Setiap bahasa memiliki konstruksi klausa ekuasional atau klausa penyama, seperti dalam contoh “Dia [adalah] guru” atau “She [is] a teacher”.

Predikat penyama menyamakan salah satu sifat atau suatu proses (tapi bukan tindakan) yang disebut pada tempat predikat.

Ada bahasa yang menuntut adanya satu kata penghubung (kopula), di antara subjek dan sisanya klausa penyama itu, ada juga bahasa yang tidak memakai kopula di antaranya, dan ada juga bahasa yang memiliki dua kemungkinan yaitu adanya atau tiadanya kata kopulatif tersebut.

Selain dari klausa penyama yang predikatnya sebagian atau seluruhnya adalah nominal, ada tipe klausa lain yang seluruh predikatnya verbal dan bervalensi satu. Klausa seperti inilah yan disebut klausa berverbal intransitif.

Verba intransitif dapat dibedakan menurut sifat semantisnya yaitu ada verba yang mengandung makna “pengalaman” atau verba “pengalam” atau ada verba yang bemakna “tindakan” atau verba “tindakan.” Verba “tidur” dan “jatuh” adalah ontoh verba pengalam, sedang “berlari” dan “bekerja” adalah contoh verba tindakan.

Dalam banyak bahasa, sebagian besar verba transtif bervalensi dua dan sebagian yang relatif kecil bervalensi tiga.

Dalam verba transitif, Argumen pertama adalah Subjek, Argumen kedua adalah Objek, dan bila ada tiga argumen, kedua argumen yang bukan Subjek ini masih-masing berupa Objek. Seperti contoh “Dia membangun rumah”. “Dia” adalah Subjek dan “Rumah” adalah Objek. Demikian juga pada contoh: “Dia memasakkan adik nasi.” “Dia” adalah Subjek dan “Adik” serta “Nasi” adalah Objek. Baik kata “Adik” dan “Nasi” adalah Objek (objek rangkap). Penamaan Objek rangkap dalam tatabahasa tradisional kurang dikenal, yang dikenal adalah Objek langsung dan Objek tidak langsung. Kata Objek langsung dan objek tidak langsng dalam istilah “fungsi” sintaksis kurang tepat karena “langsung” dan “tak langsung” mengandung makna peran, dan bukan fungsi.

Fungsi tidak sama dengan peran.

Baik Fungsi maupun Peran bergantung pada valensi verba, Valensi verba begantung pada semantik verba.

Di antara predikat verbal ada yang tunggal ada yang serial. Predikat verbal yang tunggal adalah predikat utama yang hanya satu seperti contoh ”I gave the book to her” atau “Guru menerangkan teori ini” Struktur verba serial adalah struktir predikatif dengan verba utama yang lebih daripada satu sedemikian rupa sehingga tak ada verba yang tergantung pada verba lainnya. Contoh:kendaraan keluar masuk.

Struktur predikat serial perlu dibedakan dengan struktur predikat yang terdiri dari verba induk dan verba bawahan. Seperti Contoh: “He made me work very hard“ atau “Camat mengharapkan semua ketua RT dan RW datang untuk rapat.“

FRASA ADPOSISIONAL, ADJEKTIVAL DAN ADVERBIAL

0

Sintaksis frasa dapat dipandang menurut struktur intrafrasalnya dan menurut ekstrafrasalnya

Menurut struktur ekstrafrasalnya kalimat: (1) ”guru menguraikan tentang teori ini,” frasa preposisional dapat berfungsi sebagai objek, sedang pada kalimat (2) ”Olah tanah dengan cangkul.” sebagai konstituen keterangan.

Secara intrafrasal, semua frasa yang dicetak tebal dia atas adalah sama yaitu frasa adposisional

Ada beberapa pokok menyangkut frasa adposisional yang perlu dibahas yaitu (a) adposisi dan objeknya (b) adposisi berupa preposisi (c) adposisi bertumpuk, yaitu konstituen induk yang terdiri dari dua adposisi (d) frasa adposional bermarkah induk dan brmarkah bawahan (e) frasa adposisional sebagai atribut.

frasa adposisional terdiri dari adposisi sebagai induk dan kata atau frasa nominal sebagai konstituen bawahan.

konstituen tersebut dalam ilmu linguistik disebut “objek” dari adposisi induk. Untuk membedakan dari Objek pada verba, maka huruf “o” pada objek adposisi ditulis kecil.

adposisi yang mendahului objeknya disebut preposisi: di Jakarta, dari Malang.

adposisi yang dapat mengikuti objek disebut posposisi. Dalam bahasa Jepang: Tookyoo ni (Tokio ke, ‘ke Tokyo’), Yokohama made (Yokohama sampai—‘sampai Yokohama’)

adposisi yang mengikuit objek baik itu sebelum dan sesudahnya disebut ambiposisi, seperti dalam contoh: ‘notwithstanding the problem’ atau ‘the problem notwithstanding’ ‘walaupun ada masalah itu’

Dalam banyak bahasa, terdapat pula fenomena adposisi majemk atau rangkap, sebagai induk dari frasa adposisional: Contoh: They took it from under the cabinet.

Ada dua tipologi morfologis bahasa, yaitu bahasa pemarkah induk, dan bahasa pemarkah bawahan. Banyak bahasa Austronesia, utamanya Indonesia berpemarkah induk, contohnya ‘untuk-nya,’ ‘daripada-nya.’

frasa adposisional pemarkah induk ada dua jenis, yaitu pemarkah adposisional secara pronominal sebagai pengganti pronomina, misalnya untuk-nya, sufiksnya menggantikan pronomina, yang kedua yaitu pemarkah yang hanya menyertai, tidak megganti nomina objek, jadi ada baik pemarkah tebal maupun nomina objek. Mis pada bahasa Abkhaz (Kaukasia): a- jәyas a- q’na ART sungai 3:T pada (indonesia ‘pada sungai itu’)

Struktur intrafrasal kadang-kadang bergantung pada struktur ekstra frasalnya.

Frasa adposisional dapat berfungsi sebagai atribut.

Dalam contoh: ’the flower on the table’ frasa preposisional ‘on the table’ dapat menjadi atribut dari ‘the flower.’ Dalam contoh ‘kursi di samping lemari,’ frasa ‘di samping lemari’ menjadi atribut dari ‘kursi’

Frasa ajektival terdiri atas ajektiva sebagai induk dan konstituen bawahannya. Bawahan ajektiva bermacam-macam sehingga dapat digolongkan ke dalam beberapa jeni: (1) penegas negatif, penegas refleksif, penegas modal (2) nomina milik yang tak terasingkan (3) pembaku pada komparatif, superlatif, dan ekuatif (4) adverbia (atau frasa adverbial) derajat (5) nomina pengukur (6) nomina “aspek”

SINTAKSIS KLAUSA :JENIS-JENIS PREDIKAT

Dalam banyak bahasa predikat harus selalu verbal,sedangkan dalam bahasa-bahasa lain predikat selain yang verbal dapat juga berupa nonverbal yaitu nominal.tipe-tipe predikat yaitu:predikat ekuasional atau penyama,predikat dengan verba yang bervalensi satu,dan predikat dengan verba yang bervalensi dua atau tiga.

predikat penyama

predikat penyama menyamakan salah satu sifat,atau suatu proses yang di sebut dengan tempat predikat.Ada bahasa yang menuntut adanya suatu kata penghubung atau kopula.di antara subjek dan sisanya klausa pertama itu,ada bahasa pula yang tidak memakai kopula di antaranya,dan ada bahasa yang memiliki dua kemungkinan,yaitu adanya atau tiadanya kata kopulatif itu.kopula adalah memang tidak verbal,tidak dapat di negasikan,misalnya (hal itu adalah tidak benar )bukam hal itu tidak adalah benar.kata adalah kiranya lebih tepat disebut “pengantar predikat’,karena untuk pemakaiannya malah tidak perlu adanya subjek misalnya adalah sulit untuk menyatakan bahwa….dalam hal ini ada manfaat untuk membandingkan adalah sebagai pengantar predikat dengan itu sebagai pemarkah(dan “penutup” )”topik”

predikat verbal :verba intransitif

selain dari klausa penyama,dengan predikat yang seluruhnya atau untuk sebagian nominal,ada tipe-yipe klausa lainnya yang digolong-golongkan menurut tipe predikatnya yang sepenuhnya verbal.ada penggolongan tradisional dari verba sebagai transitif dan intransif.pada dasarnya golongan ini adalahpenggolongan menurut valensi.bervalensi satu(verba intransif),atau bervalensi lebih dari satu,yakni dua adau tiga (verba transitif).

predikat verbal : verba transitif

dalam banyak bahasa,sebagian besar verba transitif bervalensi dua,dan sebagian yang relatif kecil berbervalensi tiga.argumen pertama adalah subjek,argumen kedua disebut objek dan bila ada tiga argumen,kedua argumen yang bukan subjek itu masing-masing berupa objek.

SINTAKSIS KLAUSA: HUBUNGAN ANTARA PERAN DAN KATEGORI

4

Pemarkahan kasus berupa persesuaian antara Argumen dengan verba. Pemarkahan ini tergantung dari sifat semantis verba—salah satu daripadanya adalah valensi verba. Hal ini tidak berlaku secara antar-bahasa—hanya berlaku untuk bahasa-bahasa tertentu saja.

Peran-peran secara umum berupa Pelaku, Penindak, Pengalam (sebagai Pasien), Pengalam (sebagai Argumen pada verba yang bervalensi satu), Lokomotif, Benefaktif, dan Indostrumental.

Verba yang bervalensi satu, yakni verba yang dapat disertai hanya oleh satu Argumen saja, memiliki tiga macam Argumen: Penindak, atau Pengalam, atau ”Perasa”. Contoh: I run, dan I fall, dan I think. Peran dari I dalam I run adalah Peran ”Penindak” , karena untuk berlari dituntut kegiatan tertentu; Peran dari I dalam I fall adalah peran ”Pengalam”, karena untuk orang yang jatuh tidak dituntut kegiatan apa-apa; artinya I dalam I think ber-Peran ”Perasa”, karena I think acap kali berarti ’saya mendapat kesan’.

Klausa yang mengandung verba yang bervalensi dua adalah kalusa yang memiliki Argumen Ajentif dan Argumen Objektif. Dalam bahasa yang berkasus, pemarkahan kasus dalam klausa tipe ini ada dua sistem yang umum dikenali oleh para bahasawan.

(1) Ada tipe yang Argumen Ajentifnya berkasus nominatif (biasanya tak bermarkah) dan yang Argumen Objektifnya berkasus akusatif. Contoh I hit him merupakan contoh yang jelas: I berkasus nominatif, dan him berkasus akusatif.—Tipe ini disebut ”tipe nominatif-akusatif, dan kependekannya lazim disebut ”tipe akusatif”.

(2) Ada Argumen Ajentif dalam salah satu kasus ”ajentif”, biasanya ”jenitif”, yang namanya kasus ”ergatif” dan dengan Argumen kedua yang berkasus ”nominatif” (artinya tidak bermarkah), atau (istilah lazimnya) ”absolutif”.—Tipe ini disebut ”tipe ergatif-absolutif”, dan sebagai kependekannya lazimnya dipakai istilah ”tipe ergatif”.

Klausa tipe lain yang mengandung verba yang bervalensi dua adalah tipe yang memiliki Argumen Ajentif dan Argumen Oblik.

Contoh “I shot the dog” dan “I shot at the dog.” Argumen “the dog” dalam kalusa pertama ber-Peran Objektif (anjing itu kena tembakan); Argumen “at the dog” dalam klausa kedua dikatakan ber-Peran ”Oblik” (pemarkahannya dalam bahasa ini kebetulan bukan dengan bentuk ”kasus” nominal melainkan dengan preposisi at). Tembakan diarahkan pada anjing tetapi anjing tidak kena. Dalam contoh pertama, anjing itu mengalami pengaruh kegiatan ”transitif” itu sepenuhnya; dalam contoh kedua, hanya untuk sebagian (misalnya anjing kaget dan lari).

Peran-Peran pada verba yang bervalensi dua: Perasa dan objektif, yaitu verba intransitif dengan Argumen Perasa.

Peran-Peran verba yang bervalensi tiga

Verba yang bervalensi tiga memiliki dua Argumen Objektif.

Bahasa Indonesia

Si Dul memukul perampok dengan tongkat.

Si Dul memukulkan tongkat pada tembok

Dia memuati truk dengan batubara

Dia memuatkan batubara pada truk.

Bahasa Inggris

Paul beat {the burgler/him)} with stick.

Paul beat the stick against the wall.

Paul loaded the truck with coal.

Paul loaded the coal on to the truck.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian dalam contoh-contoh ini. Pertama, verba Indonesia dimarkahi dengan morfem akhiran ”fokus” untuk memungkinkan Argumen yang langsung menyusul: perampok pada memukul, tetapi fokus instrumental –kan pada tongkat. Baik perampok maupun dengan tongkat dalam (a) ber-Peran Objektif: perampok adalah (Objektif) Pasien, dan dengan tongkat adalah (Objektif) Instrumental. Konstituen dengan tongkat dimarkahi untuk Peran Instrumental dengan preposisi dengan. Sebaliknya dalam (b), Peran (Objektif) Instrumental dari tongkat tidak bermarkah preposisi dengan, oleh karena verba memukulkan sudah dimarkahi untuk fokus instrumental. Demikian pula, dalam (c) dan (d), truk tidak dimarkahi untuk Peran (Objektif) Lokatifnya karena verba memuati sudah bermarkah fokus lokatif –i, tetapi pada truk membutuhkan pemarkah pada, karena verba memuatkan berakhiran fokus pasien –kan untuk Peran (Objektif) Pasien dari batubara—dan Pasien batubara itu tidak membutukan pemarkahan preposisional.

Persesuaian verbal dengan Argumen: pemarkahan ciri-ciri Argumen, satu atau lebih, pada verba. Secara tradisional, para ahli linguistik sering membahas persesuaian verbal itu dengan memberikan nama-nama ”fungsional” kepada Argumen-Argumen yang menyebabkan pemarkahan pada verba: persesuaian dengan ”Subjek”, dan/atau dengan ”Objek”.

Persesuaian verbal dengan Argumen sebagai Fungsi dan Peran. ”Kaidah” tradisional mengatakan bahwa persesuaian verbal selalu terdapat dengan Argumen menurut Fungsinya (dan, seperti sering diandaikan, hanya dengan Subjek). Ternyata hal itu keliru jika dipandang dari sudut pandang antar-bahasa. Dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa persesuaian verbal memang dengan Argumen Subjek—jadi tanpa pengaruh dari Peran manakah yang ada pada Subjek tersebut. Dalam bahasa Prancis dan bahasa Itali ditemukan persesuaian dengan Objek dalam konstruksi Predikat yang terdiri atas verbal bantu disusul partisipia perfekta (bila objek mendahului Predikat).

Perujukan silang, klitisisasi, dan persesuaian. Pengklitakan argumen yang tidak dapat hadir bukan persesuaian, akan tetapi hal itu hanya merupakan soal peristilahan saja, karena klitisasi pun berstruktur menurut Peran, atau menurut fungsi, tergantung dari bahasa masing-masing. Para ahli sering menyebut persesuaian maupun klitisasi Argumen sebagai perujukan silang dari Argumen pada verba.

Sumber: Verhaar

SINTAKSIS KLAUSA: DIATESIS VERBAL DAN TIPOLOGI BAHASA

2

Diadaptasi dari: Verhaar

Sistem verbal morfemis dan klausal dengan alternasi diatesis artinya dengan kemungkinan adanya dua atau lebih bentuk verbal di tempat predikat sedemikian rupa sehingga perspektif penutur dialternasi.

Alternasi diatetis dapat dipandang dari beberapa sudut yang dibagi menjadi tiga yaitu morfologis semata-mata, yaitu paradigma diatesis aktif dan pasif, sudut pandang yang kedua adalah paradigmatis juga, tetapi bersifat frasal, dan sudut pandang yang ketiga ialah klausal.

Dalam bahasa yang memiliki alternasi diatesis, salah satu diatesis menjadi diatesis primer atau diatesis kanonik artinya diatesis yang biasa dipakai.

Pokok pengamatan linguistik yang lain yang berhubungan dengan diatesis ialah kelas verba yang dapat mengalami perubahan diatesis kanonik menjadi diatesis nonkanonik.

Selain alternasi aktif menjadi pasif ditemukan juga diatesis medial yaitu diatesis berupa aktif dan medial.

Ada juga bahasa lain yang memiliki sistem diatesis dengan alternasi antara ergatif dan antipasif, dengan ergatif sebagai diatesis kanonik.

Ada juga yang memiliki sistem berdiatesis tiga yaitu ergatif, antipasif dan pasif.

Argumen tunggal pada verba intransitif ada yang ber-Peran Pengalam (Pm) dan ada yang berperan Penindak (Pk). Argumen pada verba transitif ada yang Ajentif (Aj) dan ada yang Objektif (Ob)

Tipologi Ergatif: Pk = Pm = Ob # Aj
Tipologi Akusatif: Pk = Pm = Aj # Ob
Tipologi Aktif-Statif: Pk = Aj = Pm # Ob

Sistem kasus adalah pemarkahan argumen menurut sifat semantis verba.

Sistem-sistem Diatesis Menurut Tipologi Bahasa

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: pasif
Biasanya menjangkau diatesis aktif dan pasif, diatesis aktiflah yang kanonik dan biasanya bervalensi dua. Pasif dibentuk dengan mengubah objek menjadi subjek klausa pasif. Subjek klausa aktif dalam pemasifannya ada tiga kemungkinan:
a. konstituen ajentif wajib hadir dalam klausa pasif
b. konstituen ajentif hadir secara opsional dalam  klausa pasif artinya dapat hadir  dapat juga tidak
c. konstituen ajentif tidak dapat hadir dalam klausa pasif

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: diatesis medial.
Dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa yang bertipologi akusatif, pernah ada sistem dua diatesis: aktif dan medial. Bahasa Yunani Kuno masih memiliki tiga diatesis: aktif, pasif dan medial—tetapi pasif hanya untuk kala tertentu dan modus tertentu (misalnya, kala ”aorist”—semacam kala preterit—futur, dan futur anterior memiliki pasif sendiri-sendiri, tetapi hanya untuk modus indikatif dan optatif, tidak untuk subjungtif), dan untuk kala dan modus lainnya dipakai medial. Sepanjang sejarah bahasa-bahasa Indo-Eropa, medial mulai hilang dan diganti oleh dua diatesis yang lain: pasif dan kontrukstif refleksif.

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: ”medio-pasif”
Kontruksi refleksif menurut bentuknya tidak termasuk sistem diatesis. Misalnya, Ia membunuh diri bukan pasif dari sudut morfologi. Di pihak lain, kontruksi refleksif tidak seluruhnya sejenis dengan kontruksi aktif, karena tidak dapat dipasifkan. Misalnya, meskipun verba membunuh itu sendiri memang transitif kontruksinya tidak dapat dipasifkan: *dirinya dibunuhnya. Sama halnya dengan bahasa Inggris: He killed himself secara morfemis adalah bentuk “aktif”, tetap tidak dapat dipasifkan: *Himself was killed by him(self).

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: ”aktif” sebagai pasif
Disamping kontruksi refleksif sebagai pasif ”semantis” ada juga bahasa yang mempergunakan verba transitif sebagai ”pasif”, tanpa pemarkahan apa-apa. Bahasa Indonesia mempunya beberapa verba yang demikian, misalnya lupa, yang dapat berarti ’melupakan’ tetapi juga ’dilupakan’ atau ’kelupaan’; namun verba seperti itu agak sedikit jumlahnya.
Bahasa Inggris mempergunakan banyak verba transitif dalam arti ”pasif”, seperti dapat dilihat pada contoh berikut:
–   The paint sprays on evenly (*by anyone).
ART:DEF cat semprot di:atas rata-rata oleh siapa:pun
’Mudahlah cat itu disemprot pada permukaan rata-rata.’
Contoh ini mengandung makna kemungkinan sesuatu hal dibuat. Keterangan ajentif tidak mungkin hadir. Subjek dipengaruhi oleh tindakan yang diartikan oleh verba, tetapi tidak sampai habis, tidak seluruhnya (karena itulah *The answer knows easily, atau *Indonesian acquires easily tidak merupakan kalimat gramatikal).

Sistem akusatif: pasif impersonal
Dalam pasif ”personal” ada penyesuaian antara Subjek dan verba pasif itu.
Dalam pasif ”impersonal” bentuk verbal adalah persona ketiga tunggal. Bahasa-bahasa yang memiliki bentuk pasif dapat digolong-golongkan menurut kemungkinan adanya atau tidak adanya pasif impersonal, sebagai berikut:
1. Bahasa memiliki pasif impersonal hanya untuk verba intransitif tertentu, yaitu:
(a)    hanya untuk verba intransitif penindak saja;
(b)   untuk verba intransitif pengalam hanya bila ada Argumen (+Insani).

2. Bahasa yang bentuk pasifnya hanya berupa impersonal saja, baik untuk verba intransitif maupun verba transitif.

3. Bahasa yang tidak memiliki pasif impersonal samasekali.

Sistem akusatif: pasif impersonal verba intransitif
Pasif impersonal mungkin dengan verba intransitif tetapi tidak dengan verba transitif.

Sistem akusatif: pasif impersonal verba transitif dan intransitif
Pasif personal adalah pasif dengan Subjek (dari verba pasif) dan dengan penyasuaian antara bentuk verbal dan Subjektif tersebut; sebaiknya, pasif impersonal selalu berpesona ketiga dan berjumlah tunggal, bahkan dalam konstruksi transitif. Salah satu bahasa yang menunjukkan pasif impersonal untuk semua verba, termasuk verba transitif, adalah bahasa Ute, salah satu bahasa rumpun Uto-Aztekan di Amerika Serikat. Dalam bahasa ini tidak pernah ada konstituen ajentif dalam klausa pasif.

H.  Sistem akusatif: bahasa tanpa pasif impersonal
Contoh bahasa yang memiliki hanya pasif personal, dan tidak memiliki pasif impersonal adalah bahasa Inggris. Tidak mungkin adanya klausa seperti *There was sung beautifully, atau *There was slept a great deal. Ciri sintaksis yang khas dari bahasa ini mungkin saja ada hubungannya dengan tiadanya pembedaan, secara sintaksis, antara verba intransitive penindak dan verba pengalam. Misalnya saja, kedua jenis verba intransitif itu menyeleksi verba bantu haveuntuk kala perfekta (I have sung—verba penindak—dan I have fallen—verba pengalam)

I.   Sistem akusatif: pasif dan ”promosi” Argumen Objektif
Secara tradisional ada ”kaidah” pemasifan yang berbunyi begini: dalam pemasifan, Objek klausa aktif dijadika Sujek klausa pasif, dan tampak dalam kasus normatif. Misalnya, Objek akusatif him dalam klausa aktif The police found himmenjadi nominative he dalam pasif He was found by the police. Dewasa ini kaidah tersebut dirumuskan kembali oleh para penganut :”Tatabahasa Relasional” dengan mengatakan bahwa, dalam penafsiran, Objek akusatif klausa aktif “dipromosikan” menjadi Sujek nominative.

J.  Sistem akusatif: pemasifan verba bervalensi tiga
Dalam bahasa Belanda, Objel Benetaktif klausa aktif tidak dapat dijadikan Subjek klausa pasif, hanya Objek Pasien saja yang dapat ”dipromosikan”. Sebalikanya, dalam bahasa Inggris, baik Objek Pasien maupun Objek Benefaktif yang terdapat dalam klausa aktif dapat ”dipromosikan”—tetapi tidaklah kedua-duanya: pendek kata, tak ada ”Subjek rangkap”.

K.  Sistem diatesis dalam tipologi ergatif
Sistem diatesis dalam tipologi ergatif biasanya menjangkau diatesis ergatif dan diatesis antipasif; diatesis ergatiflah yang merupakan diatesis ”kanonik”. Antipasif dibentuk dengan ”pengawatransitifan” verba (biasanya dengan afiks, yang namanya ”afiks antipasif”), dan bervalensi dua atau (bila ketransitifannya amat rendah) satu. Tidak ada ”promosi” apa-apa, dan susuan Argumen tetap sama.

Dalam diatesis ergatif, Subjek ajentif bermarkah dengan kasus ajentif (yang namanya kasus ”ergatif”) atau dengan perujukan silang pada verba yang berupa afiks ajentif (atau ”ergatif” juga namanya)—atau dengan kedua-duanya. Kasus Objek adalah kasus absolutif dan tidak bermarkah; verba sering diberi pemarkahan perujukan silang absolutif (dan tidak untuk ergatif). Dalam konstruksi ergatif, kedua Argumen adalah wajib, dalam konstruksi antipasif, objek (yang obliknya itu) dapat dilesapkan.

L.  Sistem diatesis tipologi ergatif: pasif
Di antara bahasa-bahasa yang bertipologi ergatif, keergatifannya bersifat bauran, yaitu suatu refleksif dengan makna pasif.
Contoh dalam bahasa Indonesia ada klausa pasif (bentuk verbanya dicetak tebal).
Inilah buku yang saya beli, bukan bulu yang kamu beli.
Para mahasiswa diharapkan lapor pada sekretaris jurusan.
Rumah itu tidak dapat dijual.

Dalam contoh (a) pasifnya disertai oleh proklitika ajentif (saya dan kamu) dan konstituen ajentif berupa frasal dalam contoh (c), sedangkan pada (c) tidak ada konstituen ajentif sama sekali. Diatesis dalam ketiga contoh itu adalah pasif.

SINTAKSIS KLAUSA: SISTEM KALA, ASPEK DAN MODUS

1

Sistem verbal atau sistem kala-aspek-modus (KAM) dalam sintaksis klausa  tidak hanya menyangkut kaidah morfologis. Berikut penjelasan tiap sistem:

Sistem Kala

Terdapat bahasa yang tidak memiliki pemarkahan morfologis yang bersifat paradigmatis dan bukan derivasional.

Terdapat bahasa yang perfrastis.

Kala menunjukkan waktu keadaan/tindakan yang diungkapkan oleh verba pada saat penuturan.

Sistem Aspek

Pemarkahan morfologis verbal tanpa verba bantu jarang ditemukan tetapi bisa ditemukan pada predikat perifratis.

Terdapat bahasa dengan aspek verbal yang berciri morfologis pada bahasa-bahasa Slav.

Aspek menunjukkan segi arti verba yang berkaitan dengan permulaan, ketika terjadi, diulang tidaknya/terdapat hasil atau tidak tindakan tersebut.

Sistem Modus

Mengungkapkan sikap penutur terhadap apa yang dituturkan, kepastian, kesangsian, pertanyaan,pengingkaran dan pandangan riil tidaknya fungsi verba.

Ada beberapa yang tidak memiliki sistem kala morfologis (misalnya bahasa Indonesia).

Bahasa yang mempunyai dua kala bersifat “preterit“ dan “nonpreterit“ (ex. Bahasa Indian Amerika).

Terdapat juga kala “preterit rangkap“ yang terbagi menjadi ”preterit dekat dan preterit lama (ex. Bahasa asli Papua Nugini).

Susunan kala merupakan hubungan satu kala dengan kala yang lain.

Pada bahasa yang tidak bersistem kala secara morfemis (didalam konteks), pengartian kala terletak pada konstituen periferal yang sesuai.

Berikut contoh datanya:

Bahasa Indonesia

(1)   Kami berapat kemarin dulu. [preterit]

(2)   Saya lahir pada tahun 1940. [preterit]

(3)   Mereka sudah selesai makan. [perfekta]

(4)   Pesawat udara telah mendarat. [perfekta]

Keterangan:

Pada kutipan (1) dan (2) pada data kemarin dulu dan pada tahun 1940 merupakan periferal leksikal.

Pada data (3) dan (4) yaitu sudah dan telah, kata sudah bisa disebut periferal leksikal karena dapat dipakai secara klausal. Misalnya:

Apakah dia sudah datang? (sudah) (secara klausal)

Sudahlah! (klikika emfatis)

Sudahkah? (interogatif)

Saya sudah tidak mampu lagi. (negasi)

Kata telah lebih bersifat gramatikal karena tidak bisa menempati fungsi leksikal periferal. Berikut pembuktiannya:

Apakah dia telah datang? (Telah)

Telahlah selesai

Telahkah?

Saya telah tidak mampu lagi

Sudah akan menempati peran modal jika dikontraskan dengan kata belum yang mencerminkan harapan atau rasa khawatir atau sangkaan dari pihak penutur. Ex. Sudah belum?

Telah merupakan aspek, karena merupakan konstituen pada predikat.

Jika tanpa pemarkahan morfemis verbal, maka sistem kala hanya bisa diaplikasikan secara leksikal saja. Sedangkan penggunakan ’partikel’ akan menonjolkan kegramatikalan sistem kala. Sehingga dasar dari sistem kala adalah sistem aspektual dan modal.

Bentuk yang tidak bermarkah dari verba statif mengandung makna kala present (saat ini).

Sedangkan sistem kala secara terperinci dapat ditemukan pada data (Bahasa Inggris) berikut:

(5) The workers went on strike because negotiations had failed. [preterit, anterior]

(6) That year they had been married twenty-five years. [anterior]

(7) Next year they will have been married twenty-five years. [future anterior]

(8) Tomorrow I {will go / am going} downtown. [future]

(9) Later he {will write / *writes} those letters. [future]

Keterangan.

–   Pada data diatas preterit anterior direferensikan pada preterit sebelumya: had failed direferensikan pada went.

–   Perfekta lebih mengacu kepada aspek bukan kala.

–   Pada data (7) lebih tepat disebut sebagai future perfect.

–   Pada data (9) dapat dilihat bahwa bentuk future harus diberi pemarkah verba Bantu.

–   Pada data (8) merupakan bentuk perfect progressive.

Aspek-aspek verbal dapat dibagi dalam beberapa jenis, sbb:

Permulaan: terdapat verba inkoatif, yang berfungsi mengetahui inti awal verba.

Penyelesaian: terbagi menjadi dua yaitu: perfektif dan imperfektif, yang menyatakan selesai tidaknya tindakan atau berlaku tidaknya keadaan.

Hasil: terbagi atas resultatif dan non-resultatif, menyatakan ada tidaknya hasil tindakan atau proses.

Keberlangsungan: terbagi atas durative dan progresif, menyatakan berlansungnya tindakan atau proses.

Pengulangan: berupa iterative, menyatan sesuatu yang terjadi berulang kali. Contoh: memukuli, berasal dari afiks me + pukul +i.

Kebiasaan: berupa habituatif, menyatakan suatu tindakan sebagai suatu kebiasaan.

Keterikatan pada saat tak terbagi: berupa pungtual, menyatakan terjadinya sesuatu pada saat yang tak terbagi. Contoh: jatuh, mengerlingkan mata.

Keadaan: berupa statif, menyatakan keadaan tidak berubah, tanpa proses dan tanpa ada yang dihasilkan.

Aspek verbal dapt bersifat leksikal apabila arti leksikalnya menjadi dasar dan berdasarkan afiks derivasional.

Berikut Evidensi data dari aspek verbal sintaksis:

Bahasa Inggris

(10) I {shave/ *am shaving} every morning. [habituatif]

(11) He {spoke/ *has spoken} to his sister yesterday. [preterit]

(12) He has spoken to his sister (*yesterday). [preterit]

(13) They are going home tomorrow. [future]

(14) They {have been going /*have gone} there for months. [iterative]

(15) We had a {swim / walk / drink}. [pungtual]

(16) I am not about to do that. [inkoatif]

Keterangan.

Pada data (10), dapat diketahui bahwa aspek habituatif berkenaan dengan penggunaan pada verba progresif tidak gramatikal

Pada data (11) hal yang merujuk pada masa lampau tidak menggunakan perfect tetapi preterit.

Pada data (12), perfect dapat digunakan apabila tidak ada peripheral keterangan waktu secara pungtual yang resultatif.

Pada data (13) menunjukkan bentuk future tetapi bukan progresif.

Data (14) menunjukkan resultatif secara leksikal. Have been going merupakan data yang tidak gramatkal. Sedangkan have gone bersifat iterartif, yaitu orang yang diacu pada subjek they telang pergi berulang kali.

Data (15) menunjukkan frasa to have a [+merupakan verba yang dinominalisasi. Menunjukkan penggunaan waktu yang terbatas.

Pada data (16), about to menunjukkan sifat inkoatif dari verba yang mengikutinya.

Modus verbal pada klausa terdapat beberapa jenis yaitu: deklaratif dan interogatif, afirmatif dan negatif, desideratif (optatif/dubitatif), kepastian atau kesangsian, sifat pandangan real atau ireal, sifat hortatif dan imperatif.

Klausa interogatif (ex. Apakah dia sudah berangkat?), beroposisi dengan klausa deklarative (ex. Dia sudah berangkat). Berdasarkan kedua tipe tersebut dapat dijelaskan  bahwa klausa deklaratif merupakan modus yang tak bermarkah dan secara gramatikal (secara sintaksis dan morfologis) tidak memiliki bentuk khusus. Sehingga klausa interogatif merupakan sintaksis khusus yang mempunyai dua bentuk yaitu: yes/no question  (pertanyaan yang membutuhkan jawaban ya/tidak, disebut juga pertanyaan polar) dan WH-question (why, what, which, who, whose, whom, dan how, disebut juga pertanyaan non-polar). Berbagai bahasa mempergunakan juga susunan beruntun dengan Subjek sesudah Predikat untuk menandai pertanyaan. Dalam bahasa Inggris memiliki verba bantu do/does untuk interogatif (kecuali untuk verba bantu dan verba to be). Sedangkan dalam bahasa Indonesia memiliki klitika-kah dalam pertanyaan.

Klausa negatif (ex. Para mahasiswa tidak setuju) beroposisi dengan klausa afirmatif (Para mahasiswa setuju). Klausa afirmatif adalah modus yang tak bermarkah. Modus negatif pada klausa dianggap sama dengan negasi Predikat. Cakupan negasi dapat menjadi struktur yang lebih kecil dari klausa misalnya frasa atau bahkan satu kata saja. Pada klausa Kamu harus pergi bukan ke Jakarta melainkan ke Bandung , yang menjadi cakupan penegasi bukan adalah frasa ke Jakarta.

Beragam alat negasi yaitu: diklitikan pada verba, berupa partikel relatif bebas secara morfologis. Sehingga negasi (klausal) dapat berbentuk konstituen inti (argumen) dan konstituen luar inti (periferal). Contoh data sbb:

Jepang

(17) Koko ni hon wa arimas – en.

Sini di buku PT ada      NEG

Di sini buku itu tidak ada

Inggris

(18) They {are not/ are’nt} coming.

(19) They will never do this right.

(20) Nobody came early.

(21) We saw nothing.

Perancis

(22) Ils ne sont      pas venus.

3:J   NEG  VBKP:3:J:KPR NEG datang

Mereka tidak datang [perf]

Itali

(23) Non    ne so      nulla.

NEG  dari: itu tahu:1:T:KPR    Neg: apa-apa

Saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

Keterangan.

Pada bahasa Jepang, negasi berupa klitika –en, pada bahasa Inggris penegasinya adalah not, yang juga dapat dienklitikakan pada verba bantu (17).

Negasi dapat berupa adverbial temporal (never, (19)),  subjek negative (nobody, (20)), dan obyek negative (nothing, (21)).

Pada bahasa perancis negasi konstituen berupa ne+verba+pas. Sedangkan pada bahasa itali ditemukan negasi rangkap yaitu: non+verba+nulla (23).

Dalam beberapa bahasa modus desideratif atau optatif berupa morfologis tampak pada paradigma verba contohnya seperti dalam bahasa

Yunani Kuno dan Jepang. Biasanya digunakan untuk kalimat pujian atau mengagungkan. Contoh modus subjungtif berperan sebagai optatif, sbb:

Latin

(24) Viv at rex

Hidup    3:T:KPR:SJ:AKT   raja

’Hidup Raja!’

Jerman

(25) Er    leb-e hoch

3:M:T     hidup    3:T:KPR:SJ tinggi

’Semoga ia hidup!’

Inggris

(26) Long live-ø       the queen.

Lama hidup:3:T:KPR:SJ    ART:DEF  ratu

Hidup Sri Ratu!

Indikatif ‘Ia hidup’ pada bahasa latin adalah vivit, dalam bahasa Jerman: lebt, dalam bahasa Inggris: lives. Pada bahasa lain juga bisa terdapat konstituen khusus optatif advebia dan verba Bantu khusus. Misalnya:

Indonesia

(27) Semoga Ia berhasil.

Belanda

(28) Mog-    e hij morgen slagen

VB:3:T:OPT 3:M:T besok lulus:INF

Semoga ia lulus besuk.

Inggris

(29) May he    be successful

Semoga 3:T:M   KOP:INF bersukses

Semoga ia sukses

Alat modus desideratif atau optatif biasa ditemukan pada verba Bantu yang mengandung makna ingin, dapat/mampu, boleh dan harus. Contoh kata dalam bahasa Inggris yaitu: want to, wishes to, can, may, must.

Modus irealis adalah modus yang dimarkahi, beroposisi dengan modus realis, yang tidak bermarkah dan tidak berbeda dari modus deklaratif. Modus subjungtif dalam beberapa bahasa menjadi alat modus irealis, sedangkan pada beberapa bahasa yang lain juga yang menjadi modus irealis adalah verba bantu atau konstituen. Contohnya sbb:

Jerman

(30) (Man sagt) Karl sei krank

(Katanya)  Karl KOP:3:T:KPR:SJ sakit

Katanya si Karl sakit

Belanda

(31) Hij    moet ziek   zijn

3:M:T   VBIR   sakit   KOP:INF

Katanya ia sakit

Inggris

(32) He            is supposed      to be ill.

3:T:MVBP:3:T:IND  andaikan:PAP PINF KOP:INF sakit

Katanya dia sakit.

Pada data (30) bentuk subjungtif sei menunjukkan bahwa penutur tidak mau terikat pada benar tidaknya berita bahwa Karl sedang sakit.

Dalam bahasa Belanda digunakan verba bantu moeten ‘harus’ (merupakan contoh verba modal irealis), sedangkan pada bahasa Inggris terdapat struktur verba supposed to. Selain itu juga ada tipe kalimat menyatakan ketidakriilan tetapi bisa sebagai sebuah kemungkinan yang terjadi pada saat lampau, misalnya:

(52) That would not have been necessaryItu    VBIR NEG VBKP KOP:INF mutlakHal itu memang tidak mutlak seperti itu.

Konstruksi tersebut dalam bahasa Indonesia mengandung klausa bawahan yang diawali dengan: kalau seandainya atau kalau sekiranya.

Modus imperative merupakan modus yang digunakan untuk memerintah atau menyuruh melakukan sesuatu, biasanya bisa disebut juga modus ekshortatif atau hortative. Modus imperative hortative dapat berupa morfemis yang disertai konstituen khusus. Contohnya sbb:

(34) Ambil buku itu! (Indonesia)

(35) (You) go away! (Inggris)

Leave a Reply