Minggu yang lalu, dengan dua hari libur, hanya ada dua berita kecil yang patut diberi catatan. Berita pertama datang dari Departemen Sumber Daya Energi dan Mineral, yang menyebut bahwa pemerintah sedang mengkaji apakah Indonesia masih wajar menjadi anggota OPEC. OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) adalah asosiasi negara-negara pengekspor minyak bumi, kalau petroleum bisa diterjemahkan dengan minyak bumi. Indonesia terang merupakan negara pengekspor minyak bumi, walaupun tidak dalam skala besar. Produksi minyak bumi pernah mencapai 1,3 juta barrel sehari, akan tetapi sekarang jatuh sedikit di bawah 1 juta barrel sehari. Sebabnya adalah karena sumur-sumur minyak bumi sudah tua, dan sejak krisis 1998 praktis tidak ada eksplorasi baru karena sistim insentipnya tidak memadailagi.

Di lain fihak konsumsi BBM setiap tahun naik. Kenaikannya tergantung dari harga-harga BBM dalam negeri dan dari laju pertumbuhan ekonomi, terutama sektor modernnya (sektor industri, transport, pelistrikan). Laju pertumbuhan konsumsi ini antara 5 dan 7%. Kalau laju pertumbuhan 7% setahun maka setiap 10 tahun konsumsinya dobel (rumus sederhana adalah 72 dibagi laju pertumbuhan tahunan menjadi doubling time). Oleh karena produksi minyak bumi semakin kurang dan konsumsi senantiasa naik, maka pada suatu waktu Indonesia menjadi net importer minyak bumi. Titik ini sudah tercapai mulai tahun ini. Maka apakah Indonesia lalu tidak wajar lagi menjadi anggota OPEC? Sebetulnya, urgensinya (untuk keluar) tidak besar.
1
Indonesia menjadi anggota OPEC praktis sejak organisasi ini didirikan, dan pelopor dari Indonesia waktu itu adalah Dr. Ibnu Sutowo. Apa untungnya untuk Indonesia? Sebetulnya, “keuntungannya” lebih banyak politik. Indonesia kecipratan gengsi politik OPEC yang memang diperhitungkan di dunia. Tetapi, yang berpengaruh menentukan harga di OPEC adalah negara-negara produsen yang besar, seperti Arab Saudi, Iran dan Irak. Tetapi, negara Indonesia cukup besar sehingga suaranya diperhitunghkan. Kadang-kadang Indonesia juga bisa memainkan peran sebagai penengah (moderation) antara negara Arab yang sering sikapnya keras, yakni Saudi, Iran, Irak dan Lybia, yang sering bersaingan pengaruh satu dengan lainnya.

Indonesia juga merupakan negara pengekspor gas alam kelas wahid. Lagipula, konsumsi dalam negerinya masih kecil. Maka sebetulnya Indonesia berhak, atau wajar, tetap menjadi anggota OPEC karena secara keseluruhan (minyak bumi dan gas alam) masih merupakan eksportir, dan tetap akan demikian di dasawarsa sekarang. Tingkat produksi minyak bumi pun masih bisa pulih kembali kalau sistim insentip lebih  baik.  Maka apa yang harus menjadi alasan kuat kalau Indonesia mau keluar dari OPEC? Sebetulnya tidak ada dasar yang kuat. Memang ada biayanya, yakni iuran OPEC yang $ 2 juta setahun, yang dulu dibayar Pertamina. “Biaya” lain adalah biaya waktu kalau menteri dan dirjen migas setiap kali harus menghadiri pertemuan OPEC. Indonesia merupakan negara pertambangan, akan tetapi hasil tambang minyak dan gas bumi jauh lebih penting (dalam ukuran pendapatan negara dan devisa) ketimbang pertambangan umum, seperti tembaga, emas, nikel dan bauxit.
Apakah keuntungan politik cukup besar? Ini subyektip. Tergantung apakah Indonesia memandang Timur Tengah penting? Sangat penting juga tidak, akan tetapi juga tidak bisa diremehkan. Maka mungkin kesimpulan adalah: sebetulnya pilihan, tetap menjadi anggota atau keluar, tidak terlalu penting. Karena Indonesia

2

sudah telanjur menjadi anggota OPEC maka mungkin ada baiknya diteruskan saja. Kecuali kalau pimpinan Departemen SDEM mau kasih shock therapy kepada masyarakat Indonesia: awas lho, kita bukan net exporter minyak bumi lagi, maka hematlah pemakaian BBM. Apakah peringatan demikian efektip, sebagai argumentasi menaikan harga BBM, tatkala perlu, tidak bisa dipastikan.. Berita lain yang wajar mendapat catatan kecil adalah: kalangan Bappenas memproyeksikan pendapatan per kapita Indonesia tahun 2025 mencapai US$ 6000. Kalau ini benar angka resmi (menurut info sebetulnya baru wacana aspiratip yang keluar di suatu seminar) maka Bappenas bisa kehilangan kredibilitasnya (Bappenas “ngelamun”). Seandainya pendapatan per kapita sekarang sekitar $ 1000 setahun maka kalau laju pertumbuhan ekonomi bisa langgeng 7% setahun terus menerus, dan laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,2% setahun, maka baru setelah 25 tahun mencapai empat kali lipat, artinya menjadi sekitar $ 4000 per kapita, kira-kira seperti Malaysia sekarang. Maka lebih aman untuk tidak pasang angka (ekonomi) sebagai sasaran jangka jauh, karena terlalu tergantung perkembangan politik dan sosial. Angka sasaran jangka menengah saja, yaitu angka-angka Presiden SBY ketika masih berkampanye, diragukan oleh beberapa kalangan.

3

Artikel
OPEC menipu masyarakat dunia dengan data stock minyak

“Peak-Oil” adalah fenomena yang banyak orang belum ketahui atau menyadari; dan seberapa parah “peak-oil” bisa merusak ekonomi dunia masih banyak diberdebatkan oleh “ahli ahli energi” dunia.

Banyak “ahli-energi” membuat kesimpulan masing masing dengan mempelajari data data dari setiap negara mengenai posisi stock minyak di masing masing negara. Satu hal yang sangat sering dilupakan adalah verifikasi dari data data tersebut, para peneliti data biasanya tidak bisa atau tidak boleh memakai prediksi sendiri dan akan mengunakan data yang dikeluarkan oleh masing-masing negara secara resmi.

Nah…disitu terjadi satu masalah yang sangat besar di organisasi OPEC.

Opec adalah organisasi terdiri dari 13 negara anggota (lihat http://www.opec.org/library/FAQs/aboutOPEC/q3.htm) yang didirikan untuk mengatur dan menstabilkan harga minyak di dunia. Ketigabelas negara ini adalah kelompok negara terbesar yang bersama menghasilkan jumlah minyak terbesar di dunia.

Tujuan untuk menstabilkan harga minyak dunia tercapai dengan sistem yang sangat mudah sbb:

1) harga minyak turun……..kecilkan supplai dengan mengecilkan produksi…..atas kesepakatan bersama setiap negara menutup beberapa kran…dan harga akan naik.

2) harga minyak naik……..besarkan supplai dengan memperbesar produksi…..atas kesepakatan bersama setiap negara membuka beberapa kran…dan harga akan turun.

Sistem ini berfungsi selama sumber-sumber yang telah “dipantek” adalah sumber-sumber yang tidak ada habisnya…tetapi sayangnya itu tidak berlaku lagi saat sekarang….semua sumber-sumber besar telah mulai mencapai puncak atau sudah mencapai puncak produksinya beberapa tahun lalu…..jadi membuka krannya lebih lebar tidak akan lagi menghasilkan minyak extra…dan dengan demikian harga minyak tidak dapat di-kontrol lagi…

Mengapa begitu banyak ahli belum mau menyatakan hal ini?

Karena data yang mereka pakai untuk menghitung situasi supplai harus didasarkan atas data resmi dari negara negara OPEC; dan data ini sebenarnya adalah jauh dari kenyataan.

Mengapa bisa begitu jauh dari kenyataan?

Hal ini berhubungan dengan urusan intern dari OPEC sendiri; kelompok 13 negra mempunyai satu misi; dan tentu masing-masing negara juga punya kepentingan sendiri. Misalnya Indonesia sangat membutuhkan dana untuk membiayai subsidi-subsidi energi agar masyarakat kecanduaan sama energi bersubsidi dan akan memilih presiden yang tetap menjanjikan mempertahankan subsidinya.

Jadi kepentingan untuk Indonesia adalah untuk mendapatkan jumlah Quota sebesar mungkin dari total quota yang disepakati di OPEC. Karena setiap negara anggota tentu mau mendapatkan bagian quota sebesar mungkin; anggota OPEC membuat kesepakatan bersama untuk membagi se-adil mungkin quota masing masing….dan kesepakatan yang tercapai di tahun 1985 adalah untuk memberi quota sebagai percentase dari ”proven reserves” yang dimiliki masing masing negara.

Misalnya quota disepakati 1 % dari reserves; dan Indonesia misalnya mengakui punya 100Miliar barrel dalam tanahnya dan Venezuela menyatakan punya 5milliar barrel; Indonesia akan mendapat quota sebesar 1 milliar barrel dan Venezuela akan dapat 0,5 Milliar barrel.

Nah…disini terletak titik permasalahannya…cara mengaudit kebenarana dari data yang setiap negara memberi tidak dibuatkan dan itu membuat masing masing negara meningkatkan “proven reserves” makin besar.

Misalnya Kuwait di tahun 1984; satu tahun sebelum kesepakat quota dibuat mempunyai 63.9 milliar barrel; tahun berikutnya setelah kesepakatan Kuwait mengakui “proven reserves” adalah 90 milliar (hampir 50% peningkatan….impossible…lah…ha…ha…winking. Iraq dalam tahun 86 mempunyai 47 milliar barrel dan tahun 87 mengakui mempunyai 100 milliar barrel (100% peningkatan dalam setahun….hebohhh…..)….dan kemudian setiap negara setiap tahun mulai memperbesar data-data dari “proven reserves” dan data tersebut tidak boleh di-audit oleh siapa siapa dan secara resmi diperlakukan sebagai “state secret” di semua negara anggota OPEC http://www.kuwaittimes.net/read_news.php?newsid=MTQxNzYwMDMxNQ Negara negara produksi minyak diluar OPEC pasti juga tidak memberi data tepat….apalagi perusahaan raksasa minyak….karena nilai saham mereka juga tergantung dari data-data “proven reserves” yang sangat sulit diverifikasi….(banyak skandal seperti “overstatement dari oil reserves terjadi di dunia business minyak)

Hal ini telah membuat keadaan dunia jauh lebih bahaya karena data yang dianggap terpercaya ternya tidak benar dan situasi yang sebenarnya bisa ternyata jauh lebih parah daripada kita pikirkan atau para ahli cerminkan.

Karena kebohongan ini; krisis raksasa telah menunggu kita semua dan mudah-mudahan para pemimpin negara dan pemimpin dunia mulai menyatakan situasi sebenarnya….karena tanpa pengetahuan situasi sebenarnya krisis akan makin dalam dan tidak terkendali lagi.

Sekarang telah datang waktunya untuk mengakui kebohongan selama ini untuk menyelamatkan bangsa dari krisis lebih parah.

Siapkan diri mengahapi krisis yang luar biasa besarnya….mulai menyadarkan diri mengenai energi dan cara para pemimpin lama menyalahgunakan energi (dan khususnya energi bersubsidi agar alternatif tidak dapat bersaign) sebagai alat kekuasaan. (anda yang mengerti alat “polinomics” akan bisa melawan terulang lagi)

Masyarakat yang sadar energi dapat membantu membangun kebali ekonomi yang rontok akibat kelakuan penipuan pemimpin dunia lama….

Bangun….Bangun….Banggggguuunn……!

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari

Bendera OPEC

Markas OPEC di Wina.

OPEC (singkatan dari Organization of the Petroleum Exporting Countries; bahasa Indonesia: Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi) adalah organisasi yang bertujuan menegosiasikan masalah-masalah mengenai produksi, harga dan hak konsesi minyak bumi dengan perusahaan-perusahaan minyak.

OPEC didirikan pada 14 September 1960 di Bagdad, Irak. Saat itu anggotanya hanya lima negara. Sejak tahun 1965 markasnya bertempat di Wina, Austria.

[sunting] Anggota

[sunting] Afrika

Aljazair (1969)

Angola (1 Januari 2007)

Libya (Desember 1962)

Nigeria (Juli 1971)

[sunting] Asia

Arab Saudi (negara pendiri, September 1960)

Iran (negara pendiri, September 1960)

Irak (negara pendiri, September 1960)

Kuwait (negara pendiri, September 1960)

Qatar (Desember 1961)

Uni Emirat Arab (November 1967)

[sunting] Amerika Selatan

Ekuador (1973-1993, kembali menjadi anggota sejak tahun 2007)

Venezuela (negara pendiri, September 1960)

[sunting] Anggota yang keluar

Gabon (keanggotaan penuh dari 1975-1995)

Indonesia (anggota dari Desember 1962-Mei 2008)

Pada Mei 2008, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan surat untuk keluar dari OPEC pada akhir 2008 mengingat Indonesia kini telah menjadi importir minyak (sejak 2003) atau net importer dan tidak mampu memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan.

[sunting] Kemungkinan jadi anggota

Suriah, Sudan, dan Bolivia (ketiga negara ini sudah diundang oleh OPEC untuk bergabung)

Brazil (Ingin bergabung setelah ditemukan cadangan minyak yang besar di Atlantik)

OPEC – Organization of the Petroleum Exporting Countries

Secara otomatis, 5 negara tersebut pun dikatakan sebagai pendiri OPEC. Setelah resmi berdiri, ada 9 negara lain secara satu per satu menjadi anggota OPEC:

1. Qatar (1961)
2. Indonesia (1962)
3. Republik Sosialis Libya (1962)
4. Emirat Arab (1967)
5. Algeria (1969)
6. Nigeria (1971)
7. Ekuador (1973) – Keluar dari keanggotaan pada Desember 1992 sampai Oktober 2007
8. Angola (2007)
9. Gabon (1975-1994)

Dengan demikian, pada saat artikel ini dibuat (7 Agustus 2008) total OPEC memiliki 13 anggota, yaitu: Iran, Irak, Kwait, Arab Saudi, dan Venezuela. Sejak pertama kali didirikan OPEC berpusat di Genewa, Swiss. Namun, sejak 1 September 1965 kantor pusat OPEC pindah ke Vienna, Austria.

Visi OPEC
Visi dari OPEC adalah untuk mengkoordinasi dan menyeragamkan kebijakan industri perminyakan diantara negara-negara anggota, agar dapat memberikan harga yang stabil dan fair bagi produsen minyak; persediaan yang efisien, ekonomis, secara teratur dan berkelanjutan kepada negara – negara pengkonsumsi minyak; dan return on investment yang bagus bagi pihak-pihak yang berinvestasi di industri ini.

Undang – undang OPEC
Saudara, apabila Anda ingin mempelajari secara mendetail tentang organisasi ini, Anda dapat mengunjungi www.opec.org. Di sini saya akan bahas secara garis besar mengenai struktur organisasinya, frekuensi konferensi yang diadakan, dan informasi esensial lainnya.

1. Setiap negara yang memiliki net ekspor untuk minyak, dapat menjadi anggota OPEC dengan persetujuan ¾ anggota dan 5 negara pendiri (Iran, Irak, Kwait, Arab Saudi, dan Venezuela) menyetujui.

2. OPEC terdiri dari 3 struktur utama:

  1. 1. The Conference: merupakan otoritas tertinggi di organisasi ini, terdiri dari delegasi dari negara-negara anggota OPEC. Delegasi minimal 1 orang dari setiap negara. Apabila dalam hal delegasi ada 2 atau lebih, harus ditunjuk kepala delegasi. The Conference dilakukan secara rutin 2 kali dalam setahun. Terkecuali dalam keadaan tertentu, bisa diadakan The Conference lebih dari 2 kali dalam setahun.

    2. The Board of Governors: terdiri atas beberapa governor yang dipilih oleh anggota OPEC. The Board of Governors bisa melakukan pertemuan yang biasa diistilahkan dengan meeting of The Board of Governors dan harus dihadiri oleh semua governor yang telah ditunjuk dan minimal 2/3 dari anggota OPEC

    3. The Secretariat: berkewajiban untuk menjalankan fungsi eksekutif sesuai dengan perundang-undangan dibawah pengawasan The Board of Governors.

Berikut merupakan bagan dari struktur organisasi di OPEC:
Gambar 1 Tampilan Struktur Organisasi OPEC


Produsen dan Konsumen OPEC
Tanpa harus panjang lebar kami akan memberikan referensi tabel dan peta mengnai produsen dan konsumen OPEC
Gambar 2 Tampilan Tabel Produsen & Konsumen

Negara-negara yang berada pada posisi vertikal adalah negara produsen OPEC sedangkan negara-negara pada posisi horizontal merupakan konsumen OPEC. Mungkin gambaran peta di bawah ini akan semakin memperjelas Anda
Gambar 3 Tampilan Flow Produsen & Konsumen
Belajarforex says:
Fungsi OPEC dalam menjaga stabilitas ekonomi adalah salah satu hal yang paling crucial. Ya! Stabilitas ekonomi. Walaupan tidak sepenuhnya benar, tetapi peran minyak dalam perekonomian sangat berpengaruh. Dengan adanya OPEC, pihak-pihak yang berkepentingan (dalam hal ini negara produsen dan negara konsumen minyak) dapat merasa lebih nyaman sebab ada stabilitas harga. Produsen mendapat harga yang wajar untuk minyaknya dan konsumen membayar harga yang wajar pula untuk minyak yang akan dikonsumsinya.

References:
www.opec.org

OPEC Pertahankan Kuota Produksi

19 Mar 2010

WINA – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan mempertahankan kuota produksi minyaknya. Hasil pertemuan OPEC pada Rabu lalu (17/3) juga menyebutkan, mereka tidak akan mengadakan pertemuan lagi setidaknya hingga 14 Oktober mendatang. Hal ini menandakan bahwa dalam kurun waktu tersebut tidak akan ada fluktuasi harga dan produksi secara mencolok.

Dalam pernyataannya, OPEC memutuskan, “Mempertahankan batas produksi minyak saat ini tidak berubah.” Meskipun demikian, “Mengingat ketidakpastian dalam lingkungan ekonomi makro dan permintaan minyak dunia, sekretariat akan terus memantau dengan cermat perkembangan pada bulan-bulan mendatang.” OPEC, yang menandai ulang tahun ke-50 pada tahun ini, mengatakan, pihaknya akan meninjau situasi ekonomi di pertemuan biasa berikutnya di Wina pada 14 Oktober.

“Kita harus sangat berhati- hati karena yang kita lihat pada saat ini. Itu tidak benar-benar menggambarkan pertumbuhan (ekonomi),” kata Sekjen OPEC, Abdalla Salem El-Badri, Rabu. “Banyak uang yang dipertaruhkan ke pasar dan pertumbuhan yang terlihat saat ini disebabkan paket stimulus. Cina memiliki paket stimulus, demikian juga Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang,” lanjutnya.

Dengan keputusan OPEC, berarti kartel ini mempertahankan batas atas [ceiling) produksinya pada 24,84 juta barel per hari. OPEC yang memproduksi 40 persen dari produk minyak mentah dunia ini menyebutkan ketidakmenentuan kondisi makroekonomi dan juga permintaan minyak global.

Reaksi pasar

Dari New York, dilaporkan bahwa harga minyak naik tajam seusai keputusan OPEC. Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman April, naik 1,23 dolar menjadi 82,93 dolar per barel. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei melompat 1,43 dolar menjadi 81,96 dolar per barel.

John Kilduff dari Round Earth Capital mengatakan, pertemuan OPEC itu “mendukung harga”. Ia mengatakan, karena minyak mentah sudah di atas 80 dolar per barel, OPEC seharusnya mulai bicara tentang meningkatkan produksi. Jika tidak, pasar dinilainya akan bereaksi.

Ellis Eckland, seorang analis independen, menunjuk kekuatan kenaikan saham di Wall Street sebagai batu loncatan untuk harga minyak. Hal ini terjadi sehari setelah Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat-Red) mengatakan, pihaknya akan mempertahankan tingkat suku bunga mendekati nol pada suatu periode panjang agar mendukung pemulihan AS.

“Orang-orang menjadi lebih percaya diri pada pemulihan global dan lebih yakin bahwa fakta Fed tidak akan menaikkan suku bunga yang bullish untuk komoditas,” kata Eckland. Sementara itu, pasar minyak menjadi tenang oleh publikasi dari laporan mingguan terbaru mengenai persediaan energi Pemerintah AS. Pada Rabu, Departemen Energi AS (DoE) mengungkapkan bahwa cadangan minyak mentah Amerika naik satu juta barel dalam pekan yang berakhir pada 12 Maret. Menurut analis yang disurvei oleh Dow Jones Newswires, hal ini cocok dengan ekspektasi pasar.

Timbunan sulingan, yang termasuk bahan bakar disel dan pemanas, berkurang 1,5 juta barel. Para analis memperkirakan penurunan satu juta barel. Namun, persediaan bensin menyusut 1,7 juta barel yang dinilai merosot dari perkiraan para analis, yaitu 600.000 barel. antara. d yeyen ros

Entitas terkaitAmerika | Cina | Ellis | Fed | Kontrak | Mempertahankan | Mengingat | New | OPEC | Organisasi | Pemerintah | Reaksi | Sekjen | Timbunan | WINA | Abdalla Salem | Dari New | Dow Jones | Federal Reserve | John Kilduff | Wall Street | Brent North Sea | Departemen Energi AS | Negara Pengekspor Minyak | Round Earth Capital | OPEC Pertahankan Kuota Produksi | Ringkasan Artikel Ini

Dalam pernyataannya, OPEC memutuskan, “Mempertahankan batas produksi minyak saat ini tidak berubah.” OPEC, yang menandai ulang tahun ke-50 pada tahun ini, mengatakan, pihaknya akan meninjau situasi ekonomi di pertemuan biasa berikutnya di Wina pada 14 Oktober. OPEC yang memproduksi 40 persen dari produk minyak mentah dunia ini menyebutkan ketidakmenentuan kondisi makroekonomi dan juga permintaan minyak global. Ia mengatakan, karena minyak mentah sudah di atas 80 dolar per barel, OPEC seharusnya mulai bicara tentang meningkatkan produksi. Pada Rabu, Departemen Energi AS (DoE) mengungkapkan bahwa cadangan minyak mentah Amerika naik satu juta barel dalam pekan yang berakhir pada 12 Maret.

Leave a Reply

*


− 1 = zero

Current day month ye@r *