnya, danpersebaran kota? Teori ini menyangkut hierarki pemukiman dan persebarannya secarageografis.Menurut Christaller terdapat konsep yang disebut jangkaun (

range

) dan batasambang (

treshold 

).

 Range

adalah jarak yang perlu ditempuh manusia untuk mendapatkan barang kebutuhan pada suatu waktu tertentu saja.

Treshold 

adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangansuplai barang.Dalam teori ini diasumsikan pada wilayah datar yang luas dihuni olehsejumlah penduduk dengan kondisi yang merata. Dalam memenuhi kebutuhannya, enduduk memerlukan berbagai jenis barang dan jasa, seperti makanan, minuman,perlengkapan rumah tangga, pelayanan pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Untuk memperoleh kebutuhan tersebut penduduk harus menempuh jarak tertentu dari rumahyang disebut range.Lima asumsi yang digunakan Christaller untuk membangun teori denganpendekatan ilmu geografi ekonomi, antara lain: (1) Karena para konsumen yangmenanggung ongkos angkutan, maka jarak ke tempat pusat yang dinyatakan dalambiaya dan waktu sangat penting, (2) karena konsumen yang menanggung ongkosangkutan, maka jangkauan (range) suatu barang ditentukan oleh jarak yangdinyatakan dalam biaya dan waktu, (3) semua konsumen dalam usaha mendapatkanbarang dan jasa yang dibutuhkan menuju ke tempat pusat yang paling dekat letaknya,(4) kota-kota berfungsi sebagai tempat sentral bagi wilayah sekitarnya. Artinya adahubungan antara besarnya tempat pusat dan besarnya (luas) wilayah pasaran,banyaknya penduduk dan tingginya pendapatan di wilayah yang bersangkutan, (5)wilayah tersebut digagaskan sebagai dataran dimana penduduknya tersebar meratadan ciri-ciri ekonomisnya sama (besar penghasilan sama).

Distribusi Penggunaan Lahan di Sekitar Pemukiman

Von Thunen mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatanpertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). Perbedaanongkos transportasi tiap komoditas pertanian dari tempat produksi kepasar terdekatmempengaruhi jenis penggunaan tanah yang ada disuatu daerah. Von Thunenberpendapat bahwa suatu pola produksi pertanian berhubungan dengan pola tata gunalahan diwilayah sekitar pusat pasar atau kota. Dalam teori ini ia mengeluarkanasumsi-asumsi sebagai berikut :

 

 

Pusat pasar atau kota semestinya berada pada titik pusat suatu wilayah yangsecara geografis bersifat homogen

 

Hubungan yang berbanding lurus terjadi antara biaya transportasi dengan jarak.

 

Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh.

 

 

Petani akan cenderung memilih jenis tanaman yang dapat menghasilkanmanfaat dan keuntungan yang maksimal sesuai dengan permintaan pasar.Gagasan utama yang dapat diambil dari Teori Von Thunen adalah bahwa tataguna lahan akan mempengaruhi nilai sewa suatu lahan. Area yang berada dipusatpasar atau kota akan memiliki nilai atau harga yang lebih mahal dibandingkan lahanyang berlokasi jauh dari pusat pasar. Banyaknya kegiatan yang berpusat pada kotaatau pusat pasar ini menjadikan kota memiliki nilai yang lebih ekonomis untuk mendapatkan keuntungan maksimal bagi para pelaku pertanian. Perbedaanyang disebabkan oleh faktor jarak ini menentukan nilai suatu barang, semakin jauh jarak yang ditempuh oleh para petani maka biaya transportasi yang dikeluarkan akansemakin meningkat, sehingga para petani akan memilih untuk menyewa lahan yanglebih dekat dengan pusat pasar atau kota dengan harapan bisa mendapatkan nilai atauharga barang yang lebih tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi yangtinggi.

Perbandingan Ukuran Kota

Pemukiman cenderung membentuk hierarki. hirarki permukiman terbentuk sesuai dengan sebutan yang diberikan oleh manusia yaitu dusun, desa, kota, kota, danmetropolis. Menurut teori tempat pusat, hirarki dibentuk oleh ukuran daerahperdagangan dan jarak antara pusat-pusat pelayanan. karakteristik lain dari hirarkipermukiman dapat dilihat dengan peringkat tempat di suatu negara berdasarkanukuran populasi mereka.Di negara maju, hubungan yang muncul untuk ukuran kota adalah peringkatukuran populasi. kota terbesar sering sekitar dua kali lebih besar tempat yang palingpadat penduduknya kedua, tiga kali ukuran pusat peringkat ketiga, dan empat kalikota terbesar keempat. jenis hubungan yang disebut aturan peringkat ukuran.Kriteria ukuran tingkatan jarang berlaku pada negara berkembang, dimanakota utama umumnya lebih besar dari yang lain. Dalam hal ini, kota utama ini disebut

ota primate, yang keutamaan terjadi ketika salah satu daerah menetapkan dominasiekonomi untuk seluruh negeri.

Morfologi Pemukiman

Dalam arti umum, morfologi berhubungan dengan bentuk dan struktur. studimorfologi permukiman, oleh karena itu, menyangkut bentuk dan susunan internalatau tata letak fitur seperti jalan, bangunan, dan penggunaan lahan. Studi morfologimemeriksa distribusi spasial fitur dalam area tertutup oleh pemukiman, sebaliknya,sebuah studi pola permukiman menganggap lokasi tempat sebagai titik dalam suatuwilayah yang besar.Geografer menggunakan morfologi untuk generalisasi tentang karakter dari jenis permukiman. misalnya, beberapa bentuk desa khas telah diakui di eropa danAmerika Utara. Salah satu bentuk khas adalah desa jalanan (Strassendorf) denganrumah-rumah sejajar di kedua sisi jalan utama. dalam bentuk lain, rumah yangterletak di tengah-tengah area hijau. Desa hijau seperti (Angerdorf) yang umumletaknya di wilayah ujung utara dan timur eropa.Beberapa bentuk permukiman yang khas untuk suatu wilayah, periode sejarah,atau budaya. misalnya, alun-alun gedung pengadilan ditemukan di banyak kota-kotakecil Amerika berbeda dari

town square

di Eropa sebelumnya. dan strip mobildengan drive-in layanan merupakan bentuk abad kedua puluh khas Amerika. Iniringkasan singkat dari konsep dalam geografi permukiman telah terkait ukuran,lokasi, fungsi, dan morfologi. beberapa dari hubungan ini dapat ditunjukkan lebihlanjut melihat berbagai jenis pemukiman.

Pemukiman Desa

Pada dasarnya, pemukiman dapat dibagi menjadi bentuk pedesaan dan bentuk perkotaan. Karakteristik spasial sebuah desa pertanian kecil cukup berbeda darisebuah kota metropolis, dalam menjabarkan pemukiman desa yaitu denganmenjabarkan perbedaan antara pedesaan dan perkotaan.

 

Seperti dijeskan pada bab 8, kegiatan ekonomi pedesaan terdiri dari, masaberburu dan pengumpul, peladang berpindah, dan petani tradisional. bentuk-bentuk tertentu dari pemukiman yang terkait dengan masing-masing jenis ekonomi, mulaidari tempat tinggal nomaden masa berburu sampai ke masyarakat pertanian menetap.1.

 

Pemukiman orang nomaden dan peladang berpindahPada masa berburu dan berkelompok memiliki ciri-ciri yaitu, kepadatan penduduk rendah, pemukiman yang tersebar dan jumlahnya sedikit. Lokasi pemukiman seringditempati hanya secara musiman. misalnya, nomaden dataran indians. Meskipunmasa berburu dan pengumpul tidak menghasilkan pusat-pusat kota, dalam menukarbarang (barter) telah terjadi di beberpa tempat yang mudah mereka akses.Kondisi pemukiman yang ditinggalkan oleh para peladang dapat menggambarkanlamanya waktu mereka telah meninggalkan pemukiman tersebut. Secara umum,semakin lama periode tidak ditanami, menetukan bahwa pemukiman tersebutpemukiman yang tidak menetap. Misalnya, Campa dari lereng timur hutan dariPegunungan Andes Peru memungkinkan lahan kosong yang tidak ditempati selamalebih dari 10 tahun. ini dimungkinkan karena jumlah populasi yang rendah, dengankepadatan diperkirakan satu orang per kilometer persegi teritori (Denevan 1971).Di beberapa daerah, peladang berpindah mendirikan tempat tinggal sementarayang berada dekat ladang sementara, namun mereka tetap mempertahankan desapermanen. Dalam kasus Iban, petani padi kering dalam perbukitan teh Sarawak (Malaysia Timur), ada tingkatan hierarki pemukiman mereka. Pemukiman terbesaradalah “rumah panjang”, yang merupakan bangunan tetap tunggal yang dibangunoleh seluruh penduduk dan mampu menampung sebanyak 300 orang.Peladang berpindah yang menghasilkan tanaman subsistensi tidak terlalumembutuhkan pasar, dan kota-kota bukan merupakan bagian dari pola pemukimanmereka. sebagai aktivitas ekonomi eksternal pada daerah yang diduduki olehpeladang berpindah, beberapa tempat pemasaran mungkin timbul. misalnya, peladangberpindah di lembah amazon mungkin diperdagangkan pada pasar-pasar berkembangdi sepanjang jalan yang sedang dibangun di seluruh wilayah.

2.

 

Desa yang terkait dengan pertanian tradisionalPara petani tradisional pada masa ini sudah menggunakan sistem tanam yangpendek dan secara terus menerus. Semakin tinggi intensitas penggunaan lahansemakin besar kemungkinan bahwa pemukiman tersebut merupakan pemukiman didesa permanen.Di Amerika sebagian besar petani hidup pada lahan yang mereka garap danterletak berjauhan dengan tetangga yang lain. Salah satu alasan kenapa petanimenetap pada lahan yang mereka garap yakni karena masalah transportasi yang sulitpada masa itu, tidak sama pada masa modern.Beberapa faktor dapat membantu menjelaskan mengapa petani di beberapamasyarakat lebih memilih tinggal di pemukiman berkelompok. populasi pedesaan dimasa lalu tinggal secara mengelompok karena untuk masalah keamanan danpertahanan. Ketakutan merupakan faktor yang mendorong untuk pemilihan lokasiyang aman, tetapi letak juga menjadi pertimbangan. Kecuali ada pembatas yang dapatmelindungi mereka dari bahaya, maka tidak akan timbul keputusan untuk tinggalmengelompok.Alasan laian untuk tinggal berkelompok dalam masyarakat praindustri adalahadanya keuntungan dari kerjasama antara anggota kelompok. Faktor sosial adalahkekuatan penting dari berkelompok terutama di mana sumber daya lahandikendalikan secara bersama-sama. jika petani memperoleh akses ke tanah yangsubur, daerah penggembalaan umum, dan hutan dengan menjadi anggota darimasyarakat atau komunitas tersebut, maka ada keuntungan untuk tinggal dekatdengan pusit di mana keputusan dibuat.Sistem pemilikan tanah juga penting. Di desa-desa tradisional, petani adasebagian tersebar pada beberapa bidang tanah karena merupakan pembagian warisantanah antara semua ahli waris. Tinggal di pemukiman yang terletak di pusat dapatmengurangi waktu perjalanan ke beberapa tanah yang tersebar.

 

Pemukiman Kota

Urbanisasi secara besar-besaran merupakan perkembangan baru dalammasalah penduduk. Dari masa lalu sampai sekarang, jarang sekali daerah kota hanyaditinggali 10 persen dari jumlah penduduk, kecuali negara-negara kecil.Beberapa variasi pemukiman perkotaan dapat dilihat dengan mendeskripsikanbeberapa hal yaitu, (1) karakteristik kota-kota pra-industri, (2) sistem perkembanganperkotaan Amerika, dan (3) urbanisasi saat ini di negara-negara kurang berkembang.

1)

 

Kota pra-industri

Pada masyarakat pra industri pemukiman yang lebih dominan yaitu pedesaan,namun pemukiman perkotaan juga sudah ada masa itu. Secara morfologi kota, pusat-pusat kota pada masyarakat pra industri di dominasi oleh bangunan pemerintahan dankeagamaan. Struktur kelas pada masyarakat kota ditentukan oleh lembaga politik,agama, dan pendidikan. Meskipun ada pembagian kelas, namun penggunaan lahan dikota tercampur. Pasar terdapat di dekat gereja, dan took berjajar mengikuti jalan.Sjoberg (1960) berpendapat bahwa karakteristik ini dimiliki oleh kota-kotapra-industri apakah berada di Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia BaratDaya, Eropa, atau Amerika Tengah. Rhoads Murphey (1945) menemukan bahwaperan perdagangan di kota-kota cina berbeda dari yang di kota-kota Eropa setelahabad kedua belas. di Cina, fungsi perdagangan berada di bawah fungsi adminisrasif.kota mengendalikan daerah pedesaan sebagai lokasi untuk kegiatan komersial. Tidak seperti kota-kota Eropa, yang menjadi pusat gejolak ekonomi dan sosial sebelumRevolusi industri, fungsi dominan birokrasi kota Cina menahan diversifikasi danperubahan.

2)

 

Sistem Perkembangan Kota di Amerika

Di pertengahan 1980-an, 80 persen dari penduduk AS tinggal di wilayahperkotaan. Bagaimana tempat-tempat perkotaan berkembang?Kota banyak dikembangkan karena permintaan konsumen terdekat untuk barang dan jasa, sepertiyang dijelaskan oleh Teori tempat pusat Christaller ini. Sebuah pemukiman kota

beberapa kota besar di Amerika Serikat dimulai sebagai tempat pusat grosir yangmengakses perdagangan jarak jauh.Beberapa pusat grosir pertama, yang berada di lokasi pantai, mulai denganmengumpulkan dan mengekspor bahan pokok, seperti bulu ke Eropa dan denganmengimpor dan mendistribusikan barang dari Eropa. Urutan perkembangan sistemperkotaan dibagi menjadi lima tahap berikut;Tahap 1: Eksplorasi dan pencarian. pada abad keenam belas, Inggris, Perancis, danpelaut Spanyol menjelajahi pantai Amerika Utara dan memberikaninformasi tentang sumber daya daerah.Tahap 2: Membangun pondasi Kota Pesisir. Pemukiman perkotaan dimulai setelahabad ketujuh belas jajahan yang didirikan di Amerika Utara. Beberapa jajahan, seperti Virginia, dipandang sebagai “investasi dalam perdagangan”yaitu, sebagai bagian dari sistem merkantilis. Meskipun sebagian darisumberdaya tersebut untuk pemanfaatan sendiri, namun yang memilikinilai tinggi seperti tembakau, kayu, dan bulu diekspor. Tak satu pun daritempat-tempat perkotaan pertama, yang didirikan di pantai timur, itu besar.pada tahun 1700, Boston, pusat komersial terkemuka, memiliki populasi6700. New York dan Philadelphia memiliki populasi sekitar 5000, danCharles kota memiliki 2.000 penduduk Tahap 3: Perluasan Jaringan Pemukiman dan Pengembangan Perdagangan DalamNegeri. dalam fase ketiga, pemukiman menyebar ke daratan. Karenadibutuhkan “tempat penyimpanan” untuk menghubungkan mereka dansumber daya ke Eropa, timur pantai pelabuhan mulai bertindak sebagai”engsel ekonomi” antara daerah perbatasan dan ” Ibu kota negara”.Amerika Serikat masih didominasi pedesaan pada tahun 1800 denganhanya 7 persen dari populasi yang berada di tempat-tempat perkotaan.Tahap 4: infilling dari Jaringan dan Pentingnya pertumbuhan Perdagangan Internal.dengan ekspansi yang cepat dari perbatasan pada abad kesembilan belas

 

dan awal kedelapan belas. Daerah-daerah perbatasan diperlukan koneksidengan pemasok perkotaan dan pasar, dan pantai timur kota, yangmengembangkan industri manufaktur, ingin mendapatkan akses ke daerahdalam. Masalah utama adalah transportasi. Jalur darat yang sulit dan mahal,terutama untuk transportasi produk besar. Trasnportation air adalah bentuk termudah dan termurah koneksi. Ketika interior mulai diselesaikan, olehkarena itu, kota yang terletak dekat dengan sungai, danau, dan kemudiansaluran navigasi.Tahap 5: Memodifikasi jaringan. Menurut model Vance, tempat sentral berfungsisebagai menjadi penting pada pusat perdagangan jarak jauh sebagai kotatambahan dikembangkan di seluruh Amerika Serikat selama fase terakhir.Dengan perluasan tempat perkotaan dan semakin pentingnya fungsilayanan mereka, lebih banyak tempat perkotaan menjadi kota besar. sistemmemuncak mencerminkan penerapan pola tempat sentral pada strukturdagang yang ada dikembangkan di distribusi dan manufaktur poin.Secara singkat bahwa perkembangan kota di Amerika dikarenakanpenggabungan lebih dari satu jenis asal dan fungsi. Satu: banyak kota yang terletak disitus diakses perdagangan jarak jauh, seperti yang dijelaskan dalam modelperdagangan. Kedua: beberapa kota muncul sebagai pusat perdagangan lokal, sepertiyang dijelaskan oleh teori tempat pusat. Tiga: Sebuah perkotaan beberapa tempatpembangunan di lokasi bahan baku yang menarik industri, seperti kota-kotamanufaktur pada coalfields di Pennsylvania barat. banyak pemukiman kota yangpaling awal berasal di pantai timur, namun, beberapa dimulai pada tepi selatan danbarat daya negara tersebut.

3)

 

Kondisi urbanisasi saat ini di negara-negara berkembang

Dari 1950-1975, ketika negara-negara maju sebagai sebuah kelompok mengalamipeningkatan penduduk perkotaan dari 71 persen, ukuran penduduk kota dari negara-negara berkembang membengkak hampir 200 persen-222 persen di Afrika, 191persen di Amerika Latin, dan 179 persen di Asia. Dalam angka absolut, penduduk

perkotaan di Afrika meningkat sebesar 71 juta antara 1950 dan 1975. Pada periodeyang sama, Amerika Latin ditambah 130 juta orang penduduk perkotaan, danpenduduk perkotaan di Asia meningkat 315 juta. Salah satu hasil yang diharapkandari urbanisasi yang cepat di negara-negara kurang berkembang, dan melambatnyalaju urbanisasi di Eropa dan Amerika Utara, akan menjadi penataan ulang dalamurutan kota terbesar oleh setengah abad berikutnya. Pada tahun 1950, ketiga terbesarkota di dunia berada di Negara bersatu dan Eropa, tetapi pada tahun 2034, tidak adasepuluh kota atas diharapkan berada di kedua daerah.Urbanisasi merupakan hasil dari peningkatan secara alami dan migrasi.Peningkatan secara alami ditunjukkan di Cina selama periode ketika migrasi kedaerah perkotaan. Dari 1949-1979 sekitar dua pertiga dari pertumbuhan perkotaan inidisebabkan pertumbuhan alami. Seringkali tingginya tingkat pertumbuhan alamiadalah akibat langsung dari migrasi masuk oleh orang dewasa muda selama tahunpuncaknya reproduksi (Todaro 1980).Penyebab penting dari migrasi desa-kota adalah persepsi dari orang-orang yangingin melakukan urbanisasi, dan terkadang kenyataan bahwa kesempatan dankemajuan ekonomi dan sosial yang tersedia di kota-kota. Prospek ekonomi di daerahpedesaan di negara-negara berkembang umumnya suram. Sering kali ada kelebihantenaga kerja, terutama dalam mekanisasi sistem pertanian tradisional. Lambatnyapertumbuhan kesempatan ekonomi di daerah pedesaan, pengangguran atau setengahpengangguran ada di daerah pertanian.Di sebagian besar negara maju, orang muda beralih ke kota-kota sebagai tempatdianggap memiliki kesempatan kerja lebih banyak. Investasi baru, terutama di bidangindustri, cenderung berfokus pada kota-kota besar. produsen, baik domestik maupunmereka yang berafiliasi dengan perusahaan asing, lebih memilih untuk menanaminvestasi di daerah perkotaan di mana tenaga kerja, pasar, dan fasilitas transportasiyang terbaik dikembangkan. Jika pembangunan perkotaan seperti ini kontras dengandi daerah pedesaan yang terabaikan dari investasi, ketidakseimbangan antara peluangpedesaan dan perkotaan dapat melebar.

 

Struktur Internal Kota

Susunan kota pada umumnya digambarkan pada penempatan letak setiapwilayah. Beberapa wilayah yang letaknya di bagian utama dari kios eceran, di sisilain dari kota digunakan untuk tempat penyimpanan, industri, gedung pemerintahan,tempat tinggal bagi penduduk yang berpendapatan menetap, tempat tinggal untuk etnik-etnik tertentu, dan institusi publik. Usaha untuk membuat generalisasi daristruktur kota ke dalam model yang dilakukan secara keseluruhan.1.

 

Teori Concentric (Burgess)Burgess mengemukakan bahwa kota-kota berawal dari sebuah pusat yangkemudian meluas dari pusat itu sendiri. Yang kemudian nantinya secara luas bertahappenduduk mulai berdatangan atau menempati wilayah perluasan tersebut.Struktur kota yang demikian akan berupa beberapa zona-zona yangterkonsentrasi pada suatu pusat. Di tengah atau dipusat dari struktur kota tersebutterdapat sebuah pusat bisnis atau CBD (Central Bussines District) yang bisadikatakan merupakan zona pertama yang di dalam pusat tersebut merupakan pusatekonomi, sosial, dan kemasyarakatan.Kemudian di zona kedua yaitu transistion zone, yang berisikan industri disela-sela perumahan penduduk yang mempunyai tanah atau bangunan dari warisanmasa lampau. Namun sebagian besar daerah ini telah banyak diubah menjadikawasan perkantoran maupun kawasan pertokoan. Dan juga dikawasan ini terdapatslum atau daerah kumuh yang tidak beraturan yang biasanya ditempati oleh parapendatang atau pekerja yang berpenghasilan kurang. Dan di daerah slum ini punrawan akan terjadinya pelanggaran hukum atau kejahatan disamping adanyakemiskinan yang melanda.Kemudian berikutnya adalah zona kaum buruh kecil yang merupakan zonaketiga di dalam struktur ini. Di dalam zona ini dihuni oleh para kaum buruh kecilyang bertempat tinggal menetap di kawasan tersebut dengan jangka waktu yangrelatif lama. Zona keempat ialah middle class housing yang dihuni oleh para kaumkelas menengah. Yang pemukimannya tidak terlalu ada karena masih ada jarak diantara rumah-rumah penduduk tersebut. Dan yang terakhir di zona kelima ialah

 

mengkonversi kampong yang banyak berada di dataran rendah (rawa dan kebun)ke segala arah: Barat, Selatan dan Timur.

Kini, dengan statusnya sebagai “multi

-

function” yang mengakumulasi berbag

aifungsi tertinggi secara nasional (pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa,bahkan kebudayaan), Jakarta telah menjema menjadi salah satu pusat pertumbuhanekonomi yang menjanjikan di kawasan Asia-Pasifik. Selain itu, perkembanganyang sangat pesat terjadi di kawasan pinggiran, dimana tidak kurang dari 7 (tujuh)kotabaru berskala besar telah terbangun di Jabodetabek sejak tahun 1980-an (Gani,2010).

• Kota Bandung sejak lama direncanakan sebagai salah satu pusat kegiatan

Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930-an apabila merujuk pada keberadaanGedung Sate. Konsep yang dikembangkan awalnya adalah kota taman yang asri,sebagai unsur esensial dari sistem internal kotanya. Proses urbanisasi telah terjadisecara cepat mulai tahun 1980-an, ditandai dengan okupansi lahan-lahan diBandung Utara dan Bandung Selatan. Perubahan morfologi kota semakin tajampada awal tahun 2000-an, ditandai dengan pemekaran Kota Cimahi dan KabupatenBandung Barat, serta dibukanya akses jalan tol Cipularang pada tahun 2005 yangmemangkas jarak waktu Jakarta

Bandung secara signifikan. Bandung mengalamimetamorfosa, dari kota tempat peristirahatan para mandor perkebunan « tempoedoeloe » menjadi kota tujuan wisata (urban tourism) dengan atraksi wisatakuliner, kesejukan alami dataran tinggi, serta pusat belanja (

 factory outlets

).Kawasan Dago, Setiabudi dan sekitarnya kini menjadi pusat kegiatan komersialutama di Kota Bandung, padahal lama sebelumnya ia direncanakan sebagai pusathunian yang tenang. Sementara itu, kawasan Bandung Utara yang sebelumnyamerupakan kawasan lindung untuk peresapan air, kini telah beralih fungsi menjadisalah satu pusat permukiman elit serta pusat kegiatan pariwisata yang dipadati olehturis domestik saat weekend.

Kota Gorontalo hingga akhir tahun 1990-an hanya merupakan ibukotaKabupaten Gorontalo dengan fasilitas sosial-ekonomi yang sangat terbatas (hotel,rumah sakit, restoran, dsb). Sejak beralih status menjadi kota otonom sekaligus

 

Ibukota Provinsi Gorontalo pada tahun 1999, aliran investasi yang mengalir cukupderas dipicu oleh kegiatan pemerintahan telah merubah wajah kota secarasignifikan. Pusat-pusat kegiatan komersial dan jasa (perbankan, restoran, hoteldsb) tumbuh subur. Infrastruktur sosial-ekonomi semakin membaik, khususnyayang berkaitan dengan sektor industri perikanan (pelabuhan) dan sektor pertaniantanaman pangan (industri pengolahan komoditas jagung). Wajah kota yang relatif sederhana, secara perlahan kini berubah mengikuti perkembangan zaman.Dari tiga contoh diatas, kita dapat mengamati bahwa transformasi sosial telahmengubah morfologi kota. Beberapa faktor tampaknya cukup dominan dalam prosestersebut : (1) aliran investasi yang mendorong peningkatan produktivitas kota,khususnya yang digerakkan oleh investasi swasta ; (2) keberadaan infrastruktursosial-ekonomi, seperti jalan dan pelabuhan, serta (3) peningkatan status kota otonom(ibukota provinsi). Ketiga faktor tersebut menjadi penyebab utama terjadinyaurbanisasi dan mengakselerasi alih-fungsi ruang perkotaan. Perbedaannya terletak pada titik awal terjadinya perubahan (Jakarta sejak 1960-an, Bandung sejak 1980-an,dan Gorontalo sejak 2000-an), serta kecepatan transformasi yang terjadi yang banyak ditentukan oleh peran sektor swasta.Walaupun demikian, modernisasi kota tidak serta-merta menghapuskekumuhan akibat kemiskinan perkotaan yang belum dapat teratasi sepenuhnya. Padakurun waktu tiga decade terakhir (1980

2010), jumlah penduduk miskin di kawasanperkotaan justru menunjukkan grafik yang meningkat dari 9,5 juta menjadi 11,91 juta jiwa. Hal ini berlawanan dengan jumlah penduduk miskin di kawasan perdesaan yangmenunjukkan kecenderungan menurun dari 32,8 juta (1980) menjadi 20,62 juta jiwa(2010). Secara keseluruhan, angka penduduk miskin tersebut masih sangat tinggi.Tidak kurang dari 47.000 kantong-kantong kemiskinan kini tersebar di berbagai kota di Indonesia.

 

Leave a Reply

*


eight × = 56

Current day month ye@r *